Categories
TOKOH INDONESIA TOKOH MUSLIM TOKOH POLITIK

Profil dan Biografi : Lafran Pane – Pendiri HMI ( Himpunan Mahasiswa Islam )

Profil dan Biografi : Lafran Pane – Pendiri HMI ( Himpunan Mahasiswa Islam )

Lafran Pane lahir di kampung Pagurabaan, Kecamatan Sipirok, yang terletak di kaki gunung Sibual – Bual, 38 kilometer kearah utara dari Padang Sidempuan, Ibu kota kabupaten Tapanuli Selatan,  beliau  adalah  tokoh pendiri organisasi HMI ( Himpunan Mahasiswa Islam ) yang merupakan organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia. Sebenarnya Lafran Pane lahir di Padangsidempuan pada tanggal  5 Februari 1922. Untuk menghindari berbagai macam tafsiran, karena bertepatan dengan berdirinya HMI Lafran Pane mengubah tanggal lahirnya menjadi  tanggal 12 April 1923. Sebelum tamat dari STI Lafran pindah ke Akademi Ilmu Politik ( AIP ) pada bulan April 1948. Setelah Universitas Gajah Mada ( UGM ) di negerikan pada tanggal 19 desember 1949, dan AIP dimasukkan dalam fakultas Hukum, ekonomi, sosial politik ( HESP ).

Dalam sejarah Universitas Gajah Mada ( UGM ), Lafran termasuk dalam mahasiswa – mahasiswa yang pertama mencapai gelar sarjana, yaitu pada  tanggal 26 januari 1953. Dengan sendirinya Drs. Lafran pane menjadi Sarjana Ilmu Politik yang pertama di Indonesia.

Semasa di STI inilah Lafran Pane mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam ( pada hari rabu pon, 14 Rabiul Awal 1366 H / 5 Februari 1947 pukul 16.00 ). HMI adalah  organisasi mahasiswa yang berlabelkan “ islam ” pertama di Indonesia dengan dua tujuan dasar. Pertama, Mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia. Kedua, Menegakkan serta  mengembangkan ajaran agama Islam. Dua tujuan inilah yang kemudian  menjadi pondasi dasar gerakan HMI sebagai organisasi maupun individu – individu yang pernah dikader di HMI.

Apabila  dinilai dari perspektif hari ini, pandangan nasionalistik rumusan tujuan tersebut barangkali tidak tampak luar biasa. Akan tetapi apabila dinilai dari standar tujuan organisasi – organisasi Islam pada masa itu, tujuan nasionalistik HMI  tersebut mampu memberikan sebuah pengakuan bahwa Islam dan Keindonesiaan tidaklah berlawanan, namun  berjalin berkelindan. Dengan kata lain Islam harus mampu beradaptasi dengan Indonesia, bukan sebaliknya. Dalam rangka mensosialisasikan gagasan keislaman-keindonesiaanya. Pada Kongres Muslimin Indonesia ( KMI ) pada tanggal 20 – 25 Desember 1949 di Jogjakarta yang di hadiri oleh 185 organisasi alim ulama dan Intelegensia seluruh Indonesia, Lafran Pane menulis sebuah artikel dalam pedoman lengkap kongres KMI ( Yogyakarta, Panitia Pusat KMI Bagian Penerangan, 1949, hal 56 ). Artikel tersebut berjudul “ Keadaan dan  Kemungkinan Kebudayaan Islam di Indonesia ”.

Dalam tulisan tersebut Lafran membagi masyarakat islam menjadi 4 kelompok. Pertama, golongan awam , yaitu mereka yang mengamalkan ajaran islam  tersebut  sebagai kewajiban yang di adatkan seperti upacara kawin, mati dan selamatan. Kedua, golongan alim ulama serta  pengikut – pengikutnya yang ingin agama islam dipraktekan sesuai dengan yang di lakukan oleh Nabi Muhammad S.A.W. Ketiga, golongan alim ulama dan  juga pengikutnya yang terpengaruh oleh mistik. Pengaruh mistik ini menyebabkan mereka berpandangan bahwa hidup hanyalah untuk akhirat saja. Mereka tidak begitu memikirkan lagi kehidupan dunia ( ekonomi, politik, pendidikan ). Sedangkan golongan keempat adalah golongan kecil yang mencoba menyesuaikan diri dengan kemauan zaman, selaras dengan wujud dan hakikat agama Islam. Mereka berusaha, agar agama itu benar – benar bisa di praktekkan dalam masyarakat Indonesia sekarang ini.

Lafran sendiri meyakini bahwa agama islam mampu  memenuhi kebutuhan – kebutuhan  manusia pada segala waktu dan tempat, artinya bisa menselaraskan diri dengan keadaan serta kebutuhan  masyarakat dimanapun juga. Adanya bermacam – macam bangsa yang berbeda – beda masyarakatnya, yang tergantung pada faktor alam, kebiasaan, dan  yang lain – lain. Maka kebudayaan islam bisa diselaraskan dengan masyarakat masing – masing.

Sebagai seorang  muslim dan warga Negara Republik Indonesia, Lafran juga menunjukan semangat nasionalismenya. Dalam kesempatan lain, pada pidato pengukuhan Lafran Pane sebagai Guru Besar dalam mata pelajaran Ilmu Tata Negara pada Fakultas Keguruan Ilmu Sosial, IKIP Yogyakarta ( sekarang UNY ), pada hari kamis  tanggal 16 Juli 1970, Lafran menyebutkan bahwa Pancasila merupakan hal yang tidak bisa berubah. Pancasila harus dipertahankan sebagai dasar Negara Republik Indonesia. Akan tetapi  beliau  juga tidak menolak beragam pandangan mengenai  pancasila.

Baca Juga :

Categories
TOKOH INDONESIA TOKOH MUSLIM

Profil Rizieq Shihab – Tokoh Muslim Indonesia

Profil Rizieq Shihab – Tokoh Muslim Indonesia

Pria kelahiran Jakarta, 24 Agustus 1965 ini adalah anak dari  Hussein Shihab dan Sidah Alatas. Menginjak umur 11 bulan, ayahnya Rizieq wafat. Sejak saat itu, Rizieq diasuh oleh ibunya sendiri. Meskipun ditinggalkan oleh  ayahnya, Rizieq tetap memperoleh  bimbingan sang ibu dan ustadz di masjid tempat beliau  mengaji.

Tidak heran, meskipun tidak masuk pesantren, pemahaman Rizieq mengenai soal agama sangat menonjol di banding teman – temannnya ketika itu. Rizieq sendiri memilih sekolah dasar hingga menengah di lembaga pendidikan umum.

Memasuki masa kuliah, Habib Rizieq baru serius belajar di perguruan tinggi Islam di Arab Saudi. Beliau mengambil Jurusan Studi Agama Islam (Fikh dan Ushul Fikh), King Saud University, Riyadh, Arab Saudi. Bahkan beliau  sempat meneruskan ke Universitas Islam Internasional Antar Bangsa, Malaysia meskipun tidak selesai.

Berbekal dengan ilmu yang dimiliki, Habib Rizieq mulai mengabdi ke masyarakat dengan menjadi seorang  penceramah dan juga pengajar ngaji di majelis talim dan masjid. Seiring dengan  aktivitasnya, beliau juga aktif di organisasi sebagai anggota di Jami’at Kheir, organisasi Islam untuk kalangan Arab Indonesia.

Di organisasi ini juga, Habib Riziek diangkat menjadi Kepala Sekolah Madrasah Aliyah Jamiat Kheir, Jakarta. Disamping itu,  beliau juga diberikan amanah sebagai anggota Dewan Syariat BPRS At-Taqwa, Tangerang, Pembina sejumlah majelis talim Jabotabek, serta Presiden Direktur Markaz Syariah.

Seiring dengan perjalanan dakwah dan problematiknya, Habib Rizieq dan beberapa habib dan juga ulama mendirikan organisasi Front Pembela Islam (FPI). Organisasi ini untuk pertama kalinya dicetuskan di kediamannya Petamburan, Jakarta dan dideklarasikan di Pondok Pesantren Al-Umm, Ciputat, Tangerang pada tanggal 17 Agustus 1998.

Organisasi bentukan Habib Rizieq ini mempunyai visi dan misi dalam menerapkan syariat Islam secara kafah di bawah naungan khilafah islamiyah menurut manhaj nubuwwah, dengan melalui pelaksanaan da’wah, penegakan hisbah dan juga pengamalan jihad.

Sejak didirikan FPI, nama Habib Rizieq dikenal luas sebagai pendiri, ketua umum dan juga sekaligus imam besar. Sepak terjang Habib Rizieq bersama FPI sering kali menuai polemik. Berbagai pro dan kontra di antara masyarakat selalu bersaut – sautan. Pembawaan Habib Rizieq yang sangat berani pernah menyeretnya ke ranah hukum. Beberapa kali beliau berurusan dengan kepolisian, tidak membuat kapok Habib Rizieq dalam berdakwah.

Beliau bahkan semakin berani tampil terdepan ketika terjadi kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Beliau  bersama dengan habib, alim-ulama, asatidz, dan juga  ribuan umat Islam melakukan demo di depan Istana Presiden, pada tanggal  4 November 2016. Mereka menuntut keadilan penetapan hukum dan penahanan Ahok.

KELUARGA

Orang Tua    : Hussein Shihab dan Sidah Alatas

Istri                : Syarifah Fadhlun Yahya

PENDIDIKAN

  • SDN 1 Petamburan, Jakarta ( 1975 )
  • SMP 40 Pejompongan, Jakarta
  • SMP Kristen Bethel Petamburan, Jakarta ( 1979 )
  • SMAN 4, Gambir, Jakarta
  • SMA Islamic Village, Tangerang ( 1982 )
  • S1 Jurusan Studi Agama Islam ( Fikih dan Ushul ) King Saud University, Riyadh, Arab Saudi ( 1990 )
  • S2 Studi Islam, Universitas Antar-Bangsa, Malaysia

 

KARIER

  • Kepsek Madrasah Aliyah Jamiat Kheir, Jakarta
  • Dewan Syariat BPRS At – Taqwa, Tangerang
  • Pembina sejumlah Majelis Talim Jabotabek
  • Presiden Direktur Markaz Syariah
  • Pendiri Front Pembela Islam ( FPI )
  • Imam Besar Front Pembela Islam ( FPI )

 

Baca Juga :

Categories
TOKOH KIMIA TOKOH MUSLIM

Abu Musa Jabir bin Hayyan – Bapak Ilmu Kimia Modern Dunia

Abu Musa Jabir bin Hayyan – Bapak Ilmu Kimia Modern Dunia

Beliau mempunyai nama lengkap  Abu Musa Jabir bin Hayyan Al – Kuffi As – Sufi. Berkat keahlian dan juga  kepandaiannya dalam ilmu kimia, Abu Musa Jabir bin Hayyan atau dunia Barat menyebutnya Geber, di kenal sebagai “ Bapak Ilmu Kimia Modern Dunia ”.

Gelar  tersebut  di berikan oleh para ahli kimia di seluruh dunia, atas  kemampuan Abu Musa Jabir bin Hayyan dalam membuat eksperimen secara sistematis. Kehebatan Abu Musa Jabir sulit di saingi oleh ahli kimia manapun hingga kini.

Sebagian kalangan ilmuwan menyebutkan, bahwa apabila  ingin mencari asal-usul perkembangan ilmu kimia di Eropa, maka pelajarilah secara langsung karya – karya dari  Jabir bin Hayyan.

Abu Musa Jabir bin Hayyan mempelajari bidang pengobatan dan kimia di Kufah ( Irak ) pada zaman Khalifah Sultan Harun Ar – Rasyid. Abu Musa Jabir bin Hayyan juga pernah berguru pada Barmaki Vizier. Ratusan karya monumentalnya membuat  mempercepat perkembangan ilmu kimia. Sumbangan terbesar beliau dalam ilmu kimia,  telah lebih dari 100 risalah hasil tulisan dan sudah  di abadikan hingga  sekarang.

Abu Musa Jabir bin Hayyan memperkenalkan model penelitian dengan cara eksperimen di dunia kimia. Oleh sebab itu,  beliau  di pandang sebagai salah satu seorang ilmuwan yang berperan besar bagi perkembangan ilmu kimia modern.

Beliau  banyak melakukan eksperimen dalam ilmu kimia untuk mencapai kemajuan dalam bidang penelitian. Beliau  juga menemukan pengetahuan untuk pengembangan baja, anti karat, tinta emas, penggunaan bijih mangan untuk membuat gelas, bahan pengering pakaian, dan penyamakan kulit, pelapisan bahan anti air  pada pakaian, serta campuran bahan cat dan juga  pelumas.

Tidak hanya itu,  beliau  juga mengembangkan cara pelumeran emas dengan aqua regia. Disamping  itu, istilah alkali, pertama kali di temukan oleh Abu Musa Jabir bin Hayyan.

Sementara itu, Abu Musa Jabir bin Hayyan juga ikut berperan besar dalam penyempurnaan proses kristalisasi, distilasi, kalsinasi, sublimasi, dan  juga penguapan serta pengembangan instrumen untuk melakukan proses – proses tersebut.

Karya – karya Abu Musa Jabir bin Hayyan sangat banyak. Bahkan, buku – buku yang di tulis beliau  menjadi sangat populer di Eropa selama beberapa abad. Karya Abu Musa Jabir bin Hayyan antara lain Kitab Al – Kimya ( The Book of the Composition of Alchemy ), Kitab Al – Sab ’ een, Kitab Al Rahmah, Al Tajmi, Al Zilaq al Sharqi, serta  Book of The Kingdom, Book of Eastern Mercury, dan Book of Balance.

Baca Juga :

Categories
DUNIA TOKOH MUSLIM

Dr. Zakir Naik – Biografi  dan Profil Lengkap

Dr. Zakir Naik – Biografi  dan Profil Lengkap

Dr. Zakir Naik – Beliau adalah salah satu pembicara muslim yang berasal dari India dan juga merupakan  seorang ahli perbandingan agama. Salah satu tokoh paling berpengaruh di India. Disamping  itu beliau juga merupakan seorang penulis yang banyak menulis buku tentang  islam dan perbandingannya dengan agama lain.

Biodata Dr. Zakir Naik

Nama Lengkap : Dr. Zakir Abdul Karim Naik
Tempat , tanggal lahir : Mumbai , India , 18 Oktober 1965
Orangtua : Abdul Karim Naik
Istri : Farhat Naik
Anak : Fariq Zakir Naik , Rushda Naik
Pendidikan :
  • St. Peter’s High School ( ICSE )
  • Kishinchand Chellaram College
  • Topiwala National Medical College
  • University of Mumbai ( Bachelor of Medicine Bachelor of Surgery )
Pekerjaan :
  • Dokter
  • Penulis,
  • Pembicara Publik ( Dakwah )
Jabatan :
  • President of Islamic Research Foundation
  • Pendiri Peace TV, Peace TV Bangla dan Peace TV Urdu
Penghargaan :
  • King Faisal International Prize for Service to Islam tahun 2015
  • 10 Guru Spiritual Terbaik di India
  • 100 Orang India Terkuat 2009.

Beliau mempunyai nama lengkap ,   Zakir Abdul Karim Naik. Zakir Naik lahir pada tanggal 18 Oktober 1965 di Kota Mumbai, India.

Riwayat Masa Kecil

Ayah beliau bernama abdul Karim naik. Zakir mengawali  pendidikannya dengan bersekolah di St. Peter’s High School ( ICSE ) di kota kelahirannya yaitu Mumbai. Dari sana  beliau  kemudian masuk di Kishinchand Chellaram College dan kemudian ke Topiwala National Medical College, di sekolah tersebut,  beliau  banyak mempelajari tentang  ilmu kesehatan.

Dari Seorang Dokter Menjadi Pendakwah

Zakir Naik kemudian melanjutkan kuliahnya di University of Mumbai, India di jurusan Ilmu Kedokteran serta  memperoleh gelar MBBS ( Bachelor of Medicine Bachelor Of Surgery ) sesudah  itu  beliau  bekerja sebagai dokter di kota Mumbai.

Akan tetapi  kemudian pada tahun 1991,  beliau  mengambil keputusan dengan berhenti sebagai  seorang dokter medis dan kemudian beralih menjadi seorang pendakwah Islam. Keputusannya untuk  menjadi seorang pendakwah terinspirasi dari Ahmed Deedat yang merupakan seorang pendakwah Islam yang aktif  dalam melakukan dakwah selama 40 tahun lebih.

Zakir Naik Muda

Selain itu tujuan dari dakwah yang dilakukan oleh Dr. Zakir Naik adalah untuk menghilangkan pandangan negatif terhadap  islam oleh banyak orang anti – islam setelah tragedi serangan 11 september 2001 yang terjadi di Amerika Serikat.

Selama aktif menjadi seorang pendakwah, Dr Zakir Naik sudah  banyak berkeliling dunia dan  mengunjungi banyak negara selama menjadi seorang  pendakwah. Dalam perjalanannya sebagai seorang pendakwah, debat atau ceramahnya paling banyak di lakukan di India dan rata – rata di hadiri oleh puluhan ribu orang dalam setiap ceramah nya.

Ceramah Ke Berbagai Negara

Dalam biografi Zakir Naik, beliau telah  banyak mengadakan ceramah dan debat tentang  agama di banyak negara di dunia, dan juga  beliau  biasa mengadakan ceramah atau debat di kota kelahirannya,  yaitu Kota Mumbai, India.

Acaranya tidak hanya di hadiri oleh kaum muslim saja namun  ada juga dari kristen, Hindu hingga Atheis yang ingin bertanya kepada Zakir Naik. Sejak Zakir Naik aktif  dalam mengadakan ceramah dan  juga debat, banyak jurnalis  yang berasal dari India dan luar India yang menulis tentang  Dr. Zakir Naik, rata – rata mereka menulis kata – kata yang biasa dikeluarkan oleh Dr. Zakir Naik seringkali  “ kejam  “ , ada juga yag mengatakan bahwa Zakir Naik terkadang sering mencerca kepercayaan lain dan dunia barat secara umum.

Akan tetapi sejak aktif  dalam melakukan dakwah, Dr. Zakir Naik sudah banyak mengislamkan ribuan orang dengan dakwahnya. Rata – rata mereka masuk islam sesudah  mendengar ceramah serta  selesai melakukan debat dengan mengajukan pertanyaan kepada Zakir Naik dan di jawab dengan luar biasa dan juga  sesuai dengan logika oleh Zakir Naik dan juga  terkadang penonton banyak memberi tepuk tangan atas jawaban Dr, Zakir Naik.

Pada tanggal 1 April 2004, Dr. Zakir naik sempat melakukan debat publik dengan William Campbell dengan topik  “ Islam dan kristen dalam Ilmu pengetahuan “ . Keduanya membicarakan tentang  kesalahan – kesalahan ilmiah yang terdapat di dalam kitab suci.

Dr. Zakir Naik juga pernah menantang Sri Paus untuk melakukan debat publik akan tetapi  hingga  sekarang belum pernah ada respon dari vatikan mengenai debat tersebut. Zakir Naik juga banyak menulis artikel mengenai Islam yang banyak di publikan di banyak majalah di India salah satunya adalah Islamic Voice.

Hafalan Al Quran dan Hadist Serta Pemahaman Kuat Terhadap Kitab – Kitab Agama Lain

Salah satu kemampuan yang dimiliki oleh Dr. Zakir Naik dalam melakukan dakwahnya adalah  ingatan beliau  yang kuat ( hafalan ) mengenai  alquran dan hadist bukhari muslim.  Beliau  juga mempunyai  hafalan yang kuat terhadap kitab – kitab agama lain seperti kitab injil, weda, tripitaka, bhagavad gita.

Bahkan dalam banyak videonya di Youtube, Dr Zakir Naik terkadang mengoreksi kutipan dalam Injil atau Bibel yang biasa di ajukan oleh penonton yang menghadiri pada saat  sesi bertanya. Dalam hal ini beliau juga mempunyai  pengetahuan atau hafalan yang baik terhadap kitab Injil. Surat kabar Indian Express bahkan memasukkan nama Dr Zakir Naik kedalam daftar  “ 100 orang India terkuat 2009 “ . Beliau  juga masuk dalam daftar  “ 10 guru spiritual terbaik di India “  dimana beliau adalah  satu – satunya muslim dalam daftar tersebut.

Beliau menikah dengan  seorang perempuan  yang bernama Farhat Naik dan dari pernikahannya tersebut, beliau dikarunia dua orang anak  yang bernama Fariq Zakir Naik dan Rushda Naik.  Beliau juga dikenal sebagai  presiden dari Islamic Research Foundation dan juga pendiri Peace TV, Peace TV Bangla dan Peace TV Urdu. Dr Zakir Naik berkunjung ke Indonesia pada pada tanggal 31 maret hingga 9 april 2017. Beliau  mengadakan kunjungan ke pesantren dan  ceramah di beberapa universitas di Indonesia, disamping  itu  beliau  juga bertemu dengan sejumlah ulama  dan juga tokoh islam di Indonesia.

Baca Juga :

Categories
ILMUAN TOKOH MUSLIM

Biografi Ibnu Al – Nafis – Bapak Fisiologi Sirkulasi  

Biografi Ibnu Al – Nafis – Bapak Fisiologi Sirkulasi

Dunia kedokteran modern mendapuk beliau  sebagai ahli fisiologi terhebat di era masa  keemasan Islam pada abad ke- 13 M. Beliau adalah  dokter pertama di muka bumi yang mampu merumuskan dasar – dasar sirkulasi melalui  temuannya mengenai  sirkulasi dalam paru – paru, sirkulasi jantung, dan kapiler. Adalah sebuah pencapaian yang prestisius dan luar biasa itu di torehkan  oleh seorang dokter Muslim yang  bernama Ibnu Al – Nafis.

Berkat jasanya yang sangat bernilai itulah, Ibnu Al – Nafis di anugerahi gelar sebagai  “ Bapak Fisiologi Sirkulasi “ . Prestasi dan pencapaian gemilang yang di torehkannya pada abad ke – 13 M itu sudah  mematahkan klaim Barat yang selama beberapa abad menyatakan bahwa Sir William Harvey dari Kent, Inggris yang hidup pada  abad ke- 16 M, sebagai pencetus teori sirkulasi paru – paru.

Jejak prestasi yang di torehkan Al – Nafsi dalam bidang kedokteran khususnya dalam  ilmu fisologi di  era kejayaan Islam  tersebut  baru terungkap di abad ke- 20. Dunia kedokteran pun dibuat terperangah serta  takjub karena  pencapaian dokter Muslim tersebut.

Adalah seorang  fisikawan berkebangsaan Mesir, Muhyo Al –  Deen Altawi yang berhasil menguak kiprah Al – Nafsi melalui  risalah yang berjudul Commentary on the Anatomy of Canon of Avicenna yang tersimpan di Perpustakaan Nasional Prussia, Berlin, Jerman.

Kontribusi Al – Nafis dalam dunia kedokteran tidak hanya di bidang fisiologi. Beliau  juga di kenal sebagai  seorang dokter yang menyokong kedokteran ekperimental, postmortem otopsi, dan juga  ahli bedah manusia. Sejarah juga mencatat bahwa  Al – Nafis sebagai  seorang dokter pertama yang menjelaskan mengenai  konsep metabolisme. Tidak heran jika beliau  kemudian  mengembangkan aliran kedokteran Nafsian mengenai  sistem anatomi, fisiologi, psikologi, dan juga  pulsologi.

Aliran Nafsian yang di ciptakannya tersebut  bertujuan untuk menggantikan doktrin doktrin kedokteran yang di cetuskan oleh pendahulunya yaitu  Ibnu Sina alias Avicena dan Galen   – seorang dokter Yunani. Al – Nafis menilai  mengenai banyak teori yang di kemukakan kedua dokter termasyhur itu keliru. Antara lain mengenai  denyut, tulang, otot, panca indera, perut, terusan empedu, dan juga  anatomi tubuh yang lainnya.

Untuk  meluruskan teori dan  juga doktrin kedokteran yang dianggapnya keliru tersebut , Al –  Nafsi kemudian menggambar diagram yang melukiskan bagian – bagian tubuh yang berbeda dalam sistem fisiologi  ( kefaalan ) yang dikembangkannya.

Karya Al – Nafis dalam bidang kedokteran di tuliskannya dalam kitab Sharh al – Adwiya al – Murakkaba, komentar Al – Nafis terhadap kitab karya Ibnu Sina yang berjudul Canon of Medicine. Beliau  juga menulis kitab Com mentary on Anatomy in Avicenna ’ s Canon pada tahun 1242 M.

Selain memberikan  kontribusi yang begitu besar dalam bidang kedokteran, Al – Nafis yang juga di kenal sebagai sebagai seorang  ilmuwan yang  serbabisa itu turut berjasa  dalam mengembangkan ilmu keislaman. Al – Nafis berhasil menuliskan  sebuah metodelogi hadits yang memperkenalkan sebuh klasifikasi ilmu hadits yang lebih rasional dan juga logis. Al – Nafis pun di kenal sebagai seorang sastrawan. Beliau  menulis sebuah  Theologus Autodidactu salah satu novel filosofis pertama dalam khazanah karya sastra Arab pertama.

Baca Juga :

Categories
TOKOH MUSLIM

Salahuddin Al-Ayyubi – Biografi Sang Jenderal Terhebat Dalam Perang Salib

Salahuddin Al-Ayyubi – Biografi Sang Jenderal Terhebat Dalam Perang Salib

Salahuddin Al-Ayyubi – Dunia mengenalnya sebagai salah satu tokoh pemimpin besar umat islam yang pernah ada dimuka bumi ini. Beliau sangat dikenal oleh umat islam di dunia serta di barat . Beliau juga adalah salah satu tokoh terbesar dalam Perang Salib. Panglima besar umat islam Slahuddin Al-Ayyubi atau Saladin dikenal luas ketika beliau mampu menaklukan kerajaan Jerusalem yang pada saat itu dipimpin oleh Guy The Lusignan Raja Jerusalem. Pasukan Salahuddin dikenal sebagai pasukan yang pemberani yang berada di bawah pimpinannya.

 

Biografi Salahuddin Al – Ayyubi

Beliau lahir dengan nama aslu Yusuf bin Najmuddin yang kemudian dikenal dengan nama Salahuddin Al Ayyubi. Orang barat mengenal beliau sebagai Saladin. Pemimpin besar umat islam ini dilahirkan dari keluarga Kurdish di kota Tikrit yang berada dekat dengan sungai Tigris , Irak pada tahun 1137 M.

Riwayat Masa Kecil

Masa kecil beliau selama sepuluh tahun di habiskan dengan belajar di Damaskus yang berada di lingkungan anggota dinasti Zangid yang pada saat itu memerintah Syria , yaitu Nur Ad – Din atau Sultan Nuruddin Zangi. Selain belajar tentang agama islam , Salahuddin juga memperoleh pelajaran kemiliteran dari pamannya yang bernama Asaddin Shirkuh yang dikenal sebagai seorang panglima perang Turki Seljuk.

Bersama dengan pamannya , Salahuddin berangkat dari Damaskus atas perintah dari Sultan Nurrudin ke Mesir  dalam upaya untuk membebaskan Mesir dari serangan pasukan Kristen. Sultan Nuruddin pada saat itu bercita – cita untuk menyatukan semua wilayah Islam yang tercerai berai pada saat itu.

Menjadi Khalifah Mesir

Meskipun pada saat itu Mesir berhasil dikuasai , Pamannya Asaddin Shirkuh meninggal dunia . Kosongnya kepemimpinan sepeninggal sang paman membuat Yusuf bin Najmuddin yang selanjutnya dikenal dengan nama Salahuddin Al-Ayyubi dipilih oleh para Amir atau para petinggi untuk memimpin mesir.

 

Beliau juga mendeposisikan diri sebagai sultan terakhir dari kekhalifahan Fatimid ( Keturunan dari Fatimah Az – Zahra , putri Nabi Muhammad SAW ). Dengan dinobatkannya Salahuddin menjadi sultan Mesir membuat kejanggalan bagi Sultan Nuruddin yang pada saat itu dikenal sebagai Khalifah yang menguasai Syria.

Sultan Nuruddin pada saat itu bersiap untuk melakukan penyerangan ke Mesir dalam upaya untuk menundukkan Salahuddin . Akan tetapi penyerangan tersebut urung dilakukan karena Sultan Nuruddin meninggal dunia pada tanggal 15 Mei 1174.

Setelah Sultan Nuruddin meninggal dunia , selanjutnya Shalih Ismail yaitu anak dari Sultan Nuruddin bersengketa mengenai garis keturunan terhadap hak kekhalifahan di Mesir dengan Salahuddin. Hingga akhirnya Shalih Ismail dan Salahuddin berperang hingga Damaskus berhasil dikuasai oleh Salahuddin. Shalih Ismail terpaksa menyingkir dan kemudian terus melawan kekuatan dinasti baru dibawah pemerintahan Sultan Salahuddin hingga ia terbunuh pada tahun 1181.

Kemudian Salahuddin Al – Ayyubi memimpin Syria dan sekaligus juga Mesir dan juga mengembalikan Islam di Mesir kembali pada jalan Ahlus Sunnah wal Jamaah . Beliau juga menyatukan banyak wilayah islam yang pada saat itu tercerai berai dengan bersatu dibawah kekuasaannya.

Atas keberhasilannya dalam menyatukan berbagai wilayah Islam membuat Salahuddin dikenal sebagai salah satu Khalifah Islam yang mempunyai kerajaan islam terbesar. Disamping itu sosoknya juga dikenal sangat Relijius yang membuat dukungan terhadapnya menjadi semakin kuat. Dukungan serta kekuatan tersebut digunakan oleh beliau sebagai alat untuk Jihadnya ke Yerusalem yang pada saat itu dikuasai oleh pihak Kristen.

Tokoh Penting Perang Salib

Dalam upaya menumbuhkan kekuasaannya Salahuddin selalu berhasil mengalahkan serbuan yang berasal dari para Crusader atau tentara salib dari Eropa. Terkecuali dalam satu hal yang tercatat adalah bahwa Salahuddin sempat mundur dari peperangan Battle of Montgisard dalam melawan Kerajaan Yerusalem selama perang salib berlangsung yang ketika itu dipimpin oleh Baldwin IV karena kesepakatan di antara kedua belah pihak.

Raja Baldwin IV sebagai Raja Yerusalem pada saat itu sangat menghormati Salahuddin . Beliau memperbolehkan para peziarah muslim , yahudi dan juga kristen untuk mengunjungi Yerusalem.

 

Melawan Guy of Lusignan

Mundurnya Salahuddin tersebut mengakibatkan Raynald of Chatillon pimpinan perang dari The Holy Land Jerusalem memprovokasi muslim dengan mengganggu jalur para peziarah serta perdagangan dan juga jalur Laut Metah yang digunakan sebagai jalur jamaah haji ke Makkah dan Madinah. Situasi tersebut semakin memburuk pada saat Raja Baldwin IV meninggal dunia karena penyakit Lepra yang ia derita. Sepeninggal Raja Baldwin IV , kemudian Guy of Lusignan naik tahta untuk menggantikan Raja Baldwin IV sebagai Raja Yerusalem yang baru.

Guy of Lusignan ketika itu mendukung Raynald of Chatillon untuk melakukan provokasi guna menyerang kaum muslimin. Ia juga mengancam bahwa akan menyerang dua kota suci umat islam yaitu Makkah dan Madinah.

Perang Hattin

Hingga pada akhirnya Salahuddin menyerang kembali Kingdom of Jerusalem pada tanggal 4 Juli 1187. Pada perang besar antara tentara salib dengan melawan pasukan muslim yang kemudian terkenal dengan nama Perang Hattin atau “ Battle of Hattin “ yang pada saat itu terjadi di bukit Hattin. Pada pertempuran tersebut , pasukan islam yang dipimpin langsung oleh Salahuddin Al – Ayyubi dengan menggunakan taktiknya mampu membumi hanguskan tentara salib yang ketika itu dipimpin langsung oleh Guy of Lusignan. Dalam perang tersebut , Salahuddin sekaligus juga mengeksekusi mati Raynald of Chatillon serta kemudian menangkap raja Yerusalem , Guy of Lusignan.

Mengepung Yerusalem

Setelah peristiwa tersebut , Salahuddin Al – Ayyubi selanjutnya bergerak dengan cepat menyusun segala kekuatan dan kemudian mulai menguasai daerah – daerah yang berada di sekitar kerajaan Jerusalem. Beberapa bulan kemudian Salahuddin Al-Ayyubi berhasil dalam menguasai daerah – daerah tersebut. Slahuddin yang pada akhirnya mencapai kerajaan Jerusalem pada bulan September tahun 1187 selanjutnya melakukan pengepungan kerajaan Jerusalem yang pada saat itu dipimpin oleh Balian of Ibelin.

 

Salahuddin Menguasai Yerusalem

Serangan pertama yang dilakukan ke tembok pertahanan Kerajaan Jerusalem pada tanggal 21 September 1187 oleh pasukan Salahuddin Al – Ayyubi. Selama 12 hari , kerajaan yerusalem yang ketika itu dikomandoi oleh Balian of Ibelin bertahan dengan mati – matian dalam tembok kerajaan Yerusalem untuk menahan serangan pasukan islam yang dipimpin oleh Salahuddin Al – Ayyubi.

Hingga pada akhirnya di tanggal 2 Oktober 1187 , kerajaan Jerusalem akhirnyapun menyerah. Setelah sekian lama akhirnya seluruh Jerusalem kembali ke tangan muslim dan membuta Kingdom of Jerusalem runtuh. Kisah penaklukan kerajaan Yerusalem oleh Salahuddin Al- Ayyubi bisa dilihat dalam film yang berjudul “ Kingdom of heaven “.

Melawan Raja Richard Dari Inggris

Karena jatuhnya Jerusalem menjadi pemicu Kristen Eropa menggerakkan Perang Salib Ketiga atau Third Crusade. Perang Salib yang ketiga ini menurunkan Raja Richard dari Inggris ke medan perang di Battle of Arsuf. Salahuddinpun ketika itu terpaksa mundur. Dan untuk pertama kalinya tentara salib pada saat itu merasa dapat menjatuhkan Salahuddin. Dalam kemiliteran Salahuddin dikagumi pada saat Richard mengalami cedera, Salahuddin menawarkan pengobatan ketika perang terjadi yang mana pada ketika itu ilmu kedokteran kaum muslim sudah maju dan juga dapat dipercaya.

Salahuddin Al – Ayubi Wafat

Dalam biografi Salahuddin Al – Ayyubi diketahui bahwa pada tahun 1192 Salahuddin dan Richard sepakat dalam perjanjian Ramla, Dimana kala itu Jerusalem tetap dikuasai oleh muslim serta terbuka pada para peziarah Kristen .

Setahun berikutnya Salahuddin meninggal dunia di Damaskus setelah Richard kembali ke Inggris. Bahkan pada saat rakyat membuka Peti hartanya ternyata hartanya bahkan tidak cukup untuk membiayai pemakamannya, hartanya kemudian banyak dibagikan kepada mereka yang lebih membutuhkannya.

Selain dikagumi oleh umat Muslim , Salahuddin atau Saladin / Salahuddin memperoleh reputasi besar di kalangan kaum kristen Eropa . Kisah perang serta kepemimpinannya banyak ditulis dalam karya puisi dan juga sastra Eropa, salah satunya yaitu Talisman ( 1825 ) karya Walter Scott.

Baca Juga :

Categories
ILMUAN TOKOH MUSLIM

Al-Battani ( Albategnius ) –  Bapak Trigonometri dan Ahli Astronomi

Al-Battani ( Albategnius ) –  Bapak Trigonometri dan Ahli Astronomi

Pasca peradaban yunani , kemajuan islam berikut dengan ilmu pengetahuan , khususnya pada bidang astronomi , telah membuat diakui oleh dunia . Selama kurang lebih dari 14 abad , islam sempat bertengger dan berada dipuncak pimpinan peradaban dunia bahkan memecahkan rekor sebagai peradaban yang paling lama berjaya.

Dengan menggunakan sistem pemerintahannya , khilafah islam ketika itu sudah terbukti dan berhasil menjadi negara yang terdepan ketika masa kejayaannya. Tidak hanya memberikan manfaat terhadap islam sendiri , akan tetapi juga mampu dalam menerangi kehidupan bangsa lain yang masih gelap atau buta terhadap pengetahuan , khususnya benua Eropa.

Secara kontinu , islam pun terus melahirkan banyak pakar dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang astronomi. Salah satu dari sekian banyaknya pakar tersebut adalah Abu Abdullah Muhammad Ibn Jabir Sinan al -Battanial – Harrani , atau yang lebih dikenal dengan sebutan al-Battani.

Riwayat Hidup dan Pendidikan al – Battani

Beliau mempunyai nama lengkap  Abu Abdullah Muhammad ibn Jabir ibn Sinan Al-Battanial-Harrani. Di Eropa, beliau  dikenal dengan sebutan Albategnius atau al-Batenus. Belaiu di lahirkan pada tahun 858 M di daerah Battan , Harran , yaitu sebuah daerah yang terletak di Barat Daya Irak. Beliau juga adalah merupakan cucu dari ilmuwan Arab yang terkemuka yaitu , Tsabit bin Qurah yang dikenal sebagai seorang alih astronomi dan matematika terbesar di dunia pada abad pertengahan , beliau meninggal dunia pada tahun 317 H ( 929 ) M

Pada awalnya al – Battani hidup di kalangan komunitas Sekte Sabian , yaitu sebuah sekte pemuja bintang yang religius dari Harran yang mempunyai motivasi yang kuat untuķ mempelajari ilmu perbintangan.

Sekte Sabian ini banyak melahirkan para ahli matematika seperti Thabit bin Qurrah. akan tetapi meskipun demikian , Al – Battani bukanlah seorang Sabian , mengingat bahwa nama yang melekat pada dirinya menunjukkan bahwa beliau adalah seorang muslim.

Kepakaran serta popularitas yang di raih oleh al – Battani sebagai seorang ahli astronomi dan matematika terbesar di dunia pada abad pertengahan kiranya tidak dapat dilepaskan dari latar belakang keluarganya yang mempunya darah ilmuwan.

Ayah beliau bernama Jabir ibn Sinan yang merupakan seorang pakar sains yang terkenal sudah mengarahkan putranya untuk menekuni dunia ilmu pengetahuan sejak kecil. Kepada ayahnyalah al – Battani belajar mengenai astronomi dan matematika . Memasuki masa remaja , al – Battani kemudian berhijrah ke Raqqa yang berada di tepi sungai Eufrat untuk menekuni bidang sains.

Di kota inilah al – Battani melakukan berbagai penelitian hingga berhasil menemukan beragam penemuan cemerlangnya. Pada saat itu Raqqa menjadi terkenal dan meraih kemakmuran karena KHaalifah Harun al– Rasyid Khalifah kelima dalam dinasti Abbasiyah , membangun sejumlah istana yang berada di kota tersebut pada tanggal 14 September 786 sebagai salah satu bentuk penghargaan terhadap sejumlah Penemuan yang dihasilkan oleh penelitian yang dilakukan al – Battani . Setelah membangun sejumlah istana di Raqqa, kota ini menjadi pusat dalam kegiatan ilmu pengetahuan dan juga perniagaan .

Ali bin Isa Al – Asthurlabi atau Yahya bin Abu Manshur yang merupakan dua orang ilmuwan yang terkemuka dalam bidang astronomi yang hidup pada masa al – Battani dapat jadi meskipun tidak terdapat data yang pasti mengenai hal ini. Merupakan guru astronomi dari al–Battani selain ari ayahnya. Akan teyapi yang jelas , al – Battani suah menguasai berbagai buju astronomi yang banyak beredar pada masanya , terutama buku yang berjudul Almagest karya Ptolemaeus.

Ibnu an – Nadim dalam Al –Fihrist menyebutkan bahwa al – Battani mengawali perjalanannya dalam mengamati masalah – masalah astronomi sejak tahun 264 ( 878 ) . Melalui pendapat ini benar berarti jika al – Battani pernah tinggal Dalam kurun waktu yang cukup lama di kota Raqqa serta melakukan penelitian astronomi yang berhasil ditemukannya pada tahun 306 H( 918 M ). Disamping itu al – Battani juga pernah tinggal lama di kota Anthakiyyaah yang berada di utara Syiria, tempat beliau membuat teropong bintang yang disebut dengan “ Teopong Al – Battani “.

Secara umum , masa di mana al – Battani hidup merupakan masa kejayaan ilmu astronomi Arab serta berbagai penemuan ilmiah di Arab pada bidang ini. Sebagai seorang yang pakar dalam bidang astronomi , al – Battani juga sudah mengarang banyak buku yang berisi mengenai hasil dari pengamatan bintang – bintang , perbandingan di antara berbagai kalender yang digunakan oleh berbagai suku bangsa ( Hijriyah  Persia, Masehi dan Qibti ) Serta berbagai peralatan yang digunakannya untuk mengamati bintang – bintang dan juga cara membuatnya. Diantara buku – buku karangannya tersebut yang paling terkenal adalah  Zij Ash-Shabi’ atau Zijal-Battani (buku ini terdiri atas pengantar serta lima puluh tujuh pasal yang kebanyakan isinya berdasarkan atau berasal dari pengalaman beliau dalam mengamati bintang – bintang serta pemikiran dan juga teorinya dalam ilmu astronomi )

 pengantar dan lima puluh tujuh pasal yang kebanyakan isinya berasal dari pengalamannnya mengamati bintang – bintang serta pemikiran dan teorinya dalam ilmu astronomi).

Selain Zijash-Shabi’, karya al-Battani yang lainnya dalam bidang astronomi adalah Risalah fiTahqiqiAqdari Al-Ittishalat, Ma’rifatiMathali’ al-Buruj fima Baina Arba’ al-Falak, Ta’dilal-Kawakib, Syarh Arba’ Maqalat li Bathlimus, dan Kutub waRasa’ilfi Ilmi Al-Jughrafiya.

Sumbangsih Pemikiran al – Battani

AL – Battani dikenal sebagai seorang imuwan dalam bidang astronomi yang di klaim berjasa dalam menemukan hitungan jumlah hari dalam setahun ( Dalam tahun masehi )berdasarkan pada perhitungan waktu yang digunakan bumi untuk mengelilingi matahari Yaitu 365 hari , 5 jam , 46 menit dan 2 detik. Almanak yang di ciptakan oleh al – Battani diakui adalah perhitungan astronomi yang paling akurat , yang hingga sampai kepada kita sejak pada abad pertengahan .

Bahkan pada saat abad pertengahan , orang – orang Eropa menggunakan sistem ini hingga pada abad pencerahan .

Selain almanak , al–Battani juga berhasil dalam memperbaiki nilai keseimbangan pada saat musim panas dan juga musim dingin serta beliau berhasil dalam menghitung nilai kecondongan bintang – bintang pada siang hati dan memperolehnya yang berada pada posisi 23 dan 35 derajat .

Persamaan Trigonometri al – Battani

Sementra itu dalam bidang matematika ( Trigonometri , aljabar, geometri ) serta geografi , al – Battani dianggap sebagai orang yang pertama kali mengganti kata “ ganjil “ yang digunakan oleh Ptolemaeus dalam sinus trigonometri dan juga orang pertama yang menghitung tabel matematika guna dapat mengetahui pada garis yang bengkok.

Disamping itu al – Battani juga berhasil menemukan sejumlah persamaan trigonometri dan juga memecahkan persamaan sin x = a cos x serta menemukan rumus :

Baca Juga :

Categories
TOKOH MUSLIM

Biografi Ibnu Battuta – Kisah Sang Muslim  Penjelajah Dunia

Ibnu Battuta – Biografi dan Kisah Sang Muslim  Penjelajah Dunia

Ibnu Battuta – Beliau dikenal karena petualangannya mengelilingi dunia . Hampir 120.000 km sudah ditempuhnya selama dalam kurun waktu 1325 – 1354 M atau tiga kali lebih panjang dari jarak yang sudah ditempuh oleh Marco Polo.

Seluruh catatan perjalanan dan juga pengalaman Ibnu Batututa selama pengembaraannya ditulis ulang oleh Ibnu Jauzi yaitu seorang penyair dan juga penulis buku kesultanan maroko.

Ibnu Jauzi menuliskannya berdasarkan pada paparan lisan yang didiktekan langsung oelh Ibnu Battuta. Penulisan buku tersebut di prakarsai oleh Sultan Maroko ketika itu , Abu Inan. Buku tersebut disusun selama dua tahun yang diberi judul “ Tuhfat al – Nuzzar fi Ghara ‘ ib al – Amsar wa – ‘ Aja ‘ ib al – Afsar “ atau yang lebih dikenal dengan “ Rihla Ibnu Battuta “.

PERJALANAN IBNU BATTUTA

Pada saat beliau berusia sekitar dua puluh tahun , tujuan awal dari perjalanan Ibnu Battuta adalah untuk menunaikan ibadah haji pada tahun 1325 M, namun tujuan awalnya tersebut sudah membawanya menuju penjelajahan selama 30 tahun yang gemilang.

DARI MAROKO KE MEKKAH

Perjalanan awal Ibnu Battuta di awali dari Tangier , Maroko menuju Mekkah . Guna menghindari berbagai resiko buruk seperti diserang oleh perampok , selama perjalanannya Ibnu Battuta bergabung dengan Khafilah yang akan menuju ke Mesir.

Bersama Khafilah tersebut , Ibnu Battuta kemudian dengan menyusuri hutan, bukit serta pegunungan menuju Tlemcen , Bejaia lalu kemudian sampai di Tunisia dan beliau kemudian tinggal disana selama dua bulan.

Dari Tunisia , Ibnu Battuta serta rombongan tersebut kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Libya. Sejak meninggalkan Tangier hingga Libya Ibnu Battuta sudah menempuh perjalanan darat hampir sejauh 3.500 km melintasi Afrika Utara.

BERKUNJUNG KE MESIR

Delapan bulan sebelum musim ibadah haji dimulai Ibnu Battuta memutuskan untuk mengunjungi Kairo . Di tahun 1326 M , Ibnu Battuta dan rombongannya sampai di Pelabuhan Alexandria yang terletak du ujung barat delta sungai Nil.

Ibnu Battuta sangat terkesan ketika melihat Pelabuhan Alexandria dan menurutnya Alexandria merupakan salah sayu dari lima tempat yang paling menakjubkan yang pernah beliau kunjungi. Ketika itu Alexandria adalah pelabuhan yang sangat sibuk dengan berbagai aktivitas atau kegiatan yang berada di bawah kendali Kerajaan Mamluk.

Sesudah beberapa pekan berada di Alexandria kemudian Ibnu Battuta singgah di Kairo selama beberapa saat dan kemudian langsung melanjutkan perjalanannya ke Damaskus denvan pengawasan ketat dari kerajaan Mamluk.

Ketika di Damaskus Ibnu Battuta menghabiskan bulan Ramadhan dan menggunakan waktunya untuk belajar, bertemu dengan beberapa guru , orang – orang terpelajar serta para hakim setempat.

Selama 24 hari beliau berada di Damaskus , selanjutnya Ibnu Battuta kemudian melanjutkan perjalanannya ke Mekkah dengan melalui jalur Suriah. Sepanjang jalur tersebut Ibnu Battuta banyak mengunjugi tempat – tempat suci.

Al – Khalil ( Hebron ) , Al – Quds ( Jerusalem ) , Bethlehem merupakan beberapa tempat yang di kunjungi beliau. Selama seminggu beliau berada di Jerusalem , Ibnu Battuta mengunjungi Masjid Al – Aqsa dan Kubah Batu.

Menjelang musim haji dimulai dan sesudah bulan Ramadhan selesai , Ibnu Battuta meninggalkan Damaskus dan beliau bergabung kembali dengan rombongan haji yang lainnya untuk melanjutkan perjalanannya ke Madinah. Dibawah pengawasan Kerajaan Mamluk yang menjamin keamanan para jemaah haji , maka Ibnu Battuta serta rombongannya bisa tiba di Madinah dengan selamat. Ibnu Battuta tinggal selama empat hari kemudian bergegas menuju Mekkah untuk melaksanakan ibadah hajinya.

Sesudah menyempurnakan ritual hajinya , Ibnu Battuta tidak pulang ke Tangier namun beliau memutuskan untuk melanjutkan pengembaraanya ke Irak dan Iran.

Dalam biografi Ibnu Battuta diketahui bahwa beliau sesuah pengembaraannya dari Irak dan Iran , Ibnu Battuta kemudian kembali lagi ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah hajinya yang kedua. Garis besar perjalanan Ibnu Battuta berawal dari Maroko hingga menuju Aljazair , Tunisia , Mesir , Palestina , Suriah hingga sampai di Mekkah.

Setelah mengembara ke Irak , Shiraz dan Mesopotamia Ibnu Battuta kemudian melaksanakan ibadah haji yang kedua dan beliau tinggal di Mekkah selama tiga tahun.

MENJELAJAH HINGGA KE INDIA

Kemudian beliau pergi dari Jedah dan melanjutkan perjalanannya ke Yaman dengan melalui jalur laut selanjutnya singgah di Aden dan meneruskan perjalanannya ke Mombasa Afrika Timur.

Dalam biografi Ibnu Battuta , dietahui bahwa pada tahun 1332 sesudah dari Kulwa, Ibnu Battuta pergi ke Oman dengan melalui Selat Hormuz , Siraf , Bahrain dan Yamama untuk kemudian kembali melaksanakan ibadah haji di Mekkah .

Setelah itu Ibnu Battuta , kemudian memutuskan untuk pergi ke India dengan melalui Jeddah , akan tetapi beliau berubah pikiran dan justru memutuskan untuk kembali mengunjungi Kairo , Palestina dan Suriah.

Sesampainya disana Ibnu Battuta kemudian melanjutkan kembali perjalanannya ke Asia Kecil ( Aleya ) dengan melalui jalur laut menuju ke Anatolua dan meneruskan petualangnnya dengan melintasi laut hitam.

Setelah beberapa lama dan berada dalam perjalanan yang penuh dengan bahaya , akhirnya Ibnu Battuta sampai di Turki dengan melalui Selatan Ukraina. Ibnu Battuta selanjutnya meneruskan penjelajahannya ke Khurasan serta mengunjungi kota – kota penting seperti Bukhara , Balkh , Heraat dan Nishapur. Ibnu Battuta melintasi pegunungan Hindukush untuk bisa sampai ke Afghanistan untuk selanjutnya masuk ke India dengan melalui Ghani dan Kabul.

Beliau terus menyelusuri Lahri ( dekat Karachi Pakistan ) , Sukkur , Multan, Sirsa dan Hansi hingga akhirnya Ibnu Battuta sampai di Delhi. Selama beberapa tahun berada disana Ibnu Battuta disambut dengan keramahan Sultan Mohammad Tughlaq.

Setelah kunjungan beliau di Delhi Ibnu Battuta kemudian kembali meneruskan perjalanannya melewati India Tengah dan Malwa kemudian beliau menggunakan kapal dari kambay menuju Goa.

Setelah beliau mengunjungi banhak tempat sebelumnya , selanjutnya Ibnu Battuta sampai di Pulau Maladewa dengan melalui jalur Pantai Malabar dan kemudian terus menyebrang ke Srilanka.

Ibnu Battuta masih terius melanjutkan penjelajahannya hingga beliau mendarat ke coromandal dan kembali lagi ke Maladewa hingga akhirnya beliaupun berlabuh di Bengal serta mengunjungi Kamrup, Sylhet dan Sonargoan yang berada dekat Dhaka.

 

BERKUNJUNG KE ACEH INDONESIA

Ibnu Battuta berlayar di sepanjang Pantai Arakan hingga kemudian Ibnu Battuta sampai di Aceh , Indonesia, tepatnya di Samudera Pasai . Disana Ibnu Battuta tinggal selama 15 hari dan beliau berjumpa dengan Sultan Mahmud Malik Zakir . Sesudah kunjungannya di Aceh Ibnu Battuta kemudian melanjutkan perjalanannya ke Kanton melalui jalur Malaysia dan Kamboja.

Setibanya beliau di Cina , Ibnu Battuta terus berpetualang ke Peking dengan melalui Hangchow. Setelah itu kemudian Ibnu Battuta kembali ke Calicut dengan menggunakan kapal dan beliau tiba di Dhafari dan Muscat untuk meneruskan Perjalanan kembali ke Iran , Iraq, Suriah , Palestina dan Mesir lalu kemudian kembali beribadah haji untuk yang ketujuh kalinya di Mekkah pada bulan November 1348 M.

 

 

MENJELAJAH KE SPANYOL

Sesudah ibadah haji terakhir beliau tersebut Ibnu Battuta kemudian pulang ke kampung halamannya , Fez. Akan tetapi perjalanan beliau tidak berhenti sampai disana saja , setelah pulang ke Fez , Ibnu Battuta kemudian kembali mengembara ke negeri Muslim lainnya seperti Spanyol dan Nigeria dengan melintasi gurun Sahara.

Pada tahun 1369 ketika usia 65 tahun Ibnu Battuta meninggal dunia , dalam biografi Ibnu Battuta diketahui bahwa beliau meninggalkan warisan yang berharga untuk dunia yang berupa catatan perjalanannya yang akan selalu senantiasa dikenang oleh umat manusia yang berjudul “ Rihlah Ibnu Battuta “ .

Baca Juga :

Categories
TOKOH INDONESIA TOKOH MUSLIM

Emha Ainun Nadjib – Budayawan dan Tokoh Agama

Emha Ainun Nadjib – Budayawan dan Tokoh Agama

Nama Lengkap : Emha Ainun Nadjib
Alias : Cak Nun
Agama : Islam
Tempat , tanggal lahir : Jombang , Jawa Timur , Rabu , 27 Mei 1953
Wraga Negara : Indonesia
Istri : Novia S. Kolopaking
Anak : Sabrang Mowo Damar Panuluh, Ainayya Al – Fatihah, Aqiela Fadia Haya, Jembar Tahta Aunillah, Anayallah Rampak Mayesha
Pendidikan :
  • SD, Jombang ( 1965 )
  • SMP Muhammadiyah, Yogyakarta ( 1968 )
  • SMA Muhammadiyah, Yogyakarta ( 1971 )
  • Pondok Pesantren Modern Gontor
  • Fakultas Ekonomi UGM ( tidak tamat )
Karier :
  • Pengasuh Ruang Sastra di harian Masa Kini, Yogyakarta ( 1970 )
  • Wartawan / Redaktur di harian Masa Kini, Yogyakarta ( 1973 – 1976 )
  • Pemimpin Teater Dinasti ( Yogyakarta )
  • Pemimpin Grup musik Kyai Kanjeng
  • Penulis puisi dan kolumnis di beberapa media
Penghargaan : Maret 2011, menerima penghargaan Satyalancana Kebudayaan 2010 dari Negara Kesatuan Republik Indonesia

Emha Ainun Nadjib atau yang lebih akrab disapa dengan  panggilan Cak Nun adalah seorang  budayawan dan intelektual muslim asal Jombang, Jawa Timur. Anak ke empat dari 15 bersaudara ini pernah menjalani pendidikan di Pondok Modern Gontor – Ponorogo dan menamatkan pendidikannya di SMA Muhammadiyah I Yogyakarta. Akan tetapi  pendidikan formalnya di UGM, tepatnya di Fakultas Ekonomi, hanya dapat  Cak Nun selesaikan selama  1 semester saja.

Sebelum menikah dengan Novia Kolopaking, Cak Nun pernah menikah dan dikaruniai seorang anak yang merupakan  seorang vokalis dari grup band Letto, Noe. Sedangkan dari pernikahannya dengan Novia, Cak Nun di karuniai empat orang anak.

Pada bulan Maret 2011, Cak Nun mendapatkan  Penghargaan Satyalancana Kebudayaan 2010 dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Menurut Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, Penghargaan Satyalancana Kebudayaan tersebut  diberikan kepada seseorang yang mempunyai  jasa besar di bidang kebudayaan dan dapat  melestarikan kebudayaan daerah atau nasional  dan  hasil karyanya berguna dan juga  bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Cak Nun mempelajari  sastra pada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi,  yaitu seorang sufi yang hidupnya misterius, dengan merantau di Malioboro, Yogyakarta  di antara tahun 1970 – 1975.  Belaiu pun gemar menekuni beberapa pementasan teater yang berhasil digelarnya. Cak Nun juga pernah mengikuti lokakarya teater di Filipina pada tahun  ( 1980 ), International Writing Program di Universitas Iowa, AS ( 1984 ), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda ( 1984 ) serta  Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman ( 1985 ).

Selain teater, Cak Nun juga merupakan  seorang penulis buku serta  aktif di kelompok musik arahannya, Musik Kiai Kanjeng, yang selalu membawakan lagu – lagu sholawat nabi dan juga  syair – syair religius yang bertemakan  dakwah. Disamping  itu, Cak Nun  juga rutin menjadi narasumber pengajian bulanan dengan komunitas Masyarakat Padang Bulan di berbagai daerah.

Baca Juga :

Categories
TOKOH MUSLIM

Biografi Al – Kindi – Sang Filosof Muslim

Biografi Al – Kindi – Sang Filosof Muslim

Abu Yusuf Ya’qub Ibnu Ishaq Al-Sabah Al-Kindi ( 801 – 873M ) . beliau  mempunyai nama lengkap Abu Yusuf Ya ’ qub bin Ishak bin Sabah bin Imran bin Ismail bin Muhammad bin Al – Asy ’ as bin Qais A l – Kindi. Nama al – Kindi berasal dari nama salah satu suku Arab yang besar sebelum Islam, yaitu suku Kindah. Al – Kindi lahir di Kufah pada tahun 185 H  / 801 M pada masa kekhalifahan Harun Ar – Rasyid.  Ayah beliau  bernama Ibnu As – Sabah pernah menjadi  seorang Gubernur Kufah pada masa kekhalifahan  Al – Mahdi ( 775 M – 785 M ) dan Harun Ar – Rasyid ( 786 M – 809 M ). Kakek beliau adalah , Asy ’ ats bin Qais, yang  di kenal sebagai salah seorang sahabat Nabi Muhammad  SAW. Al – Kindi adalah  sosok yang di kenal berotak encer. Tiga bahasa penting,  yaitu  Yunani, Suryani, dan Arab di kuasainya,  sebuah kelebihan yang jarang di miliki orang pada zaman  itu. Al – Kindi adalah  filosof muslim  pertama,  karena beliau merupakan  orang Islam pertama yang mendalami ilmu – ilmu filsafat.

 Pada saat itu,  hingga  abad ke- 7 M, pengetahuan filsafat masih di dominasi  oleh orang – orang Kristen Suriah. Al – Kindi menerjemahkan dan  menyimpulkan  bahwa karya – karya filsafat Helenisme. Beliau  juga di kenal sebagai pemikir muslim pertama yang menyelaraskan anatara filsafat dan agama. Al – Kindi memandang filsafat sebagai ilmu yang mulia.  Beliau juga  melukiskan filsafat sebagai ilmu dari segala ilmu serta  kearifan dari segala kearifan. Filsafat bertujuan untuk memperkuat kedudukan agama dan merupakan bagian dari kebudayaan Islam. Al – Kindi  menguasai beragam  ilmu pengetahuan. Karyanya  berjumlah  kurang lebih  dari 270 buah, yang bisa dikelompokkan dalam bidang filsafat, logika, ilmu hitung, musik,  dan astronomi, geometri, medis, astrologi, serta  psikologi, politik, dan meteorologi. Salah satu karya Al – Kindi di bidang filsafat adalah Risalah fi Madkhal al Mantiq bi Istifa al Qawl fih yang berisi mengenai  sebuah pengatar logika.

Al – Kindi mengalami kehidupan yang  tidak kurang  dari lima periode khalifah Dinasti Abbasyiah,  yaitu , Al – Amin, Al – Makmun, Al – Mu ’ tasim,  Al – Wasiq dan Al – Mutawakkil.  Beliau  menjadi salah satu ilmuwan besar  dan sekaligus bukti hidup kegemilangan kebudyaaan Islam era kejayaan Islam Baghdad di bawah kekuasaan Dinasti Abbasiyah.  Beliau juga di angkat sebagai guru dan tabib kerajaan. Al – Kindi meninggal  dunia pada tahun 869 M.

Baca Juga: