Urip Sumoharjo – Biografi Sang Pahlawan Nasional Indonesia

Posted on

Urip Sumoharjo – Biografi Sang Pahlawan Nasional Indonesia

Urip Sumoharjo sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, nama pahlawan yang satu ini banyak di abadikan untuk nama jalan dan juga bangunan di banyak wilayah di Indonesia.  Jenderal Urip Sumoharjo semasa hidupnya beliau dikenal sebagai Kepala Staf TNI ( Tentara Nasional Indonesia ) yang pertama pada masa awal Kemerdekaan Indonesia. Beliau memiliki banyak peran dalam terbentuknya Tentara Nasional Indonesia ( TNI ) dapat dikatakan beliau adalah sebagai salah satu dari pendiri TNI. Beliau dilahirkan pada tanggal 22 Februari 1893 di Desa Sindurjan, Purworejo yang ketika itu masih dalam wilayah Hindia Belanda. Ketika lahir beliau diberi nama Muhammad Sidik yang kemudian waktu kecil diganti dengan nama Urip Sumoharjo. Ayah beliau bernama Soemohardjo dan ibunya merupakan putri dari seorang bangsawan, Bupati Trenggalek. Urip Sumoharjo memiliki saudara berjumlah lima orang.  Semasa kecilnya Urip Sumoharjo dikenal sebagai seorang anak yang nakal akan tetapi beliau mempunyai kemampuan dalam memimpin.

Biodata Urip Sumoharjo Pahlawan Nasional Indonesia

Nama :Jenderal Urip Sumoharjo
Nama Lahir :Muhammad Sidik
Tempat , tanggal lahir :Purworejo, 22 Februari 1893
Wafat :Yogyakarta, 17 November 1948
Agama :Islam
Istri :Rohmah Soebroto
Anak :Abby ( Anak Angkat )
Pangkat :
  • Letnan Jenderal
  • Jenderal ( Anumerta )
  • Operasi Revolusi Nasional Indonesia
Tanda Kehormatan/Penghargaan :
  • Bintang Sakti ( 1959 )
  • Bintang Mahaputra ( 1960 )
  • Bintang Republik Indonesia Adipurna ( 1967 )
  • Bintang Kartika Eka Pakci Utama ( 1968 )
  • Pahlawan Nasional Indonesia

 

 

Profil Urip Sumoharjo

Riwayat Masa Kecil

Urip Sumoharjo memulai sekolah dasarnya di sekolah khusus suku Jawa, dimana kepala sekolahnya pada saat itu adalah ayahnya sendiri, akan tetapi karena kenakalannya , orang tuanya kemudian memasukkan beliau ke Europese Lagere Meisjesschool atau yang dikenal sebagai sekolah Putri Belanda , orang taunya berharapan agar kenakalan Urip Sumoharjo dapat hilang dan juga agar beliau dapat belajar bahasa Belanda dengan baik. Selama satu tahun beliau berada di sekolah tersebut , perlahan kelakuannya kemudian berubah, sehingga kemudian beliau dikirim ke Sekolah Putra akan tetapi prestasinya tetap buruk.

Pada tahun 1908, Urip pindah ke Magelang untuk melanjutkan sekolahnya di OSVIA ( Opleidingschool Voor Inlandse Ambtenaren ) atau yang dikenal dengan sekolah pendidikan pegawai negeri dengan harapan supaya nanti dapat mengikuti jejak kakeknya sebagai seorang Bupati.  Akan tetapi meninggal ibunya pada tahun 1909, membuat Urip Sumoharjo menjadi depresi yang membuatnya lebih banyak menyendiri.

Baca Juga :   Profil Dan Biografi Deddy Corbuzier Terbaru Dan Terlengkap

Sebelum lulus dari OSVIA, Urip Sumoharjo mengambil keputusan dengan mengikuti akademi militer di Kota Batavia tepatnya di Meester Cornelis. Sang ayah Soemohardjo  sangat tidak setuju dengan keputusan beliau , ia bahkan membujuk putranya dengan memberikan uang sebesar 1000 Gulden agar putranya kembali bersekolah di OSVIA. Akan tetapi keputusan putranya tersebut sudah bulat sehingga ayahnya terpaksa menyetujui keputusan Urip Sumoharjo.

 

Masuk Akademi Militer KNIL Belanda

Urip Sumoharjo lulus dari Akademi Militer pada tahun 1914 dengan pangkat letnan dua di KNIL ( Koninklijk Nederlands Indische Leger ), beliau bertugas selama 25 Tahun di KNIL beliau juga berpindah-pindah tempat dalam bertugas, seperti Banjarmasin, Boerneo, kemudian pindah ke Balikpapan. Selama berada di Kalimantan , dari Balikpapan beliau kemudian pindah ke Samarinda, Tarakan hingga Malinau. Lama di Kalimantan , beliau kemudian pindah ke Jawa, tepatnya di kampung halamnnya yaitu Purworejo. Pada tahun 1925, beliau ditugaskan ke Magelang dan memimpin sebuah unit militer KNIL bernama Marechaussee te Voet.

Dimagelang pula beliau menikah dengan seorang wanita yang bernama Rohmah Soebroto, putrid dari guru bahasa Jawa dan Melayu Urip ketika masih bersekolah. Beliau menikah pada tanggal 30 Juni 1926. Dan di Magelang pula beliau menggunakan nama ayahnya yaitu Urip Sumoharjo, kemudian beliau di tugaskan ke Ambarawa untuk melatih Prajurit Lokal, beliau naik promosi menjadi kapten.

Pada bulan Juli 1928 Urip cuti dari kegiatan militer dan berkeliling Eropa dengan istrinya, setelah kembali dari Eropa beliau kemudian di tugaskan  di Meester Cornelis.Kemudian sang ayah meninggal dunia pada tahun 1933 dan beliau ditugaskan ke padang panjang di pulau Sumatera, akian tetapi tidak lama disana beliau kemudian Ke Eropa lagi, sepulangnya dari Eropa, beliau kemudian naik pangkat sebagai Mayor dan menjadi seorang pribumi pertama dengan pangkat tertinggi di KNIL.

Urip Sumoharjo ditempatkan di Purworejo, akan tetapi karena berselisih dengan Bupati disana , beliau kemudian akan di pindahkan ke Gembong, akan tetapi Urip menolak pemindahan tersebut dan memilih untuk keluar dari KNIL dan tinggal di Yogyakarta di rumah mertuanya.

Bersama istrinya, Urip menghabiskan banyak waktu dalam berkebun bunga dan hidup dari uang pensiunnya sebagai perwira KNIL. Urip Sumoharjo diketahui mengadopsi seorang anak yatim piatu bernama Abby keturunan Belanda dari sebuah panti asuhan di Semarang pada tahun 1940.

Sampai kemudian ketika Jerman menginvasi Eropa termasuk Belanda, Urip kemudian kembali ke KNIL dan berangkat ke Bandung markas KNIL. Beliau kemudian dipindahkan ke Cimahi untuk membangun unit pasukan yang baru sebagai antisipasi saat Jepang yang menjadi sekutu Jerman kala itu akan menyerang Hindia Belanda ( Indonesia ).

Baca Juga :   Profil Jenderal TNI ( Purn. ) Luhut Binsar Pandjaitan, MPA – Menko Maritim

 

Ditangkap Oleh Jepang

Ketika Jepang menguasai Hindia Belanda pada tahun 1942, Urip Sumoharjo ditangkap dan kemudian di penjara di kamp tawanan perang di Cimahi. Beliau dipenjara selama tiga bulan, setelah bebas beliau ditawari untuk membentuk pasukan dibawah naungan Jepang akan tetapi Urip menolak, beliau lebih memilih kembali ke rumahnya di Gentan dan melanjutkan kegiatannya dalam berkebun.

Di villanya , beliau banyak dikunjungi oleh perwira-perwira mantan anggota KNIL seperti A.H Nasution yang biasa memberinya kabar mengenai kependudukan Jepang pada saat itu. Setelah berakhirnya kependudukan Jepang di Indonesia dan Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, Urip Sumoharjo kemudian pindah ke Yogyakarta di rumah mertuanya. Pada tahun yang sama BKR ( Badan Keamanan Rakyat ) didirikan oleh pemerintahan Indonesia dan Urip bertugas memimpin beberapa komandan militer dan mendesak agar dibentuk sebuah formasi militer nasional. Kemudian atas keputusan Presiden Soekarno dan wakilnya Mohammad Hatta berubah menjadi organisasi kepolisian.

 

Menjadi Kepala Staf Pertama TKR ( Tentara Keamanan Rakyat ) Cikal Bakal TNI

Untuk memperkuat pertahanan nasional TKR ( Tentara Keamanan Rakyat ) terbentuk pada tanggal 14 Oktober 1945, dan Urip Sumoharjo menjadi kepala Staf pertama TKR ( Cikal Bakal Tentara Nasional Indonesia ( TNI )). Di TKR , tugas Urip Sumoharjo adalah untuk menyusun persiapan dalam menghadapi serangan Belanda yang diketahui akan merebut kembali Indonesia. Kemudian markas TKR kemudian dipusatkan di Yogyakarta.

Selama memimpin TKR, Urip Sumoharjo berupaya merangkul  kembali perwira KNIL Yang berasal dari Pribumi untuk bergabung dengan TKR. Akan tetapi hak tersebut memunculkan kecurigaan dari para perwira nasionalis lainnya. Pada tanggal 20 Oktober 1945, Urip berada di bawah perintah Menteri Pertahanan , akan tetapi Urip merasa diawasi sebab latar belakangnya yang berasal dari perwira KNIL Belanda .

Meskipun BKR berada dibawah kendali Urip, akan tetapi angakatan perang tersebut masih banyak yang bersifat kedaerahan dan banyak anggota BKR yang tidak menerima perintah dari pusat sebab para anggota BKR berasal dari PETA ( Pembela Tanah Air ) yang dibentuk oleh Jepang dan bersifat kedaerahan.

Pada tanggal 12 November 1945, Jenderal Sudirman terpilih sebagai panglima angkatan perang Indonesia mengalahkan Urip yang mempunyai banyak pengalaman dalam bidang militer. Ketidak terpilihnya beliau sebagai panglima militer dikarenakan latar belakang beliau sebagai bekas perwira KNIL. Akan tetapi jenderal Sudirman berketetapan mempertahankan Urip Sumoharjo dalam struktur organisasi militer Indonesia, beliau bahkan diangkat sebagai kepala staf , beliau bertugas dalam hal penenangan masalah teknis dan juga oragnisasi militer.

Baca Juga :   Biografi Chairil Anwar – Kisah Sang Penyair Terbaik Indonesia

Kemudian TKR menjadi Tentara Keselamatan Rakyat dan kemudian menjadi Tentara Republik Indonesia pada tahun 1945 di bulan Januari, Urip Sumoharjo kemudian menjadi panitia besar yang melakukan reorganisasi di badan militer Indonesia, kemudian Urip bertugas melakukan perampingan di tubuh militer Indonesia.

Setelah Belanda berniat untuk menyerang Indonesia, Urip kemudian menyusun kekuatan untuk menyerang Belanda akan tetapi tindakan beliau tersebut gagal setelah pemerintah Indonesia berdiplomasi dengan Belanda melalui perjanjian Renville.

Kurang percayanya Urip Sumoharjo terhadap militer membuat beliau akhirnya memutuskan untuk keluar dan mengundurkan diri, akan tetapi beliau masih di percaya sebagai penasihat menteri pertahanan dan juga penasihat wakil presiden Mohammad Hatta dibidang militer. Ketika Amir Sjarifudin sebagai menteri pertahanan pada saat itu mulai mengumpulkan tentara-tentara yang berhaluan kiri, Urip Sumoharjo kemudian mulai menaruh curiga dan melakukan kecaman atas tindakan tersebut.

Akhirmya usaha beliau bersama Jenderal Sudirman yaitu menggabungkan pasukan dari kalangan masyarakat umum atau biasa disebut laskar tentara dan TRI ( Tentara Nasional Indonesia ) berhasil pada tanggal 2 Juni 1947 dan kemudian resmi bergabung dengan nama TNI ( Tentara Nasional Indonesia ), Urip Sumoharjomendirikan sebuah sebuah akademi militer untuk merekrut calon-calon tentara untuk Republik Indonesia yang berdiri di Yogyakarta.

 

Urip Sumoharjo Wafat

Kondisi kesehatan Urip Sumoharjo yang terus melemah dan dirawat oleh Dr. Sim Ki Ay , akan tetapi pada tanggal 17 November 1948 , Urip Sumoharjo wafat setelah penyakit jantung menyerangnya selain itu beliau juga mengidap penyakit TBC. Tanggal 18 November 1948 Urip Sumoharjo dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarata dan pangkatnya di naikan menjadi Jenderal secara Anumerta. Urip Sumoharjo tiadak mempunyai keturunan atau anak kandung, adapun anak angkatnya yaitu Abby juga meninggal dunia setelah tiga tahun Urip Sumoharjo wafat tepatnya pada tahun 1951 karena penyakit malaria dan kemudian menyusul Istri Urip Sumoharjo yaitu Rohmah Soebroto yang wafat di tahun yang sama pada bulan Oktober.

Urip Sumoharjao kemudaian diberi gelar Pahlawan Nasioanl bersamaan dengan Jenderal Sudirman oleh pemerintah melalui keputusan presiden Soekarno pada tahun 1964. Nama beliau kemudian banyak digunakan sebagai nama jalan di banyak wilayah di Indonesia.

 

Baca Juga :