Categories
TOKOH INDONESIA TOKOH MUSLIM TOKOH POLITIK

Profil dan Biografi : Lafran Pane – Pendiri HMI ( Himpunan Mahasiswa Islam )

Profil dan Biografi : Lafran Pane – Pendiri HMI ( Himpunan Mahasiswa Islam )

Lafran Pane lahir di kampung Pagurabaan, Kecamatan Sipirok, yang terletak di kaki gunung Sibual – Bual, 38 kilometer kearah utara dari Padang Sidempuan, Ibu kota kabupaten Tapanuli Selatan,  beliau  adalah  tokoh pendiri organisasi HMI ( Himpunan Mahasiswa Islam ) yang merupakan organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia. Sebenarnya Lafran Pane lahir di Padangsidempuan pada tanggal  5 Februari 1922. Untuk menghindari berbagai macam tafsiran, karena bertepatan dengan berdirinya HMI Lafran Pane mengubah tanggal lahirnya menjadi  tanggal 12 April 1923. Sebelum tamat dari STI Lafran pindah ke Akademi Ilmu Politik ( AIP ) pada bulan April 1948. Setelah Universitas Gajah Mada ( UGM ) di negerikan pada tanggal 19 desember 1949, dan AIP dimasukkan dalam fakultas Hukum, ekonomi, sosial politik ( HESP ).

Dalam sejarah Universitas Gajah Mada ( UGM ), Lafran termasuk dalam mahasiswa – mahasiswa yang pertama mencapai gelar sarjana, yaitu pada  tanggal 26 januari 1953. Dengan sendirinya Drs. Lafran pane menjadi Sarjana Ilmu Politik yang pertama di Indonesia.

Semasa di STI inilah Lafran Pane mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam ( pada hari rabu pon, 14 Rabiul Awal 1366 H / 5 Februari 1947 pukul 16.00 ). HMI adalah  organisasi mahasiswa yang berlabelkan “ islam ” pertama di Indonesia dengan dua tujuan dasar. Pertama, Mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia. Kedua, Menegakkan serta  mengembangkan ajaran agama Islam. Dua tujuan inilah yang kemudian  menjadi pondasi dasar gerakan HMI sebagai organisasi maupun individu – individu yang pernah dikader di HMI.

Apabila  dinilai dari perspektif hari ini, pandangan nasionalistik rumusan tujuan tersebut barangkali tidak tampak luar biasa. Akan tetapi apabila dinilai dari standar tujuan organisasi – organisasi Islam pada masa itu, tujuan nasionalistik HMI  tersebut mampu memberikan sebuah pengakuan bahwa Islam dan Keindonesiaan tidaklah berlawanan, namun  berjalin berkelindan. Dengan kata lain Islam harus mampu beradaptasi dengan Indonesia, bukan sebaliknya. Dalam rangka mensosialisasikan gagasan keislaman-keindonesiaanya. Pada Kongres Muslimin Indonesia ( KMI ) pada tanggal 20 – 25 Desember 1949 di Jogjakarta yang di hadiri oleh 185 organisasi alim ulama dan Intelegensia seluruh Indonesia, Lafran Pane menulis sebuah artikel dalam pedoman lengkap kongres KMI ( Yogyakarta, Panitia Pusat KMI Bagian Penerangan, 1949, hal 56 ). Artikel tersebut berjudul “ Keadaan dan  Kemungkinan Kebudayaan Islam di Indonesia ”.

Dalam tulisan tersebut Lafran membagi masyarakat islam menjadi 4 kelompok. Pertama, golongan awam , yaitu mereka yang mengamalkan ajaran islam  tersebut  sebagai kewajiban yang di adatkan seperti upacara kawin, mati dan selamatan. Kedua, golongan alim ulama serta  pengikut – pengikutnya yang ingin agama islam dipraktekan sesuai dengan yang di lakukan oleh Nabi Muhammad S.A.W. Ketiga, golongan alim ulama dan  juga pengikutnya yang terpengaruh oleh mistik. Pengaruh mistik ini menyebabkan mereka berpandangan bahwa hidup hanyalah untuk akhirat saja. Mereka tidak begitu memikirkan lagi kehidupan dunia ( ekonomi, politik, pendidikan ). Sedangkan golongan keempat adalah golongan kecil yang mencoba menyesuaikan diri dengan kemauan zaman, selaras dengan wujud dan hakikat agama Islam. Mereka berusaha, agar agama itu benar – benar bisa di praktekkan dalam masyarakat Indonesia sekarang ini.

Lafran sendiri meyakini bahwa agama islam mampu  memenuhi kebutuhan – kebutuhan  manusia pada segala waktu dan tempat, artinya bisa menselaraskan diri dengan keadaan serta kebutuhan  masyarakat dimanapun juga. Adanya bermacam – macam bangsa yang berbeda – beda masyarakatnya, yang tergantung pada faktor alam, kebiasaan, dan  yang lain – lain. Maka kebudayaan islam bisa diselaraskan dengan masyarakat masing – masing.

Sebagai seorang  muslim dan warga Negara Republik Indonesia, Lafran juga menunjukan semangat nasionalismenya. Dalam kesempatan lain, pada pidato pengukuhan Lafran Pane sebagai Guru Besar dalam mata pelajaran Ilmu Tata Negara pada Fakultas Keguruan Ilmu Sosial, IKIP Yogyakarta ( sekarang UNY ), pada hari kamis  tanggal 16 Juli 1970, Lafran menyebutkan bahwa Pancasila merupakan hal yang tidak bisa berubah. Pancasila harus dipertahankan sebagai dasar Negara Republik Indonesia. Akan tetapi  beliau  juga tidak menolak beragam pandangan mengenai  pancasila.

Baca Juga :

Categories
PAHLAWAN NASIONAL TOKOH INDONESIA ULAMA

Biografi Hasyim Asyari – Pahlawan Nasional Indonesia Pendiri Nahdlatul Ulama

Biografi Hasyim Asyari – Pahlawan Nasional Indonesia Pendiri Nahdlatul Ulama

Hasyim Asyari / Kyai Haji Mohammad Hasyim Asy’arie adalah salah satu tokoh Pahlawan Nasional Indonesia yang merupakan pendiri NU / Nahdlatul Ulama, dimana organisasi ini adalah  organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia. Di kalangan ulama pesantren dan Nahdliyin  beliau  dijuluki dengan sebutan Hadratus Syeikh yang berarti maha guru.

K.H. Hasjim Asy ‘ ari belajar mengenai dasar – dasar agama dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman yang juga pemimpin Pesantren Nggedang di Jombang. Sejak usia 15 tahun,  beliau berkelana  dalam menimba ilmu di berbagai pesantren, antara lain Pesantren Trenggilis di Semarang, Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Siwalan di Sidoarjo dan Pesantren Kademangan di Bangkalan.

Pada tahun 1892, K.H. Hasjim Asy’ari pergi  untuk menimba ilmu ke Mekah, serta berguru pada Syekh Muhammad Mahfudz at – Tarmasi, Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Ahmad Amin Al – Aththar, Syekh Ibrahim Arab, Syekh Said Yamani, Syekh Rahmaullah, Syekh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As – Saqqaf, dan Sayyid Husein Al – Habsyi.

Pada tahun 1899, sepulangnya dari Mekah, KH Hasyim Asyari mendirikan sebuah pesantren yaitu  Pesantren Tebu Ireng, yang kelak menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada abad 20. Pada tahun 1926, KH Hasyim Asyari menjadi salah satu pemrakarsa berdirinya Nadhlatul Ulama ( NU ), yang berarti kebangkitan ulama. Hasyim Asyari sendiri lahir di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, pada tanggal  10 April 1875. Beliau  meninggal dunia di Jombang, Jawa Timur, 25 Juli 1947 pada umur 72 tahun dan beliau di makamkan di Tebu Ireng, Jombang. Berkat perannya dalam  mendirikan Nahdlatul Ulama dimana pada akhirnya organisasi ini sangat membantu kehidupan masyarakat indonesia dalam berbagai bidang, tidak heran jika K.H. Hasjim Asy’ari termasuk salah satu tokoh yang sangat berpengaruh dalam kehidupan bangsa indonesia

Baca Juga :

Categories
TOKOH INDONESIA TOKOH MUSLIM

Profil Rizieq Shihab – Tokoh Muslim Indonesia

Profil Rizieq Shihab – Tokoh Muslim Indonesia

Pria kelahiran Jakarta, 24 Agustus 1965 ini adalah anak dari  Hussein Shihab dan Sidah Alatas. Menginjak umur 11 bulan, ayahnya Rizieq wafat. Sejak saat itu, Rizieq diasuh oleh ibunya sendiri. Meskipun ditinggalkan oleh  ayahnya, Rizieq tetap memperoleh  bimbingan sang ibu dan ustadz di masjid tempat beliau  mengaji.

Tidak heran, meskipun tidak masuk pesantren, pemahaman Rizieq mengenai soal agama sangat menonjol di banding teman – temannnya ketika itu. Rizieq sendiri memilih sekolah dasar hingga menengah di lembaga pendidikan umum.

Memasuki masa kuliah, Habib Rizieq baru serius belajar di perguruan tinggi Islam di Arab Saudi. Beliau mengambil Jurusan Studi Agama Islam (Fikh dan Ushul Fikh), King Saud University, Riyadh, Arab Saudi. Bahkan beliau  sempat meneruskan ke Universitas Islam Internasional Antar Bangsa, Malaysia meskipun tidak selesai.

Berbekal dengan ilmu yang dimiliki, Habib Rizieq mulai mengabdi ke masyarakat dengan menjadi seorang  penceramah dan juga pengajar ngaji di majelis talim dan masjid. Seiring dengan  aktivitasnya, beliau juga aktif di organisasi sebagai anggota di Jami’at Kheir, organisasi Islam untuk kalangan Arab Indonesia.

Di organisasi ini juga, Habib Riziek diangkat menjadi Kepala Sekolah Madrasah Aliyah Jamiat Kheir, Jakarta. Disamping itu,  beliau juga diberikan amanah sebagai anggota Dewan Syariat BPRS At-Taqwa, Tangerang, Pembina sejumlah majelis talim Jabotabek, serta Presiden Direktur Markaz Syariah.

Seiring dengan perjalanan dakwah dan problematiknya, Habib Rizieq dan beberapa habib dan juga ulama mendirikan organisasi Front Pembela Islam (FPI). Organisasi ini untuk pertama kalinya dicetuskan di kediamannya Petamburan, Jakarta dan dideklarasikan di Pondok Pesantren Al-Umm, Ciputat, Tangerang pada tanggal 17 Agustus 1998.

Organisasi bentukan Habib Rizieq ini mempunyai visi dan misi dalam menerapkan syariat Islam secara kafah di bawah naungan khilafah islamiyah menurut manhaj nubuwwah, dengan melalui pelaksanaan da’wah, penegakan hisbah dan juga pengamalan jihad.

Sejak didirikan FPI, nama Habib Rizieq dikenal luas sebagai pendiri, ketua umum dan juga sekaligus imam besar. Sepak terjang Habib Rizieq bersama FPI sering kali menuai polemik. Berbagai pro dan kontra di antara masyarakat selalu bersaut – sautan. Pembawaan Habib Rizieq yang sangat berani pernah menyeretnya ke ranah hukum. Beberapa kali beliau berurusan dengan kepolisian, tidak membuat kapok Habib Rizieq dalam berdakwah.

Beliau bahkan semakin berani tampil terdepan ketika terjadi kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Beliau  bersama dengan habib, alim-ulama, asatidz, dan juga  ribuan umat Islam melakukan demo di depan Istana Presiden, pada tanggal  4 November 2016. Mereka menuntut keadilan penetapan hukum dan penahanan Ahok.

KELUARGA

Orang Tua    : Hussein Shihab dan Sidah Alatas

Istri                : Syarifah Fadhlun Yahya

PENDIDIKAN

  • SDN 1 Petamburan, Jakarta ( 1975 )
  • SMP 40 Pejompongan, Jakarta
  • SMP Kristen Bethel Petamburan, Jakarta ( 1979 )
  • SMAN 4, Gambir, Jakarta
  • SMA Islamic Village, Tangerang ( 1982 )
  • S1 Jurusan Studi Agama Islam ( Fikih dan Ushul ) King Saud University, Riyadh, Arab Saudi ( 1990 )
  • S2 Studi Islam, Universitas Antar-Bangsa, Malaysia

 

KARIER

  • Kepsek Madrasah Aliyah Jamiat Kheir, Jakarta
  • Dewan Syariat BPRS At – Taqwa, Tangerang
  • Pembina sejumlah Majelis Talim Jabotabek
  • Presiden Direktur Markaz Syariah
  • Pendiri Front Pembela Islam ( FPI )
  • Imam Besar Front Pembela Islam ( FPI )

 

Baca Juga :

Categories
TOKOH INDONESIA ULAMA

Profil Habib Lutfi bin Yahya – Ulama Yang jadi Wantimpres

Profil Habib Lutfi bin Yahya – Ulama Yang jadi Wantimpres

Pada tanggal 13 Desember 2019 , Presiden Joko Widodo resmi melantik Habib Lutfi bin Yahya  sebagai salah satu dari Sembilan Anggota Wantimpres ( Dewan Pertimbangan Presiden ) untuk periode 2019 – 2024.

Pemilik nama lengkap Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya dikenal sebagai seorang ulama yang  kharismatik. Beliau lahir di Pekalongan, 72 tahun yang  silam.

pemimpin majelis Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah (Jatman) terpilih sebagai pemimpin Forum Ulama Sufi Sedunia atau Al Muntada’ Sufi Al ‘Alami.

Ulama yang pernah mondok di Pondok Pesantren Roudlotul Mubtadiin Balekambang Jepara ini terpilih secara aklamasi dalam Konferensi Ulama Sufi Internasional di Pekalongan, Jawa Tengah.

Nama anggota Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini juga pernah masuk dalam 50 tokoh Islam paling berpengaruh versi The Royal Islamic Strategic Studies Centre.

Dengan kharisma yang dimiliki oleh beliau  Habib Luthfi bin Yahya disegani oleh banyak orang. Tidak sedikit elite politik yang segan kepada beliau.

Baca Juga :

Categories
INDONESIA TOKOH INDONESIA TOKOH POLITIK

Profil , Biodata Soekarwo – Anggota Wantimpres Jokowi

Profil , Biodata Soekarwo – Anggota Wantimpres Jokowi

Nama Lengkap : Dr. H. Soekarwo , SH, H. Hum
Tempat , tanggal lahir : Madiun , Jawa Timur , 16 Juni 1950
Istri : Nina Kirana Soekarwo
Anak : Ferdian Timur Satya , Karina Ayu Paramita, Kartika Ayu Prawitasari
Pendidikan :
  • SD Negeri Palur Madiun ( 1962 )
  • SMP Negeri 2 Ponorogo (  1965 )
  • SMAK Sosial Madiun (  1969 )
  • S1, Fakultas Hukum, Universitas Airlangga Surabaya (  1979 )
  • S2, Pascasarjana Hukum, Universitas Surabaya ( 1996 )
  • S3, Universitas Diponegoro, Semarang (  2004 )
Karier :
  • Koordinator GMNI, Universitas Airlangga Surabaya ( 1976 )
  • Kepala Cabang Dinas Pendapatan Surabaya Selatan (  1983 – 1994 )
  • Kepala Subdinas Perbankan, Dinas Pendapatan Surabaya (  1994 – 1997 )
  • Kepala Dinas Pendapatan Daerah Tingkat I Jatim Pusat ( 1997 )
  • Kepala Dinas Pendapatan Daerah Jatim (  2001 )
  • Ketua DP KORPRI Jawa Timur (  2005 )
  • Ketua Umum IPSI Jawa Timur (  2006 )
  • Sekretaris Daerah Provinsi Jawa timur (   2003 – 2008 )
  • Komisaris Utama Bank Jawa Timur (  2005 – 2009 )
  • Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia ( PA GMNI ) ( 2010 – 2014 )
  • Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur
  • Anggota Majelis Partai Demokrat (  2015 – 2020 )
  • Gubernur Jawa Timur (   2008 – 2013 )  dan  ( 2013 – 2018 )

Pengabdian  beliau selama 25 tahun di pemerintah daerah berujung manis bagi Soekarwo.  Beliau  menjadi gubernur Jawa Timur yang mengawali  kariernya sebagai birokrat. Berkat pengalamannya di jajaran birokrasi dengan puncak kariernya sebagai Sekretaris Daerah Kota Surabaya,  beliau  berhasil menjadi gubernur selama  dua kali.

Pria berkumis pemilik nama Soekarwo atau  yang biasa dipanggil dengan  Pakde Karwo ini lahir di Madiun, Jawa Timur pada tanggal 16 Juni 1950. Masa kecilnya di habiskan di Palur, Madiun.  Ayah dan ibunya tergolong sebagai  petani  yang makmur karena mereka mempunyai  lahan luas yang lebih dari cukup untuk membiayai sekolah anaknya. Soekarwo menikah dengan Nina Kirana dan dari pernikahannya  dikaruniai tiga orang anak yaitu  FerdianTimur Satya, Karina Ayu Paramita, dan Kartika Ayu Prawitasari.

Dalam pendidikan, Soekarwo terbilang beruntung. Meskipun beliau merupakan seorang  anak petani, beliau dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.  Beliau  mulai sekolah di SD Negeri Palur Madiun, SMP Negeri 2 Ponorogo, dan SMAK Sosial Madiun.  Kemudian  meneruskan ke Universitas Airlangga ( Unair ) Surabaya. Soekarwo berhasil meraih gelar sarjananya pada tahun 1979.

Di tengah kesibukannya  dalam menjalani pekerjaannya, seperti yang ditulis dalam situs permerintah Provinsi Jawa Timur, Soekarwo juga mengikuti Program Pascasarjana  Hukum di Univesitas Surabaya dan mengambil program S3 di Universitas Diponegoro Semarang, Jawa Tengah.

Lulus kuliah, selanjutnya beliau  mencoba masuk menjadi pegawai negeri. Kariernya di pegawai negeri diawali  pada tahun 1983. Ketika  usianya menginjak 33 tahun, Soekarwo menjadi Kepala Cabang Pendapatan Surabaya. Sesudah  itu, kariernya terus menaik. Beliau  menangani tingkat provinsi. Beliau juga  menjabat kepala Dinas Pendapatan Daerah Jawa Timur hingga Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur.

Puncaknya, pada tahun 2008, Soekarwo maju sebagai calon gubernur  dan berpasangan dengan Saefullah Yusuf. Untuk mempermudah dukungannya dalam gubernur, Soekarwo membutuhkan  kendaraan politik untuk maju di ajang Pilgub. Hasilnya, beliau  terpilih menjadi gubernur Jawa Timur untuk periode 2008 – 2013. Beliau  juga menjadi Ketua DPD Demokrat Jawa Timur.

Sukses pada Pilgub 2008, Soekarwo kembali mengikuti pilgub 2013 dan juga berpasangan dengan Saefullah Yusuf. Beliau  kembali berhasil memenangkan Pilgub untuk menjadi gubernur Jawa Timur 2013 – 2018. Seiring dengan itu, kariernya di partai juga meningkat. Beliau  dipilih oleh Susilo Bambang Yudhoyono sebagai anggota Majelis Tinggi dalam kepengurusan DPP Partai Demokrat periode 2015 – 2020.

 Pada tanggal 13 Desember 2019 , Presiden Joko Widodo resmi melantik Soekarwo  sebagai salah satu dari Sembilan Anggota Wantimpres ( Dewan Pertimbangan Presiden ) untuk periode 2019 – 2024.

Baca Juga :

Categories
KISAH INSPIRATIF KONGLOMERAT MILYADER TOKOH INDONESIA TOKOH POLITIK

Ini Dia Profil Konglomerat Dato Sri Tahir Yang Jadi Wantimpres

Ini Dia Profil Konglomerat Dato Sri Tahir Yang Jadi Wantimpres

Pada tanggal 13 Desember 2019 , Presiden Joko Widodo resmi melantik Dato Sri Tahir  sebagai salah satu dari Sembilan Anggota Wantimpres ( Dewan Pertimbangan Presiden ) untuk periode 2019 – 2024

Sebelumnya Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko mengangkat Dato Sri Tahir sebagai penasihatnya. Konglomerat dan bos Bank Mayapada ini  ditugaskan untuk  membantu mengurusi kesejahteraan prajurit TNI.

Tahir memang dikenal sebagai sosok miliarder yang sangat dermawan. Melalui yayasan Tahir Foundation, orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes ini sudah  menunjukkan kiprahnya di bidang amal. Sebutlah, sumbangan 10 unit armada bus Transjakarta ditambah lagi   dengan uang Rp 6 miliar yang ketika  itu diterima langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, atau pengobatan gratis untuk anak – anak penderita kanker.

Tidak k hanya itu, lewat Tahir Foundation, pemilik kelompok bisnis ini juga menjadi miliarder pertama Indonesia yang masuk dalam Bill & Melinda Gates Foundation, organisasi nirlaba buatan miliarder terkaya sejagad Bill Gates.

Pendiri Mayapada Group

Dato ’  Sri Prof. Dr. Tahir atau  yang biasa akrab dipanggil dengan  Tahir lahir di Surabaya pada tanggal 26 Maret 1952. Pria terkaya di Indonesia ini mengawali  kiprah di dunia usaha dengan merintis bisnis garmen.

Dari garmen lambat laun, Tahir merambah bisnis lain. Di awali dari Mayapada Group yang di dirikannya pada tahun  1986, bisnisnya  terus merambat dari dealer mobil, garmen, perbankan, real estate hingga  di bidang kesehatan. Bahkan Tahir juga masuk ke dunia media dengan mendirikan Forbes Indonesia.

Bank Mayapada yang di dirikan pada  tahun 1990 menjadi salah satu andalan  dari Tahir untuk mengumpulkan pundi – pundi uang.  Dari bisnis yang dijalankannya tersebut , Tahir berhasil  mengantongi kekayaan .

Ia juga  tercatat sebagai orang terkaya nomor 10 di Indonesia dan 973 dunia versi Majalah Forbes.

Gagal Jadi Dokter

Menjadi  seorang pengusaha sebenarnya bukanlah cita – cita Tahir ketika  masih kecil. Impian Tahir sesunguhnya adalah ingin menjadi seorang dokter. Setelah  lulus dari SMA Kristen Petra Kalianyar Surabaya, Tahir kemudian  melanjutkan pendidikannya dengan menjadi mahasiswa sekolah kedokteran di Taiwan. Akan tetapi  cita – citanya kandas karena sang ayah meninggal dunia  sehingga tidak sanggup membayar biaya kuliah.

Berbekal beasiswa, Tahir  kemudian melanjutkan sekolah bisnis di Nanyang Technological University, Singapura. Akan tetapi , meskipun  sudah menjadi pengusaha yang  sukses, impian Tahir ternyata belum pupus. Beliaupun  kemudian mendirikan Rumah Sakit Mayapada dan mulai beroperasi sejak tahun  1995.

Melalui rumah sakit ini, Tahir membantu orang – orang yang kurang mampu, termasuk memberikan pengobatan gratis bagi anak – anak yang mengidap kanker.  Bahkan, untuk biaya transplantasi yang miliaran bisa di tanggung  oleh yayasan amal tersebut.

Miliarder Murah Hati

Membantu anak – anak penderita kanker mungkin hanya sebagian dari aktivitas atau kegiatan  sosial yang dilakukan oleh Tahir melalui lembaga amalnya. Melihat  sepak terjangnya, Tahir merupakan  contoh miliarder yang dapat  dijadikan panutan karena tidak pelit mengeluarkan uang ratusan miliar demi kesehatan orang miskin atau untuk beasiswa bagi mahasiswa yang  kurang mampu di seluruh Indonesia.

Dengan kekayaan US$ 1,85 miliar, Tahir menjadi salah satu miliarder  yang paling murah hati di tanah air. Forbes mencatat, Tahir  sudah menyumbangkan tidak kurang dari US$ 50 juta atau Rp 475 miliar untuk sejumlah universitas di China, Indonesia, Amerika Serikat, dan juga  Singapura.

Tidak hanya Tahir, sang Istri yang merupakan putri dari pengusaha Indonesia Mochtar Riady, Rosy Riady, juga mendirikan yayasan sosial h2h Charity yang berperan dalam  membantu menyekolahkan anak – anak yang  kurang mampu di Indonesia. Tahir juga bergabung dengan Bill & Melinda Gates Foundation, yayasan sosial milik miliader terkaya di dunia Bill Gates.

Bos Mayapada ini juga diketahui menyumbangkan dana hingga US$ 100 juta atau  setara dengan  Rp 950 miliar, dari rencana sebesar US$ 200 juta. Sumbangan  tersebut digunakan  untuk membantu yayasan tersebut  dalam menanggulangi melawan masalah TBC, HIV, dan malaria di Indonesia. Dana tersebut juga digunakan guna  memperluas akses alat kontrasepsi.

Ketika  banjir menyerbu Jakarta ,  Tahir Foundation menyalurkan bantuan kepada nelayan dan petambak sebesar Rp 100 miliar.

 

Baca Juga :

Categories
TOKOH INDONESIA TOKOH MUSLIM

Emha Ainun Nadjib – Budayawan dan Tokoh Agama

Emha Ainun Nadjib – Budayawan dan Tokoh Agama

Nama Lengkap : Emha Ainun Nadjib
Alias : Cak Nun
Agama : Islam
Tempat , tanggal lahir : Jombang , Jawa Timur , Rabu , 27 Mei 1953
Wraga Negara : Indonesia
Istri : Novia S. Kolopaking
Anak : Sabrang Mowo Damar Panuluh, Ainayya Al – Fatihah, Aqiela Fadia Haya, Jembar Tahta Aunillah, Anayallah Rampak Mayesha
Pendidikan :
  • SD, Jombang ( 1965 )
  • SMP Muhammadiyah, Yogyakarta ( 1968 )
  • SMA Muhammadiyah, Yogyakarta ( 1971 )
  • Pondok Pesantren Modern Gontor
  • Fakultas Ekonomi UGM ( tidak tamat )
Karier :
  • Pengasuh Ruang Sastra di harian Masa Kini, Yogyakarta ( 1970 )
  • Wartawan / Redaktur di harian Masa Kini, Yogyakarta ( 1973 – 1976 )
  • Pemimpin Teater Dinasti ( Yogyakarta )
  • Pemimpin Grup musik Kyai Kanjeng
  • Penulis puisi dan kolumnis di beberapa media
Penghargaan : Maret 2011, menerima penghargaan Satyalancana Kebudayaan 2010 dari Negara Kesatuan Republik Indonesia

Emha Ainun Nadjib atau yang lebih akrab disapa dengan  panggilan Cak Nun adalah seorang  budayawan dan intelektual muslim asal Jombang, Jawa Timur. Anak ke empat dari 15 bersaudara ini pernah menjalani pendidikan di Pondok Modern Gontor – Ponorogo dan menamatkan pendidikannya di SMA Muhammadiyah I Yogyakarta. Akan tetapi  pendidikan formalnya di UGM, tepatnya di Fakultas Ekonomi, hanya dapat  Cak Nun selesaikan selama  1 semester saja.

Sebelum menikah dengan Novia Kolopaking, Cak Nun pernah menikah dan dikaruniai seorang anak yang merupakan  seorang vokalis dari grup band Letto, Noe. Sedangkan dari pernikahannya dengan Novia, Cak Nun di karuniai empat orang anak.

Pada bulan Maret 2011, Cak Nun mendapatkan  Penghargaan Satyalancana Kebudayaan 2010 dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Menurut Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, Penghargaan Satyalancana Kebudayaan tersebut  diberikan kepada seseorang yang mempunyai  jasa besar di bidang kebudayaan dan dapat  melestarikan kebudayaan daerah atau nasional  dan  hasil karyanya berguna dan juga  bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Cak Nun mempelajari  sastra pada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi,  yaitu seorang sufi yang hidupnya misterius, dengan merantau di Malioboro, Yogyakarta  di antara tahun 1970 – 1975.  Belaiu pun gemar menekuni beberapa pementasan teater yang berhasil digelarnya. Cak Nun juga pernah mengikuti lokakarya teater di Filipina pada tahun  ( 1980 ), International Writing Program di Universitas Iowa, AS ( 1984 ), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda ( 1984 ) serta  Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman ( 1985 ).

Selain teater, Cak Nun juga merupakan  seorang penulis buku serta  aktif di kelompok musik arahannya, Musik Kiai Kanjeng, yang selalu membawakan lagu – lagu sholawat nabi dan juga  syair – syair religius yang bertemakan  dakwah. Disamping  itu, Cak Nun  juga rutin menjadi narasumber pengajian bulanan dengan komunitas Masyarakat Padang Bulan di berbagai daerah.

Baca Juga :

Categories
KISAH INSPIRATIF TOKOH INDONESIA TOKOH POLITIK

Biografi dan Profil Ganjar Pranowo – Kisah Inspiratif dari Sang Gubernur

Biografi dan Profil Ganjar Pranowo – Kisah Inspiratif dari Sang Gubernur

Biodata Ganjar Pranowo

Nama : H. Ganjar Pranowo , S.H,M.IP
Tempat , tanggal lahir : Karanganyar, Jawa Tengah , 28 Oktober 1968
Istri : Hj. Siti Atikoh Suryani
Anak : Zinadine Alam Ganjar
Orangtua : Pramuji ( Ayah ), Sri Suparmi ( Ibu )
Agama : Islam
Riwayat Pendidikan :
  • SDN 1 Kutoarjo
  • SMPN 1 Kutoarjo
  • SMA BOPKRII Yogyakarta
  • Universitas Gajah Mada, Fakultas Hukum
  • Universitas Indonesia, Pascasarjana Ilmu Politik
Penghargaan :
  • Gubernur Inovatif  ( 2014 – 2016 )
  • Penghargaan Adi Tangguh dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( 2015 )
  • Tokoh Publik Inspirasional IPRAS  ( 2015 )
  • Penghargaan KPK ( 2015 )
  • Penghargaan dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional ( PPN )

Sejak menduduki jabatan sebagai Gubernur Jawa Tengah, nama Ganjar Pranowo menjadi lebih dikenal oleh publik. Gaya memimpin yang tegas dan cerdas membuat beliau  dikagumi oleh banyak orang khususnya masyarakat Jawa Tengah.  Sikapnya yang santun namun jenaka membuatnya mudah dic intai oleh rakyat. Selain itu, kehidupannya yang juga di hiasi oleh kisah dengan perawakan jangkung menjadi pesona tersendiri dari gubernur yang satu ini dan cinta romantis dengan istri membuat beliau  juga menjadi tokoh yang di idolakan oleh ibu – ibu.

 Pendidikan Ganjar Pranowo

Ganjar Pranowo yang menjadi Gubernur Jawa Tengah di lalui dengan menempuh jalan panjang berliku yang tentunya tidak mudah. Para pemipin hebat umumnya dibentuk oleh kemampuan mereka melewati segala rintangan dan ujian hidup yang membantu membentuk menjadi sosok – sosok yang luar biasa. Beliau lahir di Karanganyar, Jawa Tengah pada  tanggal 28 Oktober 1968. Ayahnya bernama Pamuji dan ibunya bernama Sri Suparmi.

 Beliau mempunyai  lima saudara kandung. Ganjar adalah  anak yang cerdas.  Beliau  tumbuh dalam keluarga yang mendukungnya untuk mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi. Riwayat pendidikannya di mulai dari pendidikan dasar yang ditempuh di SD 1 Kutoarjo dan lulus pada  tahun 1981 dan melanjutkan pendidikan ke SMP 1 Kutoarjo.

Ketika  menginjak masa remaja, Ganjar memilih untuk melanjutkan pendidikan menengah atasnya di SMA BOPKRI Yogyakarta.  Selanjutnya  pendidikan tinggi ditempuh di salah satu universitas ternama yaitu Universitas Gadjah Mada dengan mengambil konsentrasi pada bidang hukum. Jiwa kepemimpinan Ganjar telah terasah sejak berada di bangku kuliah dengan aktif dalam organisasi – organisasi kampus. Ganjar aktif dalam kegiatan di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia ( GMNI ) dan Mapagama ( Mahasiswa Pecinta Alam Gadjah Mada ). Karir politiknya dimulai sejak masa orde baru.

Beliau  sudah  bergabung bersama dengan Partai Demokrasi Perjuangan atau PDI. Iklim politik yang kurang sehat pada masa itu membuat beliau  lebih memilih untuk menjalani kegiatan dengan menekuni usaha di bidang hukum dengan membuka bisnis konsultan sumber daya manusia.

Perjalanan Ganjar Pranowo Hingga Menjadi Gubernur Jawa Tengah

Kecerdasan yang memang sudah  menjadi bagian dari diri Ganjar membuat beliau  semakin bersinar. Suami dari Siti Atikoh Supriyanti akhirnya kembali bergabung dengan PDI dan menjadi kader yang mempunyai  kemajuan  dan  perkembangan pesat.

Kemudian  beliau  mampu menjadi salah satu orang yang duduk menjadi anggota legislatif pada tahun 2004. Meskipun sebenarnya jabatan tersebut di peroleh bukan karena kemenangannya dalam pemilihan umum akan tetapi karena  menggantikan koleganya dari PDI yaitu Jacob Tobing yang ketika  itu mendapat mandat untuk bertugas sebagai duta besar di Korea Selatan.

Ganjar Pranowo adalah sosok yang terkenal dengan keberanian. Keberaniannya untuk menyuarakan aspirasi rakyat dengan keteguhan prinsip yang tidak dapat  digoyahkan menjadi ciri khas Ganjar yang membuat beliau  semakin di perhitungkan di kancah perpolitikan Indonesia. Oleh karena itu, Ganjar kembali berhasil untuk duduk di kursi parlemen dengan terpilih dalam pemilihan umum pada  tahun 2009 dan menjabat sebagi Wakil Ketua Komisi II untuk urusan dalam negeri hingga 2014. Akan tetapi  karena terpilih untuk memimpin Jawa Tengah, Ganjar tidak merampungkan masa tugasnya.

Karir sebagai Gubernur di awali sejak tahun 2013.  Beliau  terpilih untuk menjadi orang nomor satu di Jawa Tengah di dampingi oleh Heru Sudjatmoko sebagi wakil gubernur. Diusung oleh PDI sebagai partai yang mendukung membuat pasangan ini bisa menang dan memperoleh suara mencapai 48,82 %. Pada  tanggal 23 Agustus 2013 Ganjar resmi dilantik menjadi gubernur oleh Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi di DPRD Jawa Tengah.

Sejak terpilih menjadi gubernur banyak gebrakan yang membuat beliau  di acungi jempol. Salah satu yang membuat heboh pada saat  inspeksi mendadaknya ke jembatan timbang di subang yang kemudian menjadi pemberitaan. Ganjar yang pada saat  itu memergoki anak buahnya melakukan pungutan liar sehingga membuat  beliau  kemudian naik pitam.

Disamping  itu  beliau  juga dikenal sebagai gubernur twitter karena   beliau  menggunakan twitter sebagai sarana atau media komunikasi dalam dalam menampung aspirasi, keluhan dari rakyatnya terkait dengan pembangunan Jawa Timur.

Baca Juga :

Categories
PAHLAWAN NASIONAL TOKOH INDONESIA

Biografi Abdoel Moeloek – Pahlawan Kemerdekaan di Tanah Lampung

Biografi Abdoel Moeloek – Pahlawan Kemerdekaan di Tanah Lampung

Nama : Dr . H. Abdoel Moeloek
Tempat , tanggal lahir : Padang Panjang , 10 Maret 1905
Wafat : Bandar Lampung , 1973
Pendidikan : Dokter Lulusan STOVIA/GH, Jakarta 1932
Istri : Hj. Poeti Alam Naisjah
Jumlah anak : 5 Orang ( 3 Laki – laki , 2 Perempuan )
Riwayat Pekerjaan :
  • Kepala RS Bangkinang, ( 1935 )
  •  Dokter di RS Kariadi, Semarang ( 1937 )
  • Dokter di Krui, Liwa, ( 1940—1945 )
  • Mengambil alih RS Tanjungkarang dan RS Tentara Tanjungkarang dari tangan Jepang, ( 1945 ).
  • Kepala RS Tanjungkarang dan Kepala RS Tentara Tanjungkarang.

Kota  Krui dan Liwa di Lampung Barat adalah tempat pengabdian pertama Abdoel Moeloek di Lampung. Lima tahun ( 1940 – 1945 ) menjadi dokter disana, sentuhan tangannya identik dengan kesembuhan orang sakit. Kehadiran Abdoel Moeloek di Krui dan Liwa telah membuka kesadaran masyarakat mengenai  dunia medis. Apapun jenis penyakitnya, masyarakat optimis sembuh apabila  diobati dokter asal Sumatera Barat ini . Pasiennya bahkan meluas hingga  daerah Muara Dua, Sumatera Selatan.

Namanya kini di abadikan  menjadi nama  rumah sakit milik negara di Bandar Lampung  yaitu  Rumah Sakit Umum Daerah ( RSUD ) dr. Haji Abdul Moeloek.  Beliau  adalah direktur kelima Rumah Sakit Tanjungkarang ( sebelum diubah menjadi RSUD dr. Haji Abdoel Moeloek ), dan paling lama memegang jabatan sebagai direktur  yaitu selama 12 tahun, dari 1945 hingga 1957.

Karier Abdoel Moeloek di dunia medis diawali setelah  beliau  lulus dari sekolah dokter Stovia/GH, Jakarta ( 1932 ). Pada tahun 1935, ayah mantan Menteri Kesehatan Farid Anfasa Moeloek ini diangkat sebagai kepala RS Bangkiang. Dua tahun kemudian  yaitu pada tahun 1937, dokter kelahiran Padang Panjang, 10 Maret 1905 ini ditempatkan lagi di RS Kariadi Semarang.

Pada zaman perang kemerdekaan ( 1940 – 1945 )  beliau  ditugaskan menjadi dokter untuk wilayah Lampung ( Krui dan Liwa ) dan Sumatera Selatan (Muara Dua). Abdoel Moeloekpun sempat diangkat sebagai ” Bupati Perang ” di Liwa dengan pangkat mayor tituler. ” Gubernur Perang “-nya adalah dr. Abdul Gani yang saat itu menjabat sebagai  gubernur Sumatera Selatan.

Abdoel Moeloek dikenal sangat disiplin, pekerja keras, tegas, jujur, dan juga dekat pada masyarakat. Pada saat  militer Jepang merekrut banyak warga untuk dijadikan romusa ( pekerja paksa yang tak dibayar ) di Palembang, misalnya,  beliau  memiliki  trik khusus. Ketika  itu, banyak romusa yang tidak pulang lagi karena meninggal  dunia akibat sakit atau kurang makan.

Setelah lima tahun bertugas  di pesisir barat Lampung – Sumsel, Abdoel Moeloek  kemudian ditempatkan di RS Tanjungkarang ( 1945 ). Satu – satunya dokter  ketika  itu,  beliau  menjabat Kepala RS Tanjungkarang dan RS Tentara Tanjungkarang, setelah kedua rumah sakit tersebut  diambil alih dari tangan Jepang.

Peranan Abdoel Moeloek menjadi penting dan sangat strategis ketika  perang kemerdekaan ( 1945 – 1950 ).  Beliau  menyuplai obat – obatan kepada para gerilyawan Lampung.  Beliau  juga terjun langsung  dalam menangani korban perang.

Meskipun  demikian,  beliau  tetap menjaga dedikasi serta  profesionalitasnya sebagai dokter. Suatu hari, terjadi pertempuran antara tentara gerilya dan Belanda. Dengan pita palang merah di lengan, beliau  mengobati korban – korban. Bukan hanya pejuang Republik, melainkan juga tentara Belanda.

Untuk merawat korban perang yang terus berdatangan, Abdoel Moeloek dan paramedis RS Tanjungkarang bekerja siang dan malam. Beliau  amanatkan pada seluruh tenaga medis supaya  mengobati siapa saja yang di bawa ke rumah sakit. Tidak membeda – bedakan prajurit Indonesia atau Belanda.

Abdoel Moeloek sangat suka membaca dan belajar. Di kediamannya dahulu ( depan RSUD dr. Abdoel Moeloek Bandar Lampung ) beliau  mendesain sebuah ruangan dengan  ukuran 3 x 4 meter untuk ruang perpustakaan. Apabila  tidak sedang bekerja, beliau  menghabiskan waktunya di situ.

Dalam mendidik kelima putra-putrinya, metode yang dilakukan  oleh Abdoel Moeloek patut diteladani. Beliau  mendidik mereka dengan perbuatan ( disiplin, sikap jujur, dan  juga tanggung jawab ), bukan dengan perkataan.

Sebelum ajal menjemputnya tahun  pada 1973, Abdoel Moeloek berpesan pada istri dan anak – anaknya bahwa  Jasadnya tidak dimakamkan di Makam Pahlawan. Beliau  beralasan supaya  pusaranya dekat masyarakat dan bisa dikunjungi kapan dan oleh siapa saja. Sedangkan apabila  dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, keluarga dan kerabat hanya berziarah pada saat – saat tertentu saja  atau hari besar nasional. Atas wasiat itu, sanak – keluarga kemudian memakamkan jasadnya di Taman Permakaman Umum ( TPU ) Lungsir di Telukbetung Utara.

Karier dan juga pengabdian Abdoel Moeloek diwarisi  oleh dua anaknya yaitu  Farid Anfasa Moeloek dan Herwin Moeloek. Keduanya merupakan  guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Baca Juga :

Categories
TOKOH INDONESIA TOKOH POLITIK

Biografi & Profil Ahok – Basuki Tjahaja Purnama

Biografi & Profil Ahok – Basuki Tjahaja Purnama

Biodata Ahok

Nama Lengkap : Basuki Tjahaja Purnama
Alias : Ahok, Basuki Tjahaja , Basuki T Purnama
Agama : Kristen
Tempat Lahir : Manggar, Bangka Belitung
Tanggal Lahir : Rabu , 29 Juni 1966
Warga Negara : Indonesia
Istri : Puput Nastiti Devi ( m. 2019 ) , Veronica Tan ( m. 1997-2019 )
Anak : Nathania Purnama , Nicholas Purnama , Daud Albenner Purnama
Pendidikan :
  • Program Pasca Sarjana Manajemen Keuangan di Sekolah Tinggi.
  • Manajemen Prasetiya Mulya Jakarta (  1994 ).
  • Sarjana Teknik Geologi di Universitas Trisakti Jakarta ( 1990 ).
  • SMA III PSKD Jakarta (  1984 ).
  • SMP No. 1 Gantung, Belitung Timur (  1981 ).
  • SDN No. 3 Gantung, Belitung Timur ( 1977 ).
Karier :
  • Bupati Belitung Timur (  2005 – 2006 ).
  • Anggota DPRD Belitung Timur bidang Komisi Anggaran (  2005 – 2006 ) .
  • Asisten Presiden Direktur bidang analisa biaya dan keuangan PT. Simaxindo Primadaya, Jakarta (  1994 – 1995 ).
  • Direktur PT. Nurindra Ekapersada, Belitung Timur ( 1992 – 2005 ).
  • Wakil Gubernur DKI Jakarta ( 2012 )
  • Gubernur DKI Jakarta ( 2014 – 2017 )
Organisasi : Ketua Dewan Yayasan Sosial dan Agama di Jakarta.
Penghargaan :
  • Tokoh Anti Korupsi dari Gerakan Tiga Pilar Kemitraan  ( KADIN, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Masyarakat Transparansi Indonesia ), 2007.
  • Salah satu dari 10 Tokoh yang Mengubah Indonesia, Majalah Tempo, 2006.
  • Gold Pin, Fordeka ( Forum Demokrasi ), 29 Oktober 2006.

Biografi dan Profil Ahok

Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab dengan nama Ahok adalah  seorang politikus asal Belitung.  Beliau  menjadi pasangan Jokowi dalam Pemilu Gubernur DKI Jakarta tahun  2012. Pada pemilu tahun 2012, Jokowi dan Ahok terpilih menjadi gubernur dan wakil gubernur Jakarta. Sebelumnya,  beliau  menjabat sebagai Bupati Belitung Timur yang  menggantikan Usman Saleh. Pada tanggal  14 November 2014, Ahok dilantik menjadi gubernur DKI Jakarta. Menggantikan Jokowi yang terpilih sebagai Presiden RI pada Pemilu 2014.

Ahok lahir di Belitung pada tanggal 29 Juni 1966. Beliau merupakan  anak pertama dari pasangan Indra Tjahaja Purnama dan Buniarti Ningsing yang merupakan  seorang keturunan Tionghoa – Indonesia. Bersama dengan ketiga adiknya, Ahok menghabiskan masa kecilnya di Desa gantung, Belitung Timur, hingga tamat sekolah menengah pertama. Sesudah  itu, Ahok hijrah ke Jakarta untuk meneruskan pendidikannya.

Di Jakarta, Ahok menimba Ilmu di Universitas Trisakti dengan mengambil Jurusan Teknik Geologi di Fakultas Teknik Mineral. Setelah lulus dan menmperoleh  gelar Insinyur Geologi, pada tahun 1989 Ahok kembali ke Belitung dan mendirikan CV Panda yang bergerak di bidang kontraktor pertambangan PT Timah.

Dua tahun kemudian, Ahok melanjutkan kuliahnya  di Sekolah Tinggi Manajemen Prasetiya Mulya. Setelah memperoleh  gelar MAgister Manajemen,  beliau  kemudian bernaung di bawah PT Simaxindo Primadaya dengan menjabat sebagai staf direksi bidang analisa biaya serta  keuangan proyek.

Dengan mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan pengalamannya bekerja, Ahok mendirikan PT Nurindra Ekapersada, yang merupakan awal perjalanan dari Gravel Pack Sand ( GPS ). Setelah berhenti bekerja untuk PT Simaxindo, Ahok kemudian  mendirikan pabrik pengolahan asir kuarsa pertama di Belitung, yang berlokasi di Dusun Burung Mandi. Perusahaan tersebut  beliau  dirikan dengan mengadopsi dan juga  mengadaptasi teknologi Amerika Serikat dan Jerman. Bersama dengan berkembangnya pabrik tersebut, kawasan industri dan pelabuhan samudra berkembang. Kawasan tersebut sekarang dikenal dengan nama Kawasan Industri Air Kelik ( KIAK ).

Selanjutnya , pada tahun 2004, Ahok berhasil meyakinkan seorang investor Korea untuk membangun Tin Smelter atau peleburan bijih timah di KIAK. Di tahun yang sama  juga, Ahok mulai bergabung dengan Partai Perhimpunan Indonesia Baru ( Partai PIB ), dan di tunjuk sebagai ketua DPC PIB Kabupaten Belitung. Pada Pemilu tahun  2004,  beliau  terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Belitung hingga tahun 2009.

Satu tahun kemudian, setelah mengantongi 37% lebih suara rakyat, Ahok menjabat sebagai Bupati Belitung Timur. Dalam pemerintahannya, Ahok membebaskan biaya kesehatan kepada seluruh warga tanpa kecuali. Akan tetapi , pada tanggal  22 Desember 2006, Ahok resmi mengundurkan diri dari pemerintahan dan menyerahkan jabatan tersebut kepada wakilnya, Khairul Effendi.

Pada tahun 2007, Ahok mencalonkan diri untuk menjadi Gubernur Bangka Belitung. Ketika  itu, beliau  memperoleh  dukungan penuh dari Abdurrahman Wahid. Akan tetapi , beliau  kalah dengan Eko Maulana Ali. Tahun itu  juga, Ahok memperoleh  penghargaan sebagai Tokoh Anti Korupsi. program pelayanan kesehatan dan pendidikan gratis bagi Belitung Timur  dan juga berhasil mengantarkan Ahok untuk meraih penghargaan tersebut.

Selanjutnya , pada tahun 2008, Ahok meluncurkan sebuah buku berjudul ” Merubah Indonesia “.  Ahok bercita – cita  dalam membenahi sistem transportasi Jakarta, meneruskan proyek pencegahan banjir, reklamasi, dan  juga memperbanyak jumlah busway khusus bagi orang cacat, anak – anak dan perempuan. Bahkan monorel dan juga  kereta gratis yang menghubungkan Blok M hingga  Monas juga akan di adakan.

Baca Juga :