Categories
PAHLAWAN NASIONAL

Profil Mohammad Natsir – Pahlawan Nasional Indonesia

Profil Mohammad Natsir – Pahlawan Nasional Indonesia

Nama Lengkap : Mohammad Natsir
Tempat , tanggal lahir : Alahan Panjang , Lembah Gumanti , Solok , Sumatera Barat , Rabu 17 Juni 1908
Agama : Islam
Warganegara : Indonesia
Pendidikan :
  • HIS Solok
  • sekolah agama Islam
  • MULO
  • AMS Bandung
Karier :
  • Perdana Menteri Ke- 5 Indonesia
  • Wakil Ketua KNIP ( Komite Nasional Indonesia Pusat )
  • Presiden Liga Muslim se – Dunia (World Moslem Congress )
  • Ketua Dewan Masjid se – Dunia
  • Dewan Eksekutif Rabithah Alam Islami
  • Pendiri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia
Penghargaan : Pahlawan Nasional diberikan pada tanggal 10 November 2008

Mohammad Natsir lahir di Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Solok, Sumatera Barat,  pada tanggal 17 Juli 1908, dengan gelar Datuk Sinaro Panjang. Beliau  adalah perdana menteri kelima Republik Indonesia. Beliau  juga merupakan  pendiri sekaligus pemimpin partai politik Masyumi serta  salah seorang tokoh Islam yang terkemuka di Indonesia.

Pada masa kecilnya Natsir belajar di HIS Solok dan di sekolah agama Islam yang dipimpin oleh para pengikut Haji Rasul. Kemudian  pada tahun 1923 – 1927 Natsir memperoleh  beasiswa untuk sekolah di MULO, dan kemudian melanjutkan ke AMS Bandung sampai  tamat pada tahun 1930.

Ketika berada  di Bandung, Natsir berinteraksi dengan para aktivis pergerakan nasional antara lain Syafruddin Prawiranegara, Mohammad Roem dan Sutan Syahrir. Pada tahun 1932, Natsir berguru pada Ahmad Hassan untuk memperdalam ilmu keagamaannya. Dengan keunggulan ilmu spiritualnya,  beliau  banyak menulis soal – soal agama, kebudayaan, dan juga  pendidikan.

Natsir juga dikenal sebagai  seorang pribadi yang aktif. Beliau  mempunyai  banyak pengalaman organisasi seperti menjadi Wakil Ketua KNIP ( Komite Nasional Indonesia Pusat ), menjabat sebagai  Presiden Liga Muslim se- Dunia ( World Moslem Congress ), ketua Dewan Masjid se- Dunia,  dan  anggota Dewan Eksekutif Rabithah Alam Islamy yang berpusat di Mekkah, dan mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.

Karir politik Natsir dimulai  pada tanggal 5 April 1950 Natsir mengajukan mosi intergral dalam sidang pleno parlemen, dimana mosi ini berhasil memulihkan keutuhan bangsa Indonesia dalam Negara Kesatuan RI ( NKRI ). Karena prestasi inilah Natsir kemudian  di angkat menjadi perdana menteri oleh Bung Karno. Presiden RI ini menganggap Natsir memiliki  konsep untuk menyelamatkan Republik dengan  melalui konstitusi.

Akan tetapi  posisinya sebagai Perdana menteri tidak berlangsung lama. Beliau memperoleh  penolakan dan  juga perlawanan dari Partai Nasional Indonesia. Terhitung dua kali anggota Partai Nasional Indonesia di parlemen memboikot sidang sehingga tidak memenuhi kuorum. Akhirnya Natsir mengembalikan mandat sebagai perdana menteri.

Secara kepribadian, pria yang banyak berjasa untuk perkembangan dakwah Islam dikenal sebagai seorang  pribadi yang berbicara penuh  dengan sopan santun, rendah hati serta  bersuara lembut meskipun terhadap lawan – lawan politiknya. Beliau  juga sangat bersahaja serta kadang – kadang gemar bercanda dengan siapa saja yang menjadi teman bicaranya. Mohammad Natsir meninggal dunia  di Jakarta,  pada tanggal 6 Februari 1993 pada usia 84 tahun.

Baca Juga :

Categories
PAHLAWAN NASIONAL TOKOH INDONESIA ULAMA

Biografi Hasyim Asyari – Pahlawan Nasional Indonesia Pendiri Nahdlatul Ulama

Biografi Hasyim Asyari – Pahlawan Nasional Indonesia Pendiri Nahdlatul Ulama

Hasyim Asyari / Kyai Haji Mohammad Hasyim Asy’arie adalah salah satu tokoh Pahlawan Nasional Indonesia yang merupakan pendiri NU / Nahdlatul Ulama, dimana organisasi ini adalah  organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia. Di kalangan ulama pesantren dan Nahdliyin  beliau  dijuluki dengan sebutan Hadratus Syeikh yang berarti maha guru.

K.H. Hasjim Asy ‘ ari belajar mengenai dasar – dasar agama dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman yang juga pemimpin Pesantren Nggedang di Jombang. Sejak usia 15 tahun,  beliau berkelana  dalam menimba ilmu di berbagai pesantren, antara lain Pesantren Trenggilis di Semarang, Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Siwalan di Sidoarjo dan Pesantren Kademangan di Bangkalan.

Pada tahun 1892, K.H. Hasjim Asy’ari pergi  untuk menimba ilmu ke Mekah, serta berguru pada Syekh Muhammad Mahfudz at – Tarmasi, Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Ahmad Amin Al – Aththar, Syekh Ibrahim Arab, Syekh Said Yamani, Syekh Rahmaullah, Syekh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As – Saqqaf, dan Sayyid Husein Al – Habsyi.

Pada tahun 1899, sepulangnya dari Mekah, KH Hasyim Asyari mendirikan sebuah pesantren yaitu  Pesantren Tebu Ireng, yang kelak menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada abad 20. Pada tahun 1926, KH Hasyim Asyari menjadi salah satu pemrakarsa berdirinya Nadhlatul Ulama ( NU ), yang berarti kebangkitan ulama. Hasyim Asyari sendiri lahir di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, pada tanggal  10 April 1875. Beliau  meninggal dunia di Jombang, Jawa Timur, 25 Juli 1947 pada umur 72 tahun dan beliau di makamkan di Tebu Ireng, Jombang. Berkat perannya dalam  mendirikan Nahdlatul Ulama dimana pada akhirnya organisasi ini sangat membantu kehidupan masyarakat indonesia dalam berbagai bidang, tidak heran jika K.H. Hasjim Asy’ari termasuk salah satu tokoh yang sangat berpengaruh dalam kehidupan bangsa indonesia

Baca Juga :

Categories
PAHLAWAN NASIONAL

Biografi Rasuna Said – Pahlawan Nasional Indonesia

Biografi Rasuna Said – Pahlawan Nasional Indonesia

Nama Lengkap : Rasuna Said
Alias : Hajjah Rangkayo Rasuna Said / HR Rasuna Said
Agama : Islam
Tempat , tanggal lahir : Maninjau , Agam , Sumatera Barat, Kamis , 15 September 1910
Warga Negara : Indonesia
Anak : Auda Zaschkya Duski
Karier :
  • Sekretaris Cabang Sarekat Rakyat
  • Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat (DPR RIS )
  • Anggota Dewan Pertimbangan Agung
  • Dewan Perwakilan Sumatera

Penghargaan : 

Pahlawan nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden R.I. No. 084/TK/Tahun 1974 tanggal 13 Desember 1974

Hajjah Rangkayo Rasuna Said adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia yang sudah menerima penghargaan sebagai pahlawan nasional Indonesia dari pemerintah. Beliau merupakan pejuang yang dengan gigih memperjuangkan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan, sama seperti perjuangan yang dilakukan oleh Ibu Kartini. HR Rasuna Said dikenal sebagai sosok yang berkemauan keras dan mempunyai  pengetahuan yang luas.

Pada masa kecilnya, beliau sudah mengenyam pendidikan Islam di pesantren. Ketika  sekolah inilah, beliau pernah menjadi satu-satunya santri perempuan. Sejak saat itu, Rasuna Said sangat memperhatikan kemajuan dan juga  pendidikan bagi kaum perempuan. Beliau menilai bahwa perjuangan tersebut tidak hanya dapat dilakukan dengan melalui jalur pendidikan, akan tetapi dapat dilakukan juga dengan perjuangan politik. Selanjutnya, beliau mengawali perjuangannya untuk membela kaum perempuan dengan bergabung di Sarekat Rakyat sebagai sekretaris cabang.

Setelah itu,  beliau menjadi anggota Persatuan Muslim Indonesia. Karena kemampuan dan juga  cara pikirnya yang sangat kritis, beliau sempat ditangkap dan dipenjara oleh pemerintah Belanda pada tahun 1932. Rasuna Said juga tercatat sebagai wanita pertama yang terkena hukum SpeekDelict, yaitu hukum pemerintahan Belanda yang menyatakan bahwa siapapunbisa dihukum karena berbicara menentang Belanda.

Ketika masa penjajahan Jepang, Rasuna Said adalah salah satu dari pendiri organisasi pemuda Nippon Raya. Dalam karir politiknya, HR Rasuna Said pernah menjabat sebagai DPR RIS dan kemudian menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung sejak tahun 1959 hingga meninggal dunia . Rasuna Said diangkat sebagai salah satu pahlawan nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden R.I. No. 084/TK/Tahun 1974 tanggal 13 Desember 1974. Untuk mengenang jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, nama HR Rasuna Said diabadikan sebagai salah satu nama jalan protokol di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Baca Juga :

Categories
PAHLAWAN NASIONAL

Biografi dan Profil Abdoel Moeis – Pahlawan Nasional Indonesia

Biografi : Abdoel Moeis – Pahlawan Nasional Indonesia

Abdoel Moeis  dilahirkan  di Sungai Puar, Bukittinggi, Sumatera Barat, pada tanggal  3 Juli 1883  dan wafat di Bandung, Jawa Barat pada tanggal  17 Juni 1959  dalam usia  75 tahun. Beliau  adalah seorang sastrawan dan wartawan Indonesia. Pendidikan terakhirnya adalah di Stovia ( sekolah kedokteran, sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ), Jakarta namun tidak tamat.  Beliau  juga pernah menjadi anggota Volksraad pada tahun 1918 yang  mewakili Centraal Sarekat Islam.  Beliau dimakamkan di TMP Cikutra –  Bandung dan di kukuhkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden RI, Soekarno, pada  tanggal 30 Agustus 1959  berdasarkan pada Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 218 Tahun 1959, tanggal 30 Agustus 1959.

Karir

Beliau  pernah bekerja sebagai seorang  klerk di Departemen Buderwijs en Eredienst dan menjadi wartawan di Bandung pada surat kabar Belanda, Preanger Bode serta majalah Neraca pimpinan Haji Agus Salim.  Beliau  sempat menjadi Pemimpin Redaksi Kaoem Moeda sebelum mendirikan surat kabar Kaoem Kita pada tahun  1924. Disamping  itu beliau  juga pernah aktif dalam Sarekat Islam serta  pernah menjadi anggota Dewan Rakyat yang pertama ( 1920 – 1923 ). Setelah kemerdekaan,  beliaupun  turut membantu  dalam mendirikan Persatuan Perjuangan Priangan

Riwayat Perjuangan

Mengecam tulisan orang – orang Belanda yang sangat menghina bangsa Indonesia dengan  melalui tulisannya pada  harian berbahasa Belanda, De Express

Pada tahun 1913, menentang rencana pemerintah Belanda dalam mengadakan perayaan peringatan seratus tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis dengan  melalui Komite Bumiputera bersama dengan Ki Hadjar Dewantara. Pada tahun 1922, memimpin pemogokan kaum buruh di daerah Yogyakarta sehingga  beliau  di asingkan ke Garut, Jawa Barat Mempengaruhi tokoh – tokoh Belanda dalam pendirian Technische Hooge School – Institut Teknologi Bandung ( ITB )

Karya Sastra

  • Salah Asuhan ( novel, 1928, difilmkan Asrul Sani, 1972 )
  • Pertemuan Jodoh ( novel, 1933 )
  • Surapati ( novel, 1950 )
  • Robert Anak Surapati( novel, 1953 )

Terjemahannya

  • Don Kisot ( karya Cerpantes, 1923 )
  • Tom Sawyer Anak Amerika ( karya Mark Twain, 1928 )
  • Sebatang Kara ( karya Hector Melot, 1932 )
  • Tanah Airku ( karya C. Swaan Koopman, 1950 )

Baca Juga :

Categories
PAHLAWAN NASIONAL

Biografi dan Profil Abdulrahman Saleh – Pahlawan Nasional Indonesia

Biografi Abdulrahman Saleh – Pahlawan Nasional Indonesia

Abdulrahman Saleh, Prof. dr. Sp.F, Marsekal Muda Anumerta, lahir di Jakarta pada tanggal  1 Juli 1909  dan wafat  di Maguwo, Yogyakarta pada tanggal  29 Juli 1947 pada umur 38 tahun. Beliau sering dikenal dengan nama julukan “ Karbol ” merupakan  seorang pahlawan nasional Indonesia, tokoh Radio Republik Indonesia ( RRI ) dan bapak fisiologi kedokteran Indonesia.

Riwayat Masa Kecil

Abdulrachman Saleh dilahirkan pada tanggal 1 Juli 1909 di Jakarta. Pada masa mudanya,  beliau  bersekolah di HIS ( Sekolah rakyat berbahasa Belanda atau Hollandsch Inlandsche School ) MULO ( Meer Uitgebreid Lager Onderwijs ) atau  saat ini  SLTP, AMS ( Algemene Middelbare School ) kini SMU, dan kemudian selanjutnya di teruskannya ke STOVIA ( School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen ). Karena ketika  itu STOVIA dibubarkan sebelum  beliau  menyelesaikan studinya di sana, maka  beliau  meneruskan studinya di GHS ( Geneeskundige Hoge School ), semacam sekolah tinggi dalam bidang kesehatan atau kedokteran. Ayahnya, Mohammad Saleh, tidak pernah memaksakannya untuk menjadi seorang  dokter, karena  ketika  hanya ada STOVIA saja. Pada saat  beliau masih menjadi  seorang mahasiswa, beliau  sempat giat dalam  berpartisipasi dalam berbagai organisasi seperti Jong Java, Indonesia Muda, dan KBI atau Kepanduan Bangsa Indonesia.

Kegiatan Kedokteran dan Militer

Setelah  beliau mendapatkan ijazah dokter,  beliau kemudian  mendalami pengetahuan ilmu faal. Setelah itu beliau  mengembangkan ilmu faal ini di Indonesia. Oleh sebab  itu, Universitas Indonesia pada tanggal  5 Desember 1958 menetapkan Abdulrachman Saleh sebagai Bapak Ilmu Faal Indonesia.

 Beliau  juga aktif dalam perkumpulan olah raga terbang dan berhasil memperoleh ijazah atau surat izin terbang.  Disamping  itu,  beliau  juga memimpin perkumpulan VORO ( Vereniging voor Oosterse Radio Omroep ),  yaitu sebuah perkumpulan dalam bidang radio. Maka setelah  kemerdekaan di proklamasikan,  beliau  menyiapkan sebuah pemancar yang di namakan dengan  Siaran Radio Indonesia Merdeka. Melalui pemancar tersebut, berita – berita tentang  Indonesia terutama mengenai  proklamasi Indonesia bisa disiarkan hingga ke luar negeri.  Beliau  juga berperan dalam mendirikan Radio Republik Indonesia yang berdiri pada tanggal  11 September 1945.

Setelah menyelesaikan tugasnya  tersebut , kemudian beliau  berpindah ke bidang militer dan memasuki dinas Angkatan Udara  dan beliau  diangkat menjadi Komandan Pangkalan Udara Madiun pada  tahun 1946.  Beliau  turut mendirikan Sekolah Teknik Udara dan Sekolah Radio Udara di Malang. Sebagai Angakatan Udara, beliau juga  tidak melupakan profesinya sebagai seorang dokter,  beliau  tetap memberikan kuliah pada Perguruan Tinggi Dokter di Klaten, Jawa Tengah.

Akhir Hidup

Ketika  Belanda mengadakan agresi pertamanya, Adisutjipto dan Abdulrachman Saleh diperintahkan ke India. Dalam perjalanan pulang mereka mampir di Singapura untuk mengambil bantuan obat – obatan dari Palang Merah Malaya. Keberangkatan dengan menggunakan  pesawat Dakota ini, memperoleh  publikasi luas dari media massa dalam dan luar negeri.

Pada tanggal 29 Juli 1947,  pada saat pesawat berencana kembali ke Yogyakarta dengan  melalui Singapura, harian Malayan Times memberitakan bahwa penerbangan Dakota VT – CLA sudah mengantongi ijin pemerintah Inggris dan Belanda. Sore harinya, Suryadarma, rekannya baru saja tiba dengan mobil jipnya di Maguwo. Akan tetapi , pesawat yang ditumpanginya ditembak oleh dua pesawat P – 40 Kitty – Hawk Belanda dari arah utara. Pesawat tersebut  kehilangan keseimbangan dan juga  menyambar sebatang pohon hingga badannya patah menjadi dua bagian dan akhirnya terbakar.

Peristiwa heroik ini, diperingati TNI AU sebagai hari Bakti TNI AU sejak tahun 1962 dan sejak 17 Agustus 1952, Maguwo diganti menjadi Lanud Adisutjipto.

Abulrachman Saleh di makamkan di Yogyakarta dan  beliau  diangkat menjadi seorang Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.071/TK/Tahun 1974, pada tanggal 9 Nopember 1974. Pada tanggal 14 Juli 2000, atas prakarsa  dari TNI – AU, makam Abdulrahman Saleh, Adisucipto, dan juga  para istri mereka di pindahkan dari pemakaman Kuncen ke Kompleks Monumen Perjuangan TNI AU Dusun Ngoto, Desa Tamanan, Banguntapan, Bantul, DI Yogyakarta.

Nama beliau kemudian  diabadikan sebagai nama Pangkalan TNI – AU dan Bandar Udara di Malang. Disamping  itu, piala bergilir yang diperebutkan dalam Kompetisi Kedokteran dan Biologi Umum ( Medical and General Biology Competition ) disebut  dengan Piala Bergilir Abdulrahman Saleh.

Baca Juga :

Categories
PAHLAWAN NASIONAL

Biografi Nyai Ahmad Dahlan

Biografi Nyai Ahmad Dahlan

Nama Lengkap : Nyai Hj. Siti Walidah Ahmad Dahlan
Tempat Lahir : Yogyakarta
Lahir : 1872
Wafat : 31 Mei 1946
Agama : Islam
Warga Negara : Indonesia
Gelar : Pahlawan Nasional
Sumai : K.H. Ahmad Dachlan

Siti Walidah atau yang lebih dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan lahir dari keluarga pemuka Agama Islam dan Penghulu resmi Keraton, Kyai Haji Fadhil. Sejak kecil Siti Walidah sudah memperoleh  pendidikan agama yang baik karena orang tuanya juga merupakan  seoarang pejabat agama di Keraton Yogyakarta. Karena alasan adat yang ketat, setiap anak perempuan dalam lingkungan Keraton Yogyakarta  harus tinggal ( dipingit ) di rumah sampai  datang saatnya untuk  menikah. Akibatnya, Siti Walidah tidak pernah mengenyam pendidikan umum kecuali pendidikan agama yang di dapat dari ayahnya.

Siti Walidah selanjutnya menikah dengan sepupunya yang baru pulang dari Tanah Suci, Kiyai Haji Ahmad Dahlan. Setelah pernikahan itu, Siti Walidah di kenal dengan nama Nyi Ahmad Dahlan. Buah pernikahannya dengan K.H. Ahmad Dahlan adalah mereka dikaruniai enam orang anak.

Sebagai suami dari seorang pemuka agama yang memiliki pemikiran – pemikiran revolusioner, Siti Walidah dan suaminya sering mendapat kecaman dan tentangan karena pembaharuan yang dilakukanya. Akan tetapi , Siti Walidah tetap mendukung suaminya tersebut dalam berdakwah dan menyebarluaskan pemikiran  – pemikirannya.

Meskipun tidak pernah mengenyam pendidikan umum, namun  Nyai Ahmad Dahlan  memiliki  pandangan yang luas. Hal  tersebut  disebabkan karena kedekatannya dengan tokoh – tokoh Muhammadiyah dan tokoh pemimpin bangsa lainnya yang juga merupakan teman seperjuangan suaminya.

Keterlibatan Nyai Ahmad Dahlan dalam Organisasi Muhammadiyah dimulai ketika   beliau  ikut merintis kelompok pengajian wanita Sopo Tresno ( Siapa Cinta  ) pada tahun 1914. Kegiatan yang dirintis dalam pengajian tersebut  adalah pengkajian agama yang di sampaikan secara bergantian oleh pasangan suami istri tersebut.

Setelah kelompok pengajian tersebut berjalan lancar dan anggotanya terus menerus bertambah, Nyai Ahmad Dahlan kemudian berpikir untuk mengembangkan Sopo Tresno menjadi sebuah organisasi kewanitaan yang  berbasis Agama Islam yang mapan. Akhirnya dipilihlah nama Aisyiyah sebagai organisasi Islam bagi kaum wanita. Tepat pada malam peringatan Isra ’ Mi ’raj Nabi Muhammad SAW pada 22 April 1917, organisasi tersebut resmi didirikan. Siti Bariyah kemudian tampil sebagai ketuanya. Lima tahun setelah di dirikan, Aisyiyah resmi menjadi bagian dari Muhammadiyah.

Nyai Dahlan memilih mengajari masyarakat dengan karya nyata.  Beliau  membuka asrama dan sekolah – sekolah puteri dan mengadakan kursus – kursus pelajaran Islam dan pemberantasan buta huruf bagi kaum perempuan.  Disamping itu,  beliau  juga mendirikan rumah – rumah miskin dan anak yatim perempuan  dan juga  menerbitkan majalah bagi kaum wanita.

Ia bersama-sama dengan pengurus Aisyiyah, sering mengadakan perjalanan ke luar daerah sampai ke pelosok desa untuk menyebarluaskan ide-idenya. Ia pun kerap mendatangi cabang-cabang Aisyiyah seperti Boyolali, Purwokerto, Pasuruan, Malang, Kepanjen, Ponorogo, Madiun, dan sebagainya. Karenanya, meski tidak duduk dalam pengurus Aisyiyah, organisasi itu menganggap Nyai A Dahlan adalah Ibu Aisiyah dan juga Ibu Muhammadiyah.

Nyai Ahmad Dahlan kemudian wafat pada tanggal 31 Mei 1946 pada usia 74 tahun. Untuk menghormati jasa-jasanya dalam menyebarluaskan Agama Islam dan mendidik perempuan, pemerintah berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No.042/TK/1971 menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Nyai Hj. Ahmad Dahlan.

Baca Juga :

Categories
PAHLAWAN NASIONAL

Biografi Nyai Ageng Serang

Biografi Nyai Ageng Serang

Nama Lengkap : Nyai Ageng Serang
Alias : Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Adi
Agama : Islam
Tempat Lahir : Serang , Jawa Barat
Lahir : 1752
Wafat : 1838
Warga Negara : Indonesia
Ayah : Pangeran Natapraja

Nyi Ageng Serang terlahir dengan nama asli Raden Ajeng ( RA ) Kustiyah Wulaningsih Retno Edhi. Nyi Ageng Serang adalah  putri dari Pangeran Natapraja, seorang penguasa daerah Serang, Jawa Tengah yang juga merupakan Panglima Perang Sultan Hamengkeu Buwono I.

Nyi Ageng juga merupakan salah satu keturunan dari Sunan Kalijaga. Disamping  itu, beliau  juga memiliki  seorang cucu yang kelak akan menjadi seorang pahlawan, yakni R.M. Soewardi Surjaningrat atau Ki Hadjar Dewantara.

Menyimpang dari adat kebiasaan yang masih kuat, Nyi Ageng Serang yang  adalah  seorang wanita yang rajin mengikuti latihan – latihan kemiliteran dan juga  siasat perang bersama – bersama dengan para prajurit pria. Beliau  pun sering ikut ayahnya turun ke medan perang untuk melawan penjajah. Hingga, setelah ayahnya wafat, beliau  kemudian diangkat menggantikan kedudukan sang ayah sebagai penguasa Serang. Kemudian  beliau  diberi gelar Nyi Ageng Serang.

Dalam masa kepemimpinannya, banyak rakyatnya  yang kelaparan dan mengalami kesengsaraan akibat ulah dari penjajah Belanda.  beliau  selalu membantu kesengsaraan rakyatnya dengan membagi – bagikan pangan. Selain itu, beliau  juga melakukan perlawanan fisik untuk mengusir pasukan Belanda dari tanah kelahirannya itu.

Ketika Perang Diponegoro meletus pada tahun 1825, Nyi Ageng Serang bersama pasukan yang setia terhadap ayahnya ikut berperang bersama Pangeran Diponegoro dan menantunya Raden Mas ( R.M. ) Pak –Pak. Karena usianya yang sudah sangat tua, 73 tahun, Nyi Ageng memimpin pasukannya dari atas tandu. Akhirnya, setelah tiga tahun ikut bertempur bersama Pangeran Diponegoro, Nyi Ageng Serang tidak kuat lagi melawan penjajah karena kekuatan fisiknya tidak memadai. Beliau  pun mundur dari peperangan dan pasukan yang beliau  pimpin diambil alih oleh Raden Mas Pak-Pak.

Pada tahun 1828, Nyi Ageng Serang menghembuskan nafas terakhirnya dalam usia 76 tahun. Beliau meninggalkan Serang sebagai daerah merdeka. Atas jasa – jasanya terhadap negara, Nyi Ageng Serang kemudian di kukuhkan sebagai pahlawan nasional berdasarkan SK Presiden RI No.084/TK/1974.

Baca Juga :

Categories
PAHLAWAN NASIONAL TOKOH INDONESIA

Biografi Abdoel Moeloek – Pahlawan Kemerdekaan di Tanah Lampung

Biografi Abdoel Moeloek – Pahlawan Kemerdekaan di Tanah Lampung

Nama : Dr . H. Abdoel Moeloek
Tempat , tanggal lahir : Padang Panjang , 10 Maret 1905
Wafat : Bandar Lampung , 1973
Pendidikan : Dokter Lulusan STOVIA/GH, Jakarta 1932
Istri : Hj. Poeti Alam Naisjah
Jumlah anak : 5 Orang ( 3 Laki – laki , 2 Perempuan )
Riwayat Pekerjaan :
  • Kepala RS Bangkinang, ( 1935 )
  •  Dokter di RS Kariadi, Semarang ( 1937 )
  • Dokter di Krui, Liwa, ( 1940—1945 )
  • Mengambil alih RS Tanjungkarang dan RS Tentara Tanjungkarang dari tangan Jepang, ( 1945 ).
  • Kepala RS Tanjungkarang dan Kepala RS Tentara Tanjungkarang.

Kota  Krui dan Liwa di Lampung Barat adalah tempat pengabdian pertama Abdoel Moeloek di Lampung. Lima tahun ( 1940 – 1945 ) menjadi dokter disana, sentuhan tangannya identik dengan kesembuhan orang sakit. Kehadiran Abdoel Moeloek di Krui dan Liwa telah membuka kesadaran masyarakat mengenai  dunia medis. Apapun jenis penyakitnya, masyarakat optimis sembuh apabila  diobati dokter asal Sumatera Barat ini . Pasiennya bahkan meluas hingga  daerah Muara Dua, Sumatera Selatan.

Namanya kini di abadikan  menjadi nama  rumah sakit milik negara di Bandar Lampung  yaitu  Rumah Sakit Umum Daerah ( RSUD ) dr. Haji Abdul Moeloek.  Beliau  adalah direktur kelima Rumah Sakit Tanjungkarang ( sebelum diubah menjadi RSUD dr. Haji Abdoel Moeloek ), dan paling lama memegang jabatan sebagai direktur  yaitu selama 12 tahun, dari 1945 hingga 1957.

Karier Abdoel Moeloek di dunia medis diawali setelah  beliau  lulus dari sekolah dokter Stovia/GH, Jakarta ( 1932 ). Pada tahun 1935, ayah mantan Menteri Kesehatan Farid Anfasa Moeloek ini diangkat sebagai kepala RS Bangkiang. Dua tahun kemudian  yaitu pada tahun 1937, dokter kelahiran Padang Panjang, 10 Maret 1905 ini ditempatkan lagi di RS Kariadi Semarang.

Pada zaman perang kemerdekaan ( 1940 – 1945 )  beliau  ditugaskan menjadi dokter untuk wilayah Lampung ( Krui dan Liwa ) dan Sumatera Selatan (Muara Dua). Abdoel Moeloekpun sempat diangkat sebagai ” Bupati Perang ” di Liwa dengan pangkat mayor tituler. ” Gubernur Perang “-nya adalah dr. Abdul Gani yang saat itu menjabat sebagai  gubernur Sumatera Selatan.

Abdoel Moeloek dikenal sangat disiplin, pekerja keras, tegas, jujur, dan juga dekat pada masyarakat. Pada saat  militer Jepang merekrut banyak warga untuk dijadikan romusa ( pekerja paksa yang tak dibayar ) di Palembang, misalnya,  beliau  memiliki  trik khusus. Ketika  itu, banyak romusa yang tidak pulang lagi karena meninggal  dunia akibat sakit atau kurang makan.

Setelah lima tahun bertugas  di pesisir barat Lampung – Sumsel, Abdoel Moeloek  kemudian ditempatkan di RS Tanjungkarang ( 1945 ). Satu – satunya dokter  ketika  itu,  beliau  menjabat Kepala RS Tanjungkarang dan RS Tentara Tanjungkarang, setelah kedua rumah sakit tersebut  diambil alih dari tangan Jepang.

Peranan Abdoel Moeloek menjadi penting dan sangat strategis ketika  perang kemerdekaan ( 1945 – 1950 ).  Beliau  menyuplai obat – obatan kepada para gerilyawan Lampung.  Beliau  juga terjun langsung  dalam menangani korban perang.

Meskipun  demikian,  beliau  tetap menjaga dedikasi serta  profesionalitasnya sebagai dokter. Suatu hari, terjadi pertempuran antara tentara gerilya dan Belanda. Dengan pita palang merah di lengan, beliau  mengobati korban – korban. Bukan hanya pejuang Republik, melainkan juga tentara Belanda.

Untuk merawat korban perang yang terus berdatangan, Abdoel Moeloek dan paramedis RS Tanjungkarang bekerja siang dan malam. Beliau  amanatkan pada seluruh tenaga medis supaya  mengobati siapa saja yang di bawa ke rumah sakit. Tidak membeda – bedakan prajurit Indonesia atau Belanda.

Abdoel Moeloek sangat suka membaca dan belajar. Di kediamannya dahulu ( depan RSUD dr. Abdoel Moeloek Bandar Lampung ) beliau  mendesain sebuah ruangan dengan  ukuran 3 x 4 meter untuk ruang perpustakaan. Apabila  tidak sedang bekerja, beliau  menghabiskan waktunya di situ.

Dalam mendidik kelima putra-putrinya, metode yang dilakukan  oleh Abdoel Moeloek patut diteladani. Beliau  mendidik mereka dengan perbuatan ( disiplin, sikap jujur, dan  juga tanggung jawab ), bukan dengan perkataan.

Sebelum ajal menjemputnya tahun  pada 1973, Abdoel Moeloek berpesan pada istri dan anak – anaknya bahwa  Jasadnya tidak dimakamkan di Makam Pahlawan. Beliau  beralasan supaya  pusaranya dekat masyarakat dan bisa dikunjungi kapan dan oleh siapa saja. Sedangkan apabila  dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, keluarga dan kerabat hanya berziarah pada saat – saat tertentu saja  atau hari besar nasional. Atas wasiat itu, sanak – keluarga kemudian memakamkan jasadnya di Taman Permakaman Umum ( TPU ) Lungsir di Telukbetung Utara.

Karier dan juga pengabdian Abdoel Moeloek diwarisi  oleh dua anaknya yaitu  Farid Anfasa Moeloek dan Herwin Moeloek. Keduanya merupakan  guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Baca Juga :

Categories
INDONESIA PAHLAWAN NASIONAL

Biodata dan Biografi Radin Intan II – Pahlawan Nasional Dari Tanah Lampung

Biodata dan Biografi Radin Intan II – Pahlawan Nasional Dari Tanah Lampung

 

Biodata Raden Inten II

Nama Lengkap : Raden Inten II
Alias : Radin Intan II
Tempat, Tanggal Lahir : Desa Kuripan ( Lampung Selatan ) , Sabtu, 0 1834
Wafat : 5 Oktober 1856
Warga Negara : Indonesia
Ayah : Raden Imba II ( Kesuma Ratu )
Penghargaan : Namanya di abadikan sebagai nama sebuah Bandara dan nama perguruan tinggi IAIN di Lampung

Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No.048/TK/1998

 

Biografi Raden Inten II

Radin Intan II adalah  putra dari Radin Intan Kesuma II dan juga cucu dari Radin Intan I. Beliau dilahirkan di desa Kuripan, atau yang sekarang di kenal sebagai Lampung pada tahun 1834. Beliau adalah merupakan seorang keturunan darah biru yang bersaudara dengan kerajaan Banten. Radin Intan termasuk seorang yang  menentang Belanda yang ketika itu menjajah negeri kita. Beliau tidak menghendaki adanya kolonialisme di bumi pertiwi ini . Beliau juga di kenal sebagai seorang  pemimpin dan sekaligus panglima perang yang tidak hanya mempunyai fisik yang kuat, tetapi  juga pemikirannya yang cemerlang.

Radin Intan II resmi di nobatkan sebagai Ratu Lampung, yaitu pemimpin rakyat untuk memerangi kolonialisme saat usianya yang dapat dikatakan masih belia, yaitu  saat usia 16 tahun. Beliau  resmi di lantik pada tahun 1850, dan sesudahnya beliau langsung di hadapkan dengan serangan yang berasal  pihak Belanda beserta dengan  ratusan bala  tentaranya di daerah Merambung, yaitu tempat Radin Intan menjalankan roda pemerintahan kerajaan. Dari beberapa kali serangan yang dilakukan oleh pihak Belanda, pasukan Radin Intan selalu bisa mengandaskan nya.

Serangan demi serangan terus berusaha di lancarkan oleh  Belanda untuk menghancurkan Lampung serta Radin Intan sebagai penguasa. Sampai  pada tahun 1856 Belanda melakukan serangan secara  besar – besaran dengan mengerahkan 9 kapal perang, 3 kapal merupakan pengangkut alat perang, dan puluhan kapal lainnya. Serangan Belanda pada saat  itu di pimpin oleh Kolonel Welson. Pasukan Radin Intan II berusaha mencoba untuk melawan serangan tersebut secara gerilya, dan terbukti taktiknya tersebut  cukup efektif. Akan tetapi , Belanda tidak kehabisan akal dan mencoba taktik licik, yaitu dengan membayar dan juga  memperalat salah seorang dari  pasukan Radin Intan II, untuk mengatur kondisi dimana Belanda dapat  menyergap dan juga mengalahkan Radin Intan II. Rencana Belanda pun berhasil, hingga terjadi pertempuran antara Radin Intan II yang melawan beberapa pasukan Belanda. Meskipun beliau  sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengalahkan Belanda, tetapi pada  akhirnya Radin Intan II gugur di tangan Belanda karena kalah pada persenjataan dan juga kalah dalam segi  jumlah. Beliau wafat pada tanggal 5 Oktober 1856 di  usia 22 tahun.

Baca Juga :

Categories
PAHLAWAN NASIONAL WANITA

Biografi Cut Nyak Meutia – Pahlawan Wanita Dari Aceh

Biografi Cut Nyak Meutia – Pahlawan Wanita Dari Aceh

Cut Nyak Meutia – Cut ut Nyak Meutia dikenal sebagai salah satu pahlawan wanita Indonesia yang berasal dari Aceh. Beliau i dikenal karena perjuanganya bersama dengan suaminya untuk melawan penjajah Belanda. Cut Meutia ada;ah  salah satu tokoh dalam sejarah perjuangan perlawanan rakyat Aceh terhadap Belanda. Cut Meutia di anugerahi gelar Pahlawan Nasional dari pemerintah Indonesia pada tahun 1964  atas jasa – jasanya dalam  melawan penjajah Belanda.

Biografi Cut Nyak Meutia

Cut Nyak Meutia lahir di derah Pirak , Aceh Utara , pada tahun 1870 , Ayah beliau bernama Teuku Ben Daud Pirak yang merupakan seorang seorang ulubalang  atau pemimpin pemerintahan daerah Pirak dan ibunya bernama Cut Jah.

Latar Belakang Keluarga Cut Meutia

Cut Meutia adalah anak perempuan satu – satunya dikeluarga tersebut. Beliau memiliki empat orang  saudara laki – laki yaitu Teuku Cut Beurahim, Teuku Muhammadsyah, Teuku Cut Hasan dan Teuku Muhammad Ali. Ayah beliau  yaitu  Teuku Ben Daud Pirak dikenal sebagai  seorang pemimpin pemerintahan yang bijaksana dan tegas di daerah Pirak. Ayahnya  juga dikenal sebagai seorang ulama di daerah tersebut. Daerah Pirak sendiri adalah suatu  daerah yang mempunyai  sistem pemerintahan tersendiri.

Menjelang dewasa, Cut Meutia menikah dengan seorang pemuda yang  bernama Teuku Syamsarif yang dikenal dengan sebutan Teuku Chik Bintara. Akan tetapi, pernikahan mereka tidak berlangsung lama karena  watak suaminya yang dianggap lemah dan selalu ingin bekerja sama dengan Belanda pada saat itu.

Cut Meutia lalu menikah lagi  dengan Teuku Chik Muhammad yang dikenal sebagai Teuku Chik Tunong. Suaminya tersebut merupakan saudara dari Teuku Syamsarif, yang merupakan suaminya terdahulu. Persamaan visi  Cut Muetia dengan Teuku Cik Tunong yang sama – sama menentang penjajahan Belanda di bumi Aceh membuat Cut Meutia dan suaminya hijrah ke gunung lalu  melakukan perlawanan dengan Belanda dengan taktik gerilya.

Awal Perlawanan Cut Meutia Terhadap Belanda

Diketahui  bahwa awalnya perlawanan Cut Meutia dalam  melawan Belanda dimulai pada tahun 1901. Saat itu  Sultan Aceh yaitu  Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah melakukan perlawanan sampai  ke pedalaman Aceh. Membantu perjuangan Sultan Aceh tersebut , Perang sengit terjadi antara pasukan yang dipimpin oleh suami Cut Meutia yaitu  Teuku Chik Muhammad melawan Belanda yang terjadi dari Juni sampai Agustus 1902.

Akan tetapi  di bulan Januari 1903, tersiar berita bahwa Sultan Aceh dan  para panglimanya termasuk panglima Polim Muhammad Daud dan juga  para petinggi kerajaan lain menyerah atau turun gunung. Meskipun  kabar ini pada  awalnya diragukan oleh suami Cut Meutia akan tetapi ternyata kabar tersebut memang  benar adanya.

Menurut buku catatan “ Gedenkboek van het Korps Marechaussee van Atjeh en Onderhoorigheden “ pada tahun 1890 – 1940 disebutkan bahwa Teuku Chik Muhammad turun gunung serta  melapor di Lhokseumawe pada bulan Oktober tahun 1903.

Teuku Tunong dan Cut Meutia lalu  tinggal di wilayah Keureutoe akan tetapi  pindah ke wilayah Panton Labu. Akan tetapi  karena insiden yang terjadi di daerah Meunasah Meurandeh Paya membuat suami Cut Meutia, yakni Teuku Tunong  berhasil ditangkap oleh Belanda karena diduga telah  terlibat dalam pembunuhan pasukan Belanda. Suaminya tersebut lalu  dieksekusi dengan cara ditembak mati di tepi pantai Lhokseumawe.

Dari pernikahannya dengan Teuku Cik Tunong, Cut Meutia mempunyai  seorang anak yang  bernama teuku Raja Sabi. Namun sebelum  suaminya meninggal, Teuku Cik Tunong berwasiat kepada Pang Nangroe agar menikahi istrinya dan juga menjaga anaknya.

Perjuangan Cut Meutia dan Pang Nangroe Melawan Belanda

Cut Nyak Meutia diketahui kemudian menikah  lagi dengan Pang Nangroe sesuai  dengan wasiat dari suaminya terdahulu sebelum suaminya tersebut meninggal. Setelah menikah, perjuangan melawan Belandapun  kembali dimulai dengan basis perlawanan berada di daerah Buket Bruek Ja. Perlawanan Cut Nyak Meutia dilakukan dengan strategi yang telah  diatur oleh Pang Nangroe dengan taktik gerilya yaitu  di hutan – hutan dan selanjutnya menyerang pos – pos penjagaan pasukan Belanda.

Taktik Perang Gerilya

Pada tahun 1907, Pasukan Pang Nangroe bersama dengan  Cut Meutia menyerang pos dari pasukan Belanda yang mengaawal para pekerja kereta api. Penyerangan tersebut  membuat beberapa serdadu Belanda tewas dan yang lainnya mengalami  luka – luka. Di bulan Juni tahun  1907, Pasukan pang Nangroe selanjutnya  menyerang pos Belanda di daerah Keude Bawang yang mengakibatkan seorang serdadu Belanda tewas serta yang lainnya terluka. Dan juga  sabotase jalur logistik serta kereta api membuat, taktik perang gerilya yang dilakukan oleh Pang Nangroe bersama Cut Meutia tersebut berhasil membuat Belanda kesulitan dalam mengatasinya.

Belanda sempat mengetahui basis pertahanan dari Pang Nangroe dan Cut Meutia pada bulan Agustus 1910, akan tetapi  sebelum dilakukan pengepungan oleh Belanda, Pasukan Pang nagroe bersama dengan  Cut Meutia telah  berpindah tempat terlebih dahulu.

Perjuangan Cut Nyak Meutia bersama dengan suaminya tersebut  terus berlanjut dengan melakukan Penyerangan ke pos – pos Belanda guna  melemahkan kekuatan Belanda. Namun  pada bulan September 1910, Pang Nangroe gugur setelah ia terkena tembakan dari Belanda di wilayah Paya Cicem lalu  dimakamkan di samping masjid Lhoksukon.

Keteladanan dari seorang Cut Nyak Meutia bisa  dilihat dari perannya yang mengambil alih kepemimpinan pasukan serta  melanjutkan perlawanan nya terhadap  Belanda sepeninggal suaminya. Untuk itu basis pertahanan kemudian lalu  pindah ke Gayo dan Alas serta bergabung dengan pasukan lain yang dipimpin oleh Teuku Seupot Mata.

Cut Meutia Wafat

Pada  bulan Oktober 1910, Pasukan Belanda semakin mengintensif kan pengejaran terhadap pasukan Cut Meutia. Merasa  bahwa posisinya semakin terjepit dan terancam  membuat Cut Meutia memindahkan pasukannya dari gunung ke gunung untuk menghindari pengepungan yang dilakukan oleh  Belanda.

Akan tetapi  pada tanggal 24 Oktober 1910 di daerah Alue Kurieng, antara pasukan Belanda terjadi  pertempuran sengit terjadi antara pasukan yang dipimpin oleh Cut Meutia serta pasukan Belanda. Dalam pertempuran tersebut Cut Meutia akhirnya gugur. Sebelum wafat, Cut Meutia menitipkan anak nya kepada teuku Syech Buwah untuk dijaga.

Berkat  jasa – jasanya, Cut Meutia  dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Indonesia oleh pemerintah Indonesia melalui SK Presiden Nomor 107 / 1964 pada  tahun 1964. Pemerintah Indonesia juga mengabadikan nya dalam pecahan  uang mata uang seribu rupiah pada tahun 2016.

 

Baca Juga :