Categories
PAHLAWAN NASIONAL TOKOH INDONESIA ULAMA

Biografi Hasyim Asyari – Pahlawan Nasional Indonesia Pendiri Nahdlatul Ulama

Biografi Hasyim Asyari – Pahlawan Nasional Indonesia Pendiri Nahdlatul Ulama

Hasyim Asyari / Kyai Haji Mohammad Hasyim Asy’arie adalah salah satu tokoh Pahlawan Nasional Indonesia yang merupakan pendiri NU / Nahdlatul Ulama, dimana organisasi ini adalah  organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia. Di kalangan ulama pesantren dan Nahdliyin  beliau  dijuluki dengan sebutan Hadratus Syeikh yang berarti maha guru.

K.H. Hasjim Asy ‘ ari belajar mengenai dasar – dasar agama dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman yang juga pemimpin Pesantren Nggedang di Jombang. Sejak usia 15 tahun,  beliau berkelana  dalam menimba ilmu di berbagai pesantren, antara lain Pesantren Trenggilis di Semarang, Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Siwalan di Sidoarjo dan Pesantren Kademangan di Bangkalan.

Pada tahun 1892, K.H. Hasjim Asy’ari pergi  untuk menimba ilmu ke Mekah, serta berguru pada Syekh Muhammad Mahfudz at – Tarmasi, Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Ahmad Amin Al – Aththar, Syekh Ibrahim Arab, Syekh Said Yamani, Syekh Rahmaullah, Syekh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As – Saqqaf, dan Sayyid Husein Al – Habsyi.

Pada tahun 1899, sepulangnya dari Mekah, KH Hasyim Asyari mendirikan sebuah pesantren yaitu  Pesantren Tebu Ireng, yang kelak menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada abad 20. Pada tahun 1926, KH Hasyim Asyari menjadi salah satu pemrakarsa berdirinya Nadhlatul Ulama ( NU ), yang berarti kebangkitan ulama. Hasyim Asyari sendiri lahir di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, pada tanggal  10 April 1875. Beliau  meninggal dunia di Jombang, Jawa Timur, 25 Juli 1947 pada umur 72 tahun dan beliau di makamkan di Tebu Ireng, Jombang. Berkat perannya dalam  mendirikan Nahdlatul Ulama dimana pada akhirnya organisasi ini sangat membantu kehidupan masyarakat indonesia dalam berbagai bidang, tidak heran jika K.H. Hasjim Asy’ari termasuk salah satu tokoh yang sangat berpengaruh dalam kehidupan bangsa indonesia

Baca Juga :

Categories
TOKOH INDONESIA ULAMA

Profil Habib Lutfi bin Yahya – Ulama Yang jadi Wantimpres

Profil Habib Lutfi bin Yahya – Ulama Yang jadi Wantimpres

Pada tanggal 13 Desember 2019 , Presiden Joko Widodo resmi melantik Habib Lutfi bin Yahya  sebagai salah satu dari Sembilan Anggota Wantimpres ( Dewan Pertimbangan Presiden ) untuk periode 2019 – 2024.

Pemilik nama lengkap Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya dikenal sebagai seorang ulama yang  kharismatik. Beliau lahir di Pekalongan, 72 tahun yang  silam.

pemimpin majelis Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah (Jatman) terpilih sebagai pemimpin Forum Ulama Sufi Sedunia atau Al Muntada’ Sufi Al ‘Alami.

Ulama yang pernah mondok di Pondok Pesantren Roudlotul Mubtadiin Balekambang Jepara ini terpilih secara aklamasi dalam Konferensi Ulama Sufi Internasional di Pekalongan, Jawa Tengah.

Nama anggota Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini juga pernah masuk dalam 50 tokoh Islam paling berpengaruh versi The Royal Islamic Strategic Studies Centre.

Dengan kharisma yang dimiliki oleh beliau  Habib Luthfi bin Yahya disegani oleh banyak orang. Tidak sedikit elite politik yang segan kepada beliau.

Baca Juga :

Categories
TOKOH MUSLIM ULAMA

Biograi Gus Muwafiq , Kiai Muda NU Pakar Sejarah

Biograi Gus Muwafiq , Kiai Muda NU Pakar Sejarah

Gus Muwafiq –  Beliau mempunyai nama lengkap Ahmad Muwafiq. Orang biasa menyebutnya dengan  Kiai Muwafiq, Gus Muwafiq atau Cak Afiq. Berbadan tinggi besar, kulitnya hitam kecoklatan serta  berambut gondrong.  Beliau  dulu kuliah di IAIN Jogjakarta dan menadi aktivis pergerakan. Pernah menjadi Sekjend Mahasiswa Islam se – Asia Tenggara. Selanjutnya  pada saat  Gus Dur menjadi presiden,  beliaupun  menjadi asisten pribadinya.

Selain selesai dalam soal agama karena alumnus pesantren,   beliau juga dikenal luas  dalam pemahaman politik dan sejarahnya.  Beliau juga, terkenal jadug atau kebal. Konon, pada saat  Gus Dur akan di lengserkan pada bulan  Mei 2001,  beliau  di depan pasukan berani mati, sendirian mengangkat mobil panser milik TNI dengan tangan kirinya. Peristiwa tersebut  kemudian di abadikan oleh wartawan dan menjadi headline di Kompas.

Dai untuk Millenial Zaman Now

Pertama, santri yang mumpuni, Gus Muwaffiq adalah  santri yang telah  lama mengenyam pendidikan pesantren  sebuah lembaga pendidikan tertua di Indonesia sehingga pemahaman keagamaan beliau mumpuni dan khas. Khasnya adalah pemahaman Islam yang di anut oleh mayoritas muslim Indonesia. Muslim Indonesia merupakan muslim yang menganut madzhab empat, khususnya Imam Syafi ’ i yang lebih dominan. Disamping  itu, Islam jebolan pesantren terbukti mampu “ kawin ” dengan tradisi dan budaya Nusantara.  Jadi, mengenai  khasanah Islam dalam al – Quran, hadits maupun kitab – kitab klasik, beliau mumpuni.

Kedua, paham sejarah dan hafal. Gus Muwafiq adalah sosok yang sadar dan paham sejarah. Karena dengan berpijak pada sejarah itulah kita sebagai umat Islam  dapat membangun masa depan. Dan beliau, paham sejarah baik dari teori penciptaan alam semesta, jaman nabi – nabi, sejarah Islam pasca Nabi Muhammad Saw. Geo – ekopol Internasional, hingga  sejarah Nusantara. Tidak hanya mengerti namun  memahami. Berbagai silsilah keilmuan, tokoh maupun dinasti beliau hafal di luar kepala.

Ketiga, Mantan aktivis,  Sebelum keliling dakwah seperti sekarang, beliau sudah  mumpuni menjadi aktivis kampus. Gus Muwafiq aktif di lingkaran PMII dan Mahasiswa NU. Pengembaran Intelektual dan “ Jalanan ”- nya beliau tempuh dari kota pelajar : di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, hingga  ke Mancanegara karena pernah menjadi Sekretaris Jenderal Mahasiswa Islam se – Asia Tenggara. Salah satu keunggulan aktivis muslim adalah mengetahui konsep ( dan wacana Islam kontemporer ), tahu medan, tahu peta politik, serta  bergelut dengan realitas. Wajar kalau beliau selain keliling Indonesia  beliau juga sering diundang ceramah ke luar negari.

Keempat, humoris,  Jangan heran jika  kamu berlama – lama menyimak pengajian beliau ( entah online maupun offline ), tidak bosan karena pembawaannya yang kocak serta  penuh dengan humor. Humor memang menjadi penting dalam suatu ceramah karena membuat jamaah tidak ngantuk, tidak jenuh dan juga  menjadikan otak kembali fresh.

Kelima, mudah dicerna. Bahasa yang beliau gunakan merupakan  bahasa para audiensnya. Apabila  di kampus dengan para mahasiswa atau akademisi, maka beliau  dapat dengan bahasa ilmiah. Apabila  dengan masyarakat awam, beliau bisa cerita dengan nalar, tradisi dan  juga psikologi umum masyarakat. Apabila  dengan para pemuda, beliau juga bisa santai serta mengetahui apa yang hits dan menjadi tantangan generasi muda hari ini.

Baca Juga :

Categories
TOKOH MUSLIM ULAMA

Biografi Dzun Nun Al-Mishri – Kisah Sang Sufi Besar

Biografi Dzun Nun Al-Mishri – Kisah Sang Sufi Besar

Dzun-Nun Al-Mishri  – Beliau adalah seorang tokoh sufi besar di abad ketiga Hijriah. Beliau, mempunyai  nama lengkap Abu al – Faidi Tsauban bin Ibrahim Dzu al – Nun al Mishri al – Akhimini Qibṭy,  beliau dilahirkan di Akhmim,  yaitu sebuah kota kuno  yang berada di tepi timur Sungai Nil dan dataran tinggi di Mesir, pada tahun 796 M ( 180 H ). ” Al – Mishri ” pada nama belakang Dzun – Nun berarti ” Mesir “, adalah  sebuah panggilan atau gelar terhadap beliau dari orang – orang yang memang banyak berasal dari non – Mesir.

 Beliau belajar, mengajar, mengembara serta  mengadakan banyak perjalanan di berbagai wilayah di Jazirah Arab, Maghreb, Palestina dan Syria ( Baghdad ). Salah satu murid beliau adalah Sahl Al – Tustari, yang merupakan  seorang sufi Persia yang memperkenalkan khazanah  mengenai  Nur Muhammad ( Hakikat Muhammadiyah ) di dunia Tasawuf.  Disebutkan juga  dalam  sebuah riwayat, bahwasanya Dzun – Nun memahami rahasia bahasa hieroglyph, sebuah sistem tulisan Mesir Purba yang banyak terdapat di berbagai piramida yang ada  Mesir dan peninggalan bangunan kuno di Mesir, yang bahkan hingga saat ini  tidak sepenuhnya terkuak makna apa  yang terdapat  di dalamnya. Beliau meninggal di Kairo pada tahun 856 M ( 246 H ). Dzun Nun Al – Misri sebagai seorang sufi yang terkenal dan juga  terkemuka di antara sufi – sufi lainnya pada abad 3 Hijriah.

Sebagai seorang ahli tasawuf, Dzu al – Nun memandang bahwa ulama-ulama Hadits dan Fikih memberikan ilmunya kepada masyarakat sebagai salah satu hal yang menarik tentang  keduniaan di samping sebagai obor bagi agama. Pandangan hidup nya yang cukup sensitif barangkali yang menyebabkan banyak yang menentang beliau . Tidak sampai di situ saja , bahkan para Fuqaha mengadukannya kepada ulama Mesir yang menuduhnya sebagai orang yang zindiq, hingga  pada akhirnya beliau  sampai memutuskan untuk sementara waktu pergi dari negerinya dan berkelana ke negeri lain. Jasa – jasa Dzun Nun yang paling besar adalah sebagai peletak dasar mengenai  jenjang perjalanan sufi menuju Allah Swt, yang disebut dengan  al – maqomat.

Ajaran beliau dalam  memberi petunjuk arah jalan menuju kedekatan dengan Allah Swt  yang sesuai dengan pandangan sufi. Selain  itu,  beliau  juga  merupakan pelopor doktrin al – ma ‘ rifah. Dalam hal ini  beliau  membedakan antara pengetahuan dengan keyakinan. Menurut beliau , pengetahuan merupakan hasil dari  pengamatan inderawi, yaitu apa yang ia bisa diterima melalui panca indera. Sedangkan keyakinan merupakan  hasil dari apa yang di pikirkan  atau di peroleh  dengan melalui intuisi.

 Beliau membagi tiga kualitas pengetahuan, yaitu :

  • Pengetahuan orang yang beriman mengenai  Allah Swt pada umumnya, yaitu pengetahuan yang didapat  melalui pengakuan atau syahadat.
  • Pengetahuan mengenai keesaan Tuhan melalui bukti – bukti serta  pendemonstrasian ilmiah dan hal ini merupakan milik dari  orang – orang yang bijak, pintar serta
  • Pengetahuan mengenai  sifat – sifat Yang Maha Esa, dan ini merupakan milik orang – orang yang sholeh ( wali Allah ) yang bisa mengenal wajah Allah Swt dengan mata hatinya. Pada saat  DZun Nun ditanya mengenai  bagaimana  beliau  mengenal Tuhan, maka beliupun  menjawab : “ Aku mengenal Tuhan karena Tuhan sendiri, kalau bukan karena Tuhan, aku tidak akan mengenal Tuhan ”.

 Dzun Nun menerangkan, bahwa ciri – ciri ma ‘ rifat tersebut  adalah seseorang  yang menerima segala sesuatu tersebut  adalah atas nama Allah Swt dan memutuskan bahwa segala sesuatu tersebut  dengan menyerahkan kepada Allah Swt,  dan  menyenangi  bahwa segala sesuatu hanya semata – mata karena Allah Swt. Dzun Nun al – Mishri berkata, “ Al – Ḥikmah tidak akan pernah tinggal pada seseorang yang dalam perutnya penuh dengan makanan ”. Pernah juga ditanya mengenai  taubat, lalu dijawab, “ Taubat orang awam merupakan  taubat dari perbuatan dosa, sedangkan tobat orang khusus adalah taubat dari kelengahan.

Baca Juga :

Categories
TOKOH INDONESIA TOKOH MUSLIM ULAMA

Biografi Fatahillah – Kisah Sang Pembebas Sunda Kelapa

Biografi Fatahillah – Kisah Sang Pembebas Sunda Kelapa

Disebut juga Faletehan, adalah  Panglima Pasukan Cirebon yang bersekutu dengan Demak dan berhasil menjadi penguasa Sunda Kelapa, dari kekuasaan Portugis pada tanggal 22 Juni tahun 1527. Sunda Kelapa kemudian oleh Fatahillah pada tanggal 22 Juni 1527 di ganti nama menjadi Jayakarta, Fatahillah membenci orang Portugis, karena mereka dengan bantuan syahbandarnya menaklukkan kota kelahirannya, yaitu Pasei di Aceh ( Sumatera ) pada tahun 1521.  Beliau  meninggal pada tahun 1570 dan dimakamkan di Cirebon.

Nama asli beliau adalah  Faddillah Khan atau Faletehan.  Beliau  juga di namai Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Berdasarkan jalan nya peristiwa sejarah yang di uraikan dalam Purwaka Caruban Nagari nama Fadhillah lebih memungkinkan untuk di samakan dengan berita Portugis yang menyebut Falatehan, demikian juga arti dari  Fadhillah sangat mirip dengan Fatahillah yang berarti juga “ kemenangan karena Allah ”. Menurut sumber “ Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari ” dan “ Negarakertabhumi ”, ayah Fatahillah dari Pasei adalah  seorang keturunan Arab dari Gujarat ( India ), Pada tahun 1521 Pasei berhasil direbut oleh Portugis, selanjutnya beliau  berlayar ke Mekah. Sekitar pada  tahun 1525  beliau  ke Jepara dan menikah dengan Nyai Ratu Pembayun ( adik Sultan Trenggana dari Demak ). Kemudian berturut – turut berhasil  menaklukkan daerah Banten dan Sunda Kalapa. Setelah kemenangan tersebut , kemudian Fatahillah menikah dengan Ratu Ayu ( puteri Sunan Gunung Jati ). Tidak diketahui secara pasti beliau  menguasai Jayakarta, akan tetapi  pada saat  akhir hidupnya berada di Cirebon dan dimakamkan di sana.

Fatahillah adalah  seorang tokoh penyebar agama Islam di Jawa Barat yang berhasil merebut Sunda Kelapa dari Portugis pada tanggal 22 Juni 1527. Kemudian beliau  mengganti nya menjadi Jayakarta, yang berarti “ kemenangan yang sempurna ”. Kota ini dalam perkembangannya berubah nama menjadi Jakarta dan pada tanggal 22 Juni menjadi hari jadi kota tersebut. Sifat perekonomian dan  perdagangannya mengandung unsur – unsur Islam atau syariah Islamiah.

Usahanya dalam  menegakkan Islam, baik dalam usaha pemerintahan maupun diplomasinya dengan raja – raja Islam menunjukkan bahwa  sebagai seorang ulama dan negarawan yang  mahir. Ketekunannya dalam memperjuangkan Islam serta kesungguhannya  dalam mengamalkan agama Islam, menjadikannya tergolong deretan Wali Sanga ( Wali Sembilan ). Beliau  dipandang sebagai Panglima Perang yang cakap dan gagah perkasa. Jasanya sangat besar serta pengaruhnya dalam memperluas wilayah dan penyebaran Islam terutama di pesisir air pantai utara Jawa. Selain Jakarta sebagai daerah dakwahnya adalah Kerajaan Demak, Banten, dan Cirebon. Itulah  mengapa sebabnya sejarah Fatahillah yang telah mendirikan Kota Jakarta tidak dapat dipisahkan dengan Kerajaan Demak, Cirebon, dan Banten. Sebagai penghargaan serta  peringatan akan jasa – jasanya, maka di Jakarta terdapat taman Fatahillah, dan sebagai lambang untuk melanjutkan cita – cita dakwah Islamnya dan juga  perjuangan nya menegakkan kebenaran dan  mengusir penjajah, maka namanya digunakan sebagai nama salah satu Perguruan Tinggi Islam di bawah Departemen Agama, yaitu IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang berlokasi di Ciputat.

Baca Juga :

Categories
TOKOH MUSLIM ULAMA

Biografi dan Profil KH Ma’ruf Amin

Biografi dan Profil KH Ma’ruf Amin

KH Ma’ruf Amin – Beliau adalah  seorang ulama yang sekarang  menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia ( MUI ) dan Ketua PBNU. Selain sebagai ulama beliau juga adalah  seorang politisi yang pernah menjabat sebagai Anggota MPR dan DPR mewakili partai PKB.

Biodata KH Ma’ruf Amin

Nama : Prof. DR . Kiai Haji Ma;ruf Amin
Tempat, tanggal lahir : Tangerang , 1 Agustus 1943
Orangtua : Mohamad Amin
Istri : Siti Churiyah, Wury Estu Handayani
Anak : Siti Haniatunnisa, Siti Makrifah
Profesi : Ulama dan Politisi

Biografi KH Ma’ruf Amin

KH Ma’ruf Amin dilahirkan pada tanggal 1 Agustus 1943 di Desa Kresek di wilayah Tangerang, Banten. Di kutip dari CNN Indonesia, bahwa dari silsilah keluarga KH Ma’ruf Amin adalah  keturunan dari ulama besar yang  berasal dari  Banten yang pernah menjadi imam Masjidil Haram  yang bernama Syeikh An Nawawi Al Bantani.

Keluarga KH Ma’ruf Amin

KH Ma’ruf Amin menikah dengan seorang wanita yang bernama Siti Huriyah yang juga berasal dari keluarga ulama pada tahun 1963. Dari pernikahannya tersebut  Ma’ruf Amin dikaruniai  dua orang anak. Anak KH Ma’ruf Amin bernama Siti Haniatunnisa, Siti Makrifah. Pada tahun 2013, istri beliau Siti Huriyah wafat. Sesudah  itu beliau menikah lagi dengan Wury Estu Handayani pada tahun 2014.

Riwayat Masa Kecil

Masa kecil Ma’ruf Amin lebih banyak di habiskan di desa Kresek, Tangerang. Ayah beliau  yang bernama KH. Mohammad Amin adalah  seorang ulama besar Banten. Aktifitas atau kegiatan Ma’ruf Amin semasa  kecil di waktu pagi hari  beliau  habiskan bersekolah di SD. kemudian sorenya harinya , beliau  habiskan belajar mengaji di Madrasah Ibtidaiah. Diketahui  bahwa Ma’ruf Amin sempat belajar agama selama beberapa bulan di Pesantren Citangkil, Cilegon, Banten milik KH. Syam’un Alwiah.

 

Belajar di Pesantren Tebu Ireng

Pada usia 12 tahun, Ma’ruf Amin pergi belajar ke Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur yaitu pada tahun 1955. Pesantren ini banyak melahirkan tokoh – tokoh ulama besar dari kalangan NU. Pendidikan Ma’ruf Amin di pesantren Tebu Ireng tersebut di mulai dari dasar. Setelah menyelesaikan  menimba ilmu di pesantren Tebu Ireng, Ma’ruf Amin kemudian  melanjutkan pendidikannya di Jakarta tepatnya di SMA Muhammadiyah. Akan tetapi pendidikan nya itu tersebut tidak di selesaikan.

Ma’ruf Amin memilih untuk kembali ke Banten dan lebih mendalami mengenai agama islam di berbagai pondok pesantren lagi. Mulai dari Pesantren Caringin, Labuan, serta Pesantren Petir, Serang, dan Pesantren Pelamunan, Serang.

Pindah Ke Jakarta

Setelah menikah dengan Siti Churiyah, beliau lalu  Pindah ke Jakarta dan menetap di Jakarta Utara. Disana Ma’ruf Amin kemudian melanjutkan pendidikannya dengan kuliah di Universitas Ibnu Khaldun Bogor di Fakultas Ushuludin. Beliau juga aktif dalam  organisasi Gerakan Pemuda Ansor Jakarta dan menjadi ketuanya pada tahun 1964.

Menjadi Anggota DPRD Jakarta

Berbekal dengan pengalamannya sebagai ketua GP Ansor Jakarta, Karir Ma’ruf Amin di politikpun menanjak. Beliau  berhasil menjadi anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi Golongan Islam pada gelaran pemilu 1971.KH Ma’ruf Amin diketahui bahwa  pada tahun 1989, nama Ma’ruf Amin mulai masuk di lingkaran PBNU sesudah  didaulat sebagai Khatib Aam Syuriah PBNU dalam sebuah Mukhtamar NU yang di gelar di Pesantren Krapyak.

Ikut Mendirikan PKB

Pasca lengsernya Presiden Soeharto pada tahun 1998, KH. Ma’ruf Amin menjabat sebagai ketua Tim Lima yang dibentuk oleh PBNU. Dari tim inilah kemudian lahir Partai Kebangkitan Bangsa atau PKB. Setelah Partai Kebangkitan Bangsa berdiri, KH. Ma`ruf Amin lalu  menjabat sebagai anggota MPR RI dari perwakilan Partai Kebangkitan Bangsa ( PKB ). Beliau  juga pernah menjadi seorang  Ketua Komisi VI DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa ( PKB ).

Ketua Majelis Ulama Indonesia ( MUI )

Setelah Gusdur lengser, KH. Ma’ruf Amin lalu lebih banyak menghabiskan aktifitasnya di Majelis Ulama Indonesia sebagai Ketua Komisi Fatwa MUI sejak  tahun 2001 sampai 2007. Beliau  yang di kenal sebagai seorang ulama yang kemudian selanjutnya membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada saat  itu menunjuk KH. Ma’ruf Amin masuk dalam Anggota Dewan Pertimbangan Presiden atau Watimpres.

Pengalamannya yang sangat banyak dalam  bidang agama serta politik berhasil  mengantarkan KH. Ma’ruf Amin menjabat sebagai Rais ‘Aam atau ketua umum PBNU sejak tahun 2015 sampai 2020. Selain itu beliau juga menjabat sebagai ketua MUI Pusat sejak  tahun 2015.

Diketahui  bahwa KH. Ma`ruf Amin tidak pernah mengenyam pendidikan master hingga ke jenjang doktor pada bidang agama. Akan tetapi  pengetahuan nya yang sangat luas mengenai  agama membuat beliau  tidak berbeda jauh dengan orang yang telah  bergelar doktor sehingga sangat wajar apabila beliau  memperoleh  gelar sebagai Professor Doktor.

Calon Wakil Presiden Indonesia

Pada bulan Agustus 2018, Nama KH. Ma’ruf Amin di tunjuk sebagai calon wakil presiden republik Indonesia yang mendampingi Joko Widodo sebagai calon presiden Indonesia pada pemilihan presiden yang di adakan  pada tahun 2019.

 

Menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia

Selanjutnya pemilihan presiden 2019, KPU ( Komisi Pemilihan Umum ) menetapkan KH. Ma`ruf Amin sebagai Wakil Presiden Indonesia terpilih dengan mendampingi Joko Widodo sebagai Presiden Indonesia.
KH. Ma`ruf Amin selanjutnya menggantikan Jusuf Kalla yang sebelumnya menjabat sebagai wakil presiden Indonesia. Beliau dilantik secara resmi sebagai Wakil Presiden Indonesia pada tanggal 20 Oktober 2019.

Baca Juga :

Categories
TOKOH MUSLIM ULAMA

Biografi Sunan Kalijaga

Biografi Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga – Beliau mempunyai nama aslinya Joko Said yang di lahirkan sekitar pada tahun 1450 M. Ayah beliau  adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban. Arya Wilatikta tersebut  adalah merupakan  keturunan dari pemberontak legendaris Majapahit, Ronggolawe. Riwayat masyhur mengatakan bahwa Adipati Arya Wilatikta telah  memeluk agama Islam sejak sebelum lahirnya Joko Said. Akan tetapi  sebagai seorang muslim, ia dikenal kejam dan  juga sangat taklid terhadap  pemerintahan pusat Majapahit yang menganut Agama Hindu. Ia juga menetapkan pajak yang  tinggi kepada rakyat. Joko Said muda yang tidak setuju dengan segala kebijakan Ayahnya sebagai seorang  Adipati yang  sering membangkang terhadap  kebijakan – kebijakan ayah nya.

Pembangkangan Joko Said terhadap  ayahnya mencapai puncaknya ketika beliau  membongkar lumbung kadipaten lalu  membagi – bagikan padi dari dalam lumbung tersebut  kepada rakyat Tuban yang ketika  itu sedang dalam keadaan kelaparan akibat kemarau yang  panjang. Karena tindakannya tersebut , Ayahnya kemudian menggelar sidang yang di adakan  untuk mengadili Joko Said serta  menanyakan alasan dari perbuatannya tersebut . Kesempatan tersebut  tidak di sia – siakan oleh Joko Said untuk mengatakan kepada ayahnya bahwa, karena alasan ajaran agama, beliau  sangat menentang kebijakan ayahnya untuk menumpuk makanan di dalam lumbung sementara itu  rakyatnya hidup dalam keadaan  kemiskinan dan juga kelaparan.

Ayahnya tidak bisa  menerima alasannya tersebut karena menganggap bahwa  Joko Said ingin mengguruinya dalam masalah agama. Karena hal tersebut , Ayahnya lalu  mengusir nya keluar dari istana kadipaten sambil  mengatakan bahwa beliau  baru boleh pulang apabila  sudah mampu menggetarkan seisi Tuban dengan bacaan ayat – ayat suci Al-Qur’an. Maksud dari  kaliamat menggetarkan seisi Tuban tersebut adalah  apabila  beliau  sudah mempunyai  banyak ilmu agama dan juga di kenal luas oleh  masyarakat karena ilmunya.

Riwayat masyhur selanjutnya  menceritakan bahwa setelah di usir dari istana kadipaten, Joko Said kemudian berubah menjadi seorang perampok yang terkenal dan juga  di takutiyang ada  di kawasan Jawa Timur. Sebagai seorang perampok, Joko Said selalu memilih korban nya secara  seksama. Beliau  hanya merampok orang kaya yang tidak mau mengeluarkan zakat dan juga  sedekah. Hasil  rampokannya tersebut , sebagian besarnya selalu beliau  bagi – bagikan kepada orang miskin. Di perkirakan ketika  menjadi  seorang perampok inilah, beliau  diberi gelar “ Lokajaya “ yang  artinya kurang lebih “ Perampok Budiman “.

Akan tetapi semuanya berubah ketika  Lokajaya alias Joko Said bertemu dengan seorang ulama , yaitu  Syekh Maulana Makhdum Ibrahim alias Sunan Bonang. Sunan Bonang tersebutlah  yang selanjutnya  mernyadarkan beliau  bahwa perbuatan baik tidak bisa  di awali dengan perbuatan sehingga Joko Said alias Lokajaya bertobat dan berhenti menjadi seorang perampok. Joko Said selanjutnya  berguru kepada Sunan Bonang hingga pada akhirnya di kenal sebagai ulama dengan gelar  “ Sunan Kalijaga “.

Da’wah Sunan Kalijaga adalah Da’wah Islam, Bukan Da’wah Kejawen atau Sufi-Pantheistik

Riwayat masyhur mengisahkan bahwa masa hidup Sunan Kalijaga di perkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Hal ini berarti bahwa beliau mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit yaitu pada  tahun 1478, Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon, Kesultanan Banten, bahkan sampai hingga  Kerajaan Pajang ( lahir pada 1546 ) serta pada awal kehadiran Kerajaan Mataram. Jika  riwayat ini benar, maka kehidupan Sunan Kalijaga adalah merupakan  sebuah masa kehidupan yang panjang.

Manuskrip – manuskrip dan juga babad – babad tua ternyata hanya menyebut – nyebut nama beliau hingga pada zaman Kesultanan Cirebon saja, yaitu  hingga ketika  beliau bermukim di dusun Kalijaga. Pada  kisah – kisah pendirian Kerajaan Pajang oleh Jaka Tingkir serta  Kerajaan Mataram oleh Panembahan Senopati, namanya tidak lagi di sebut – sebut. Logikanya adalah, jika  ketika  itu beliau masih hidup, maka tentunya  beliau akan di libatkan dalam masalah imamah yang ada di Pulau Jawa karena pengaruhnya yang luas di tengah masyarakat Jawa.

Fakta menunjukan bahwa makam nya berada di Kadilangu, dekat Demak, bukan di Pajang atau di kawasan Mataram ( Yogyakarta dan sekitarnya ) tempat – tempat di mana Kejawen tumbuh subur.  Riwayat – riwayat yang batil banyak menceritakan kisah – kisah aneh mengenai  Sunan Kalijaga selain kisah pertapaan sepuluh tahunnya  di tepi sungai. Beberapa kisah aneh tersebut  antara lain, bahwa beliau bisa terbang, dapat  menurunkan hujan dengan hentakan kaki, mengurung petir bernama Ki Ageng Selo didalam Masjid Demak dan juga  kisah – kisah lain.

Ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dan berbau Hindu – Budha serta Kejawen. Padahal fakta mengenai  kehidupan Sunan Kalijaga adalah Da ’ wah dan Syi ’ ar Islam yang indah. Bukti nya sangat banyak sekali. Sunan Kalijaga merupakan  perancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan juga Masjid Agung Demak.

Paham keagamaan Sunan Kalijaga merupakan  salafi  dan bukan sufi – panteistik ala Kejawen yang bermottokan “ Manunggaling Kawula Gusti “ . Hal ini terbukti dari sikap tegas beliau yang ikut berada dalam barisan Sunan Giri ketika  terjadi sengketa dalam masalah kekafiran Syekh Siti Jenar dengan ajaran nya yang  bahwa manusia dan Tuhan bersatu dalam zat yang sama.

Kesenian serta  kebudayaan hanyalah sarana yang dipilih oleh  Sunan Kalijaga dalam berdakwah. Beliau memang sangat toleran terhadap  budaya lokal. Akan tetapi  beliau pun mempunyai  sikap tegas dalam masalah akidah. Selama budaya masih bersifat transitif dan juga  tidak bertentangan dengan ajaran Islam, beliau menerimanya. Wayang beber kuno ala Jawa yang mencitrakan gambar manusia secara detail kemudian  di rubahnya menjadi wayang kulit yang samar serta  tidak terlalu mirip dengan citra manusia, karena pengetahuannya bahwa menggambar serta  mencitrakan sesuatu yang mirip dengan  manusia dalam ajaran Islam adalah haram hukumnya.

Cerita yang berkembang mengisahkan bahwa beliau kerap  bepergian keluar masuk kampung hanya untuk menggelar pertunjukan wayang kulit dan  beliau sendiri sebagai dalangnya. Semua yang menyaksikan pertunjukan wayang kuliatnya  tidak di mintai bayaran, akan tetapi hanya di minta mengucap dua kalimah syahadat. Beliau berpendapat bahwa masyarakat harus didekati dengan secara bertahap.

Beliau menggubah sendiri lakon – lakonnya, seperti  Layang Kalimasada, Lakon Petruk Jadi Raja yang semuanya mempunyai  ruh Islam yang kuat. Karakter – karakter wayang yang di bawakannyapun beliau tambah dengan karakter – karakter baru yang mempunyai  nafas Islam. Seperti , karakter Punakawan yang terdiri atas Semar, Bagong, Petruk, dan  juga Gareng merupakan  karakter yang sarat dengan unsur  Keislaman.

Seni ukir, wayang, gamelan, baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, dan juga  seni suara suluk yang di ciptakan oleh beliau  adalah merupakan sarana dakwah semata, bukan hanya budaya yang perlu di tradisikan sehingga berkarat dalam kalbu dan juga  dinilai sebagai ibadah mahdhah. Beliau juga  memandang semua itu sebagai  suatu metode semata, metode dakwah yang sangat efektif pada zamannya.

Secara filosofis, hal tersebut  sama dengan da ’ wah Rasulullah SAW yang mengandalkan keindahan syair Al Qur’an sebagai sebuah metode da’wah yang efektif dalam menaklukkan hati suku – suku Arab yang gemar berdeklamasi. Tidak bisa dipungkiri  bahwa kebiasaan keluar masuk kampung serta  memberikan hiburan gratis pada rakyat, dengan melalui berbagai pertunjukan senipun mempunyai  nilai filosofi yang sama dengan kegiatan yang biasa di lakukan  oleh Khalifah Umar ibn Khattab r.a. yang sering  keluar masuk perkampungan guna  memantau umat serta  memberikan hiburan secara langsung kepada rakyat yang membutuhkan nya

 Persamaan tersebut memperkuat bukti bahwa Sunan Kalijaga merupakan  pemimpin umat yang mempunyai  karakter, ciri, serta sifat kepemimpinan yang biasa di miliki oleh  para pemimpin Islam sejati, dan bukan ahli Kejawen.

Baca Juga :

Categories
TOKOH INDONESIA TOKOH POLITIK ULAMA

Biografi Buya Hamka – Ketua MUI Pertama

Biografi Buya Hamka – Ketua MUI Pertama

Buya Hamka – Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan julukan Hamka  adalah merupakan  seorang ulama, sastrawan, sejarawan, serta  politikus yang sangat terkenal di Indonesia. Buya Hamka  juga merupakan  seorang pembelajar yang otodidak pada  bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sosiologi, politik dan sejarah,  baik Islam maupun Barat. Hamka pernah ditunjuk sebagai menteri agama serta  aktif dalam perpolitik kan di Indonesia. Hamka dilahirkan  di desa kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, pada tanggal  17 Februari 1908 dan wafat  di Jakarta, pada tanggal  24 Juli 1981 dalam usia  73 tahun.

Hamka juga di berikan julukan  Buya, yaitu  sebuah panggilan untuk  orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayahku, atau  juga seseorang yang di hormati. Ayah beliau  adalah Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yang dikenal sebagai  seorang Haji Rasul, yang merupakan pelopor  dari Gerakan Islah ( Tajdid ) di Minangkabau, sepulangnya  dari Makkah pada tahun 1906. Beliau di besarkan dalam tradisi Minangkabau. Masa kecil Hamka  di penuhi  dengan gejolak batin karena ketika  itu terjadi pertentangan yang keras antara kaum adat dan juga kaum muda mengenai  pelaksanaan ajaran Islam. Banyak hal – hal yang tidak dibenarkan dalam Islam, namun  di praktikkan dalam kehidupan masyarakat sehari – hari. Putra dari Hamka  bernama H. Rusydi Hamka , yang merupakan kader PPP, dan anggota DPRD DKI Jakarta. Anak Angkat Buya Hamka adalah Yusuf Hamka , yaitu seorang chinese yang masuk Islam.

Riwayat Pendidikan Buya Hamka

Hamka mengawali pendidikannya  di Sekolah Dasar Maninjau, akan tetapi  hanya sampai kelas dua. Saat  berusia 10 tahun, ayah nya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Disitu Hamka mempelajari agama serta  mendalami bahasa Arab. Hamka  juga pernah mengikuti  sebuah pengajaran agama di surau dan juga  masjid yang di berikan oleh ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, dan  Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto serta  Ki Bagus Hadikusumo.

Sejak muda, Hamka sudah di kenal sebagai seorang pengelana. Bahkan ayahnya, memberikan  gelar Si Bujang Jauh. Ketika  usia 16 tahun beliau merantau ke Jawa untuk menimba ilmu mengenai  gerakan Islam modern kepada HOS Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo, serta  RM Soerjopranoto, dan KH Fakhrudin. Ketika  itu, HAMKA mengikuti berbagai diskusi serta training pergerakan Islam di Abdi Dharmo Pakualaman, Yogyakarta.

Riwayat Karier Buya Hamka

Hamka  bekerja sebagai seorang  guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan. Di tahun 1929 di Padang Panjang, Hamka lalu  dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang sejak  tahun 1957 sampai  1958. Sesudah  itu, beliau di angkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan juga Profesor Universitas Mustopo, Jakarta.

Sejak perjanjian Roem – Royen  pada tahun 1949, beliau  pindah ke Jakarta dan mengawali  karier nya sebagai seorang pegawai di Departemen Agama pada saat masa KH Abdul Wahid Hasyim. Ketika itu Hamka  kerap  memberikan kuliah di berbagai perguruan tinggi Islam yang asa di Tanah Air.

Sejak tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia. Pada tanggal  26 Juli 1977 Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali, melantik Hamka  sebagai Ketua Umum Majlis Ulama Indonesia akan tetapi beliau kemudian  meletakkan jabatan tersebut  pada tahun 1981 karena nasihat nya tidak di pedulikan oleh pemerintah Indonesia saat itu .

Riwayat Organisasi Buya Hamka

Hamka  aktif dalam gerakan Islam melalui organisasi Muhammadiyah. Beliau mengikuti pendirian Muhammadiyah yang di mulai pada tahun 1925 untuk melawan khurafat, bid’ah, tarekat serta  kebatinan sesat  yang ada di Padang Panjang. Sejak  tahun 1928 beliau mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929 Hamka  mendirikan sebuah pusat latihan pendakwah Muhammadiyah lalu  dua tahun selanjutnya beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar. Selanjutnya  beliau terpilih sebagai  ketua Majelis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat melalui  Konferensi Muhammadiyah, yang menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Pada tahun 1953, Hamka  di pilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiyah.

 

Aktivitas Politik Buya Hamka

Aktivitas  politik Hamka berawal pada tahun 1925 pada saat  beliau menjadi anggota partai politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu dalam menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato serta  menyertai kegiatan gerilya yang berada  di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, Hamka  kemudian di angkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia. Pada tahun 1955 Hamka  masuk Konstituante melalui partai Masyumi serta  menjadi pemidato utama pada  Pilihan Raya Umum. Pada masa inilah pemikiran dari Hamka  sering bergesekan dengan mainstream politik pada saat  itu. Seperti , saat  partai – partai yang  beraliran nasionalis dan komunis yang menghendaki Pancasila sebagai dasar negara. Pada  pidatonya di Konstituante, Hamka  menyarankan supaya  pada  sila pertama Pancasila di masukkan kalimat mengenai  kewajiban menjalankan syariat Islam bagi setiap  pemeluknya yang  sesuai dalam Piagam Jakarta. Akan tetapi , pemikiran Hamka  di tentang keras oleh sebagian besar anggota Konstituante saat itu , termasuk Presiden Sukarno. Perjalanan politik nya dapat  di katakan berakhir pada saat  Konstituante di bubarkan melalui Dekrit Presiden Soekarno pada tahun  1959. Masyumi selanjutnya  di haramkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Meskipun  demikian , namun Hamka  tidak pernah menaruh dendam terhadap Sukarno. Pada saat  Sukarno wafat, justru Hamkalah  yang menjadi imam salat nya. Banyak suara – suara yang berasal dari rekan sejawatnya  yang mempertanyakan tentang  sikap Hamka.

Sejak   tahun 1964 hingga tahun 1966, Hamka  di penjarakan oleh Presiden Soekarno karena di tuduh pro – Malaysia. Selama  di penjarakan, beliau mulai menulis Tafsir al – Azhar yang merupakan sebuah  karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, Hamka  di angkat sebagai anggota dari  Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, lalu anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia serta  anggota Lembaga Kebudayaan Nasional Indonesia. Di  tahun 1978, Hamka lagi – lagi berbeda pandangan dengan pemerintah. Pemicunya yaitu adalah keputusan dari  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef untuk mencabut ketentuan libur selama bulan  puasa Ramadan, yang sebelumnya telah  menjadi kebiasaan.

Idealisme dari seorang Hamka  kembali diuji pada  tahun 1980 Menteri Agama Alamsyah Ratu prawiranegara meminta  MUI agar mencabut fatwa yang melarang perayaan hari Natal bersama. Sebagai Ketua MUI, Hamka  langsung menolak keinginan tersebut . Sikap keras Hamka tersebut  kemudian di tanggapi  oleh Alamsyah dengan rencana pengunduran diri dari jabatan nya. Mendengar niat itu, Hamka  lalu  meminta Alamsyah untuk mengurungkan niatnya . Ketika  itu pula Hamka  memutuskan untuk mundur dari jabatannya sebagai Ketua MUI.

Aktivitas Sastra Hamka

Selain aktif dalam aspek  keagamaan dan politik, Hamka juga  merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan juga penerbit. Sejak tahun 1920an, Hamka  menjadi seorang  wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam serta  Seruan Muhammadiyah. Di  tahun 1928, beliau menjadi seorang editor majalah Kemajuan Masyarakat. Kemudian pada tahun 1932, beliau juga menjadi editor serta  menerbitkan majalah al – Mahdi di Makasar. Hamka  juga pernah menjadi seorang editor untuk  majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat serta  Gema Islam.

Hamka  juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan juga  karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya adalah  Tafsir al – Azhar ( 5 jilid ). Pada  tahun 1950, beliau  memperoleh  kesempatan untuk melawat ke berbagai negara di daratan Arab. Kembali  dari lawatan tersebut , Hamka kemudian  menulis beberapa roman.

Aktivitas Keagamaan

Setelah peristiwa  yang terjadi di tahun 1965 dan berdirinya pemerintahan Orde Baru, Hamka  secara total berperan sebagai  seorang ulama. Beliau telah  meninggalkan dunia politik dan sastra. Tulisan – tulisan beliau  di Panji Masyarakat telah  merefleksikan nya sebagai seorang ulama, dan hal  ini dapat  di baca pada rubrik Dari Hati Ke Hati yang sangat bagus penuturannya. Keulamaan dari Hamka lebih menonjol lagi pada saat beliau  menjadi ketua MUI pertama pada tahun 1975. Hamka  di kenal sebagai seorang moderat. Tidak pernah beliau mengeluarkan kata – kata keras, apalagi kasar dalam komunikasi nya. Beliau lebih suka memilih untuk menulis roman ataupun  cerpen dalam menyampaikan pesan – pesan moral Islam.

 

Wafatnya Hamka

Pada tanggal 24 Juli 1981 Hamka  menghembuskan nafas terakhirnya . Jasa serta  pengaruhnya masih terasa sampai saar ini  dalam memartabat kan agama Islam. Beliau bukan hanya  saja di terima sebagai seorang tokoh ulama serta  sastrawan di negara kelahiran nya, bahkan jasa beliau  di seantero Nusantara, termasuk Malaysia dan Singapura, ikut dihargai.

 

Penghargaan

Atas jasa dan karya – karya nya, Hamka sudah  menerima  sejumlah anugerah penghargaan, yaitu diantaranya  Doctor Honoris Causa dari Universitas al – Azhar Cairo pada tahun 1958, Doctor Honoris Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia pada tahun 1958, serta  Gelar Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia.

Baca Juga :

Categories
INDONESIA TOKOH MUSLIM ULAMA

Biografi Dan Profil  Ustadz Adi Hidayat, Lc, MA

Biografi Dan Profil  Ustadz Adi Hidayat, Lc, MA

Ustadz Adi Hidayat –  Nama ustadz Adi Hidayat di kenal sebagai salah satu Ustadz yang sedang populer di kalangan para netizen Muslim. Popularitas nya sebagai seorang pendakwah sedang meroket . Video – video ceramah beliau  banyak di tonton oleh jutaan kaum muslim yang ada di Indonesia.

Biodata Ustadz Adi Hidayat

Nama Lengkap : Adi Hidayat , Lc, MA
Tempat , tanggal lahir : Pandeglang , Banten , 11 September 1984
Orangtua : Warso Supena ( Ayah ), Hj. Rafiah Akhyar ( Ibu )
Saudara : Ade Rahmat , Neng Inayatin , Ima Rakhmawati, Ita Haryati
Profesi : Penceramah

Biografi Ustadz Adi Hidayat

Ustadz Adi Hidayat, Lc, MA dilahirkan di Pandeglang  , Banten pada tanggal 11 September 1984. Ayah beliau  bernama Warso Supena dan ibunya bernama Hj.Rafiah Akhyar. Adi Hidayat mempunyai  4 orang saudara.

Riwayat Masa Kecil

Ustadz Adi Hidayat mengenyam pendidikan awal di TK Pertiwi Pandeglang  pada tahun 1989. Sesudahnya , orang tua nya memasukkan nya di SDN Karaton 3 Pandeglang sampai  ke jenjang kelas 3 SD. Ketika  kelas 4 SD, Adi Hidayat pindah ke SDN III Pandeglang sampai  beliau  tamat SD. Semasa kecil nya, Adi Hidayat adalah seorang  siswa yang cerdas.

Mimpi Bertemu Rasulullah SAW

Terbukti  bahwa beliau  berhasil masuk dalam kelas unggulan di sekolah tersebut sekabupaten Pandeglang. Sebenarnya Adi Hidayat pada saat  itu akan masuk ke sekolah unggulan SMP 1 Pandeglang, Banten. Akan tetapi  karena beliau  menceritakan mimpinya yang bertemu dengan Rasulullah SAW kepada orang tuanya, maka selanjutnya  orang tuanya memasukkan anaknya tersebut  ke sekolah agama.

Adi Hidayat kemudian akhirnya melanjutkan pendidikan nya ke Madarasah Salafiyyah Sanusiyyah di  Pandeglang. Disana  Adi Hidayat di kenal sebagai seorang siswa yang  berprestasi yang pernah menjadi penceramah cilik saat  wisuda santri. Sesudah  tamat dari Madrasah, Adi Hidayat kemudian melanjutkan pendidikan nya di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyyah Garut pada  tahun 1997.

Di Ponpes tersebut , Adi Hidayat banyak mendapatkan  bekal ilmu agama secara lebih mendalam dan juga  pengetahuan lain nya. Di Ponpes tersebut  juga Adi Hidayat meraih sejumlah prestasi. Beliau  lulus dengan predikat Santri  Teladan.

Kuliah UIN Syarif Hidayatullah

Prestasinya yang cemerlang  tersebut membuat beliau  di terima masuk jalur PMDK pada  Fakultas Dirasat Islamiyyah ( FDI ) UIN Syarif Hidayatullah di  tahun 2003.

Belajar di Kuliyya Dakwah Islamiyyah Libya

Akan tetapi  dua tahun kemudian, yaitu tepatnya pada  tahun 2005, Adi Hidayat mendapatkan  kesempatan untuk melanjutkan pendidikan nya di Kuliyya Dakwah Islamiyyah di Tripoli, Libya. Di Libya, Adi Hidayat sangat intensif dalam  belajar  tentang agama islam mulai dari al – Qur ’an, Hadits, Fiqh, Ushul Fiqh, Tarikh, serta Lughah dan lain – lain. Beliau  juga semakin mendalami makna dari  Al-quran serta  Hadist dengan mengambil program khusus yang  bernama Lughah Arabiyyah wa Adabuha.

Belajar ke Berbagai Syaikh

Ustadz Adi Hidayat juga banyak bertalaqqi atau belajar tentang Al-qur’an dengan para ulama atau Syaikh yang beliau  temui di Libya dan juga negara lain yang pernah beliau  kunjungi.  Syaikh Dukkali Muhammad al – ‘ Alim ( Muqri Internasional ), Syaikh Ali al – Liibiy ( Imam Libya untuk Eropa ), Syaikh Ali Ahmar Nigeria ( Riwayat Warsy ), Syaikh Ali Tanzania ( Riwayat ad – Duri ) mengajarkan Adi Hidayat tentang  Alquran.

Sementara itu  Syaikh Usamah dari Libya juga mengajarkan beliau tentang  ilmu tajwid. Adapun syaikh Tanthawi Jauhari ( Grand Syaikh al – Azhar ) serta  Dr. Bajiqni ( Libya ) mengajarkan Adi Hidayat tentang  ilmu tafsir.

Dr. Shiddiq Basyr Nashr ( Libya ) menjarkan beliau  tentang  ilmu hadist. Dan Syaikh ar – Rabithi ( Mufti Libya ) dan juga Syaikh Wahbah az – Zuhaili ( Ulama Syiria ) mengajarkan beliau  tentang  ilmu Fiqh dan juga  Ushul Fiqh.

Tentang  Ilmu bahasa, Adi Hidayat mendapatkan  dari syaikh Abdul Lathif as – Syuwairif ( Pakar bahasa Dunia, anggota majma ’ al – lughah ), Dr. Muhammad Djibran ( Pakar Bahasa dan Sastra ), Dr. Abdullah Ustha ( Pakar Nahwu dan Sharaf ), Dr. Budairi al – Azhari ( Pakar Ilmu Arudh ), dan juga Masyayikh yang lainnya. Serta  ilmu Tarikh, beliau  peroleh dari Ust. Ammar al – Liibiy ( Sejarawan Libya ).

Pada  akhir tahun 2009, Adi Hidayat di angkat sebagai ketua dewan khatib jami Dakwah Islamiyyah Tripoli atau yang disebut dengan “  Aminul Khutaba “ . Dengan posisi tersebut , Adi Hidayat memiliki  hak untuk  menentukan para khatib dan juga pengisi di Masjid Dakwah Islamiyyah di Tripoli, Libya. Semasa  menimba ilmu di Tripoli, Libya, Ustadz Adi Hidayat menyelesaikan pendidikan S1 nya dalam kurun waktu 2.5 tahun. Serta  jenjang paskasarjananya  beliau  selesaikan dalam waktu 2 tahun di Islamic Call College Tripoli, Libya. Beliau  juga aktif di saluran televisi at – tawashul TV Libya pada  acara Tsaqafah Islamiyyah.

Kembali Ke Indonesia

Setelah hampir 6 tahun berada di Libya, Adi Hidayat selanjutnya  kembali ke Indonesia dan  juga berhasil membawa gelar L.c ( License ), gelar sarjana untuk  kawasan di  Timur Tengah. Di Indonesia, Ustadz Adi Hidayat selanjutnya  menjadi pengasuh dari  Ponpes al – Qur ’ an al – Hikmah yang berada di wilayah Lebak bulus, Banten. Kemudian  pada  tahun 2013, Ustadz Adi Hidayat mendirikan Quantum Akhyar Institute yaitu sebuah lembaga bimbingan dan juga  kajian islam di Bekasi, jawa Barat. Beliau  juga melanjutkan pendidikan masternya di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.

Sampai  saat ini Ustadz Adi Hidayat, Lc, MA banyak mengisi ceramah-ceramah agama di berbagai tempat. Jamaah yang mengikuti kajiannya sangat banyak di karenakan ceramahnya tentang  keislaman yang sangat mudah untuk  dipahami oleh banyak orang. Selain itu video ceramah nya juga banyak di tonton oleh jutaan viewers di Youtube ataupun  di sosial media lainnya , seperti Facebook.

Keluarga Ustadz Adi Hidayat

Ustadz Adi Hidayat diketahui telah  menikah. Dari pernikahan nya tersebut, beliau telah  di karuniai dua orang anak laki-laki.

 

Baca Juga :

Categories
TOKOH MUSLIM ULAMA

Biografi Dan Profil Imam Abu Dawud

Biografi Dan Profil Imam Abu Dawud

Abu Daud – Beliau mempunyai nama lengkap Sulaiman bin al – Asy’as bin Ishak bin Basyir bin Syidad bin Amar al – Azdi as – Sijistani. Beliau merupakan seorang   Imam serta tokoh ahli hadits, dan juga seorang  pengarang kitab sunan. Beliau dilahirkan di Sijistan pada tahun 202 H.

Sejak kecil Abu Dawud sudah sangat mencintai ilmu dan telah  bergaul dengan para ulama untuk menimba ilmunya. Sebelum beliau dewasa, beliau telah  mempersiapkan diri untuk melanglang buana  ke berbagai negeri. Beliau  belajar mengenai  hadits dari para ulama yang di temui beliau  di Hijaz, Syam, Mesir,Jazirah, Sagar, Irak, Khurasan dan negeri yang lainnya. Pengembaraan nya ke beberapa negeri tersebut menunjang beliau  untuk memperoleh  hadits sebanyak-  banyaknya. Kemudian hadits-hadist tersebut disaring, lalu ditulis dalam kitab Sunan. Abu Dawud telah  berulang kali mengunjungi Bagdad. Di kota tersebut, beliau mengajar hadits serta fiqih dengan menggunakan kitab sunan sebagai buku pedoman.  Kitab sunan tersebut di tunjukkan kepada seorang ulama hadits yang terkemuka yaitu , Ahmad bin Hanbal. Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa kitab tersebut sangat bagus. Dan kitabnya “ Sunan Abu Dawud ” dianggap sebagai kitab ketiga dari Kutubussittah sesudah Imam al-Bukhari serta Imam Muslim.

Guru – guru Imam Abu Dawud

Jumlah guru dari  Imam Abu Dawud sangatlah banyak. Di antara gurunya yang paling menonjol yaitu : Abdullah bin raja’,  Daud bin Ibrahim, Abu Amar ad-Darir , al – Qan’abi, Ahmad bin Hanbal, Abdul Walid at – Tayalisi dan yang lain-lain. Sebagian gurunya merupakan  yang menjadi guru Bukhari dan Abu Daud, seperti Qutaibah bin sa’id, Ahmad bin Hanbal,dan  Usman bin Abu Syaibah .

Murid – murid Abu Dawud

Ulama yang pernah menjadi murid beliau  serta  yang meriwayatkan haditsnya antara lain Abu Bakar bin Dassah, Abu Isa at – Tirmizi, putranya sendiri Abu Bakar bin Abu Daud, Abu Abdur Rahman an – Nasa ’ I, Abu Awana, Abu Ali al – Lu ’ I, Abu Sa ’ id al – Arabi, Abu Salim Muhammad bin Sa ’ id al – Jaldawi dan yang lainnya.

Sifat dan kepribadian Abu Daud

Abu Dawud termasuk seorang ulama yang mencapai derajat tinggi dalam beribadah, kesucian diri, serta kesalihan dan wara’  yang patut untuk  diteladani. Sebagian ulama mengatakan bahwa  ” Perilaku Abu Dawud,  Sifat serta kepribadian seperti ini menunjukkan suatu kesempurnaan dalam beragama, prilaku dan akhlak Abu Dawud. Abu Dawud memiliki  falsafah tersendiri dalam berpakaian. Salah satu lengan bajunya lebar dan yang satunya lagi sempit. Jika  ada yang bertanya, beliau menjawab: ”  Bagian lengan yang lebar ini untuk membawa kitab, sedangkan yang satunya lagi  tidak diperlukan. Kalau dia lebar, berarti pemborosan “.

Ulama memuji Abu Dawud

Abu Dawud merupakan  seorang tokoh ahli hadits yang menghafal dan juga  memahami hadits beserta illatnya. Beliau mendapatkan kehormatan dari para ulama, terutama dari gurunya, yaitu  Imam Ahmad bin Hanbal. Al – Hafiz Musa bin Harun berkata : ” Abu Dawud di ciptakan di dunia untuk Hadits, dan di akhirat untuk surga, aku tidak pernah melihat orang yang lebih utama dari dia “.

Sahal bin Abdullah at – Tastari, yang merupakan seorang sufi yang alim mengunjungi Abu Dawud dan berkata : ” Saya adalah Sahal, datang untuk mengunjungimu. Kemudian ” Abu Dawud menyambutnya dengan hormat serta  mempersilakannya duduk. Kemudian  Sahal berkata : ” Abu Dawud, saya ada keperluan.”  Beliau  bertanya : ” Keperluan apa? ” Sahal menjawab : ” Nanti saya katakan, asalkan engkau berjanji untuk memenuhi permintaanku “.” Abu Dawud menjawab : ” Jika aku mampu pasti akan kuturuti “.  Kemudian  Sahal mengatakan : ” Julurkanlah lidahmu yang engkau gunakan untuk  meriwayatkan hadits dari Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam sehingga aku dapat menciumnya ” Lalu Abu Dawud menjulurkan lidahnya yang kemudian dicium oleh Sahal.

Saat itu  Abu Dawud menyusun kitab sunan, Ibrahim al – Harbi, seorang Ulama hadits, berkata : ” Hadits telah di lunakkan bagi Abu Dawud, sebagaimana besi yang di lunakkan untuk Nabi Dawud “.  Ungkapan tersebut merupakan perumpamaan bagi keistimewaan seorang ahli hadits. Beliau  telah mempermudah yang rumit serta mendekatkan yang jauh, serta memudahkan yang sukar atau sulit .

Seorang Ulama hadits dan fiqih yang terkemuka yang bermazhab Hanbali, Abu Bakar al – Khallal, berkata : ” Abu Dawud Sulaiman bin al – Asy’as as – Sijistani merupakan seorang  Imam yang terkemuka pada zamannya, penggali beberapa bidang ilmu dan  sekaligus mengetahui tempatnya, serta tidak ada seorang pun di masanya yang dapat menandinginya ”.

Memuliakan Ilmu Serta Para Ulama

Sikap dan prilaku Abu Dawud yang memuliakan ilmu dan juga ulama ini dapat diketahui melalui  kisah yang telah di ceritakan oleh Imam al – Khattabi dari Abu Bakar bin Jabir, seorang  pembantu Abu Dawud. Dia berkata : ” Aku bersama Abu Dawud tinggal di Bagdad. Pada suatu  ketika kami usai melakukan shalat magrib, tiba – tiba pintu rumah diketuk orang, kemudian  kubuka pintu tersebut dan seorang pelayan melaporkan bahwa Amir Abu Ahmad al – Muwaffaq meminta izin untuk masuk. Kemudian aku memberitahukan hal tersebut kepada  Abu Dawud dan beliau  pun mengizinkan, kemudian Amir duduk. Lalu Abu Dawud bertanya : ” Apa yang mendorong Amir datang ke sini? ” Amir pun menjawab ” Ada tiga kepentingan “. ” Kepentingan apa? ” Tanya Abu Dawud.  Amir lalu mengatakan : ” Sebaiknya anda tinggal di Basrah, agar para pelajar dari seluruh dunia bisa belajar kepadamu. Dengan demikian kota Basrah akan makmur kembali . Karena kota Basrah telah hancur dan ditinggalkan orang akibat tragedi Zenji “.

Abu Dawud berkata : ” itu yang pertama, lalu apa yang kedua ? ” Amir menjawab : ” Hendaknya anda mau mengajarkan sunan kepada anak – anakku “.  ” Yang ketiga ? ” tanya Abu Dawud lagi . ” Hendaklah anda membuat majlis tersendiri untuk mengajarkan hadits kepada keluarga khalifah, sebab mereka enggan duduk bersama orang umum “.  Kemudian Abu Dawud menjawab : ” Permintaan ketiga tidak dapat aku kabulkan. karena derajat manusia itu, baik pejabat yang terhormat ataupun  rakyat jelata, dalam menuntut ilmu di pandang sama.” Ibnu Jabir lalu menjelaskan : ” Sejak sat itu putra – putra khalifah menghadiri majlis taklim, duduk bersama orang umum, namun dengan diberi tirai pemisah “.

Begitulah seharusnya, para ulama tidak mendatangi raja atau seorang  penguasa, melainkan merekalah yang harus mengunjungi para ulama. Itulah kesamaan derajat di dalam mencari ilmu pengetahuan.

Wafat Imam Abu Daud

Setelah beliau hidup penuh dengan kegiatan ilmu, serta mengumpulkan dan juga menyebarluaskan hadits, Abu Dawud wafat di Basrah, tempat tinggal atas permintaan Amir sebagaimana yang telah di ceritakan. Beliau  wafat pada  tanggal 16 Syawal 275 H.

Putra Abu Dawud

Imam Abu Dawud meninggalkan seorang putra yang bernama Abu Bakar Abdullah bin Abu Dawud. Beliau merupakan  seorang Imam hadits dan  putra seorang imam hadits pula. Beliau dilahirkan pada tahun 230 H dan wafat pada  tahun 316 H.

Kitab karangan Abu Dawud

  • Kitab as – Sunan
  • Kitab al – Marasil
  • Kitab al – Qadar
  • An – Nasikh Wal Mansukh
  • Kitab az – Zuhud
  • Dalailun Nubuwah
  • Ibtida’ul Wahyu
  • Ahbarul Khawarij

Di antara kitab-kitab tersebut, yang paling popular adalah kitab “ as – Sunan “ , yang di kenal dengan Sunan Abu Dawud.

Baca Juga :