Categories
ENTERPRENEUR KISAH INSPIRATIF PEBISNIS SUKSES PENDIRI PERUSAHAAN

Biografi Chris Feng – CEO Shopee

Biografi : Chris Feng – CEO Shopee

Shopee adalah  perusahaan e-commerce yang berada di bawah naungan Garena ( berubah nama menjadi SEA Group ), yang merupakan perusahaan internet di Asia Tenggara. Menjalankan bisnis C2C mobilemarketplace, Shopee resmi diperkenalkan di Singapura pada tahun 2015 yang di ikuti dengan negara Malaysia, Filipina, Taiwan, Thailand, Vietnam, dan juga Indonesia.

Mengusung visi ” Menjadi C2C Mobile Market place Nomor 1 di Asia Tenggara “, Shopee yang berada di bawah naungan CEO, Chris Feng, yaitu seorang pria lulusan terbaik dari Universitas Nasional Singapura  yang memungkinkan bagi para penggunanya untuk membeli atau menjual barang dengan melalui aplikasi  yang tersedia di platform iOS dan Android.

Chris Feng adalah Chief Executive Officer Shopee. Chris mempunyai rekam jejak yang mapan di sektor e – commerce, media, serta teknologi. Sebelum fokus penuh di Shopee, Chris memulai dan juga mengelola divisi bisnis game seluler Garena selama sekitar 2 tahun. Sebelum itu, Chris menghabiskan lebih dari tiga tahun dengan Rocket Internet, mengambil peran sebagai Direktur Pelaksana Regional Zalora Asia Tenggara, serta Direktur Pelaksana Wilayah dan Chief Purchasing Officer Lazada Asia Tenggara. Sebelumnya, beliau  menghabiskan tujuh tahun di Mc Kinsey dan berbasis di Frankfurt, Kopenhagen, dan Singapura. Dengan beasiswa penuh yang berasal dari pemerintah Singapura, Chris lulus dengan First Class Honours dari National University of Singapore ( Sekolah Komputasi ), serta belajar Ilmu Manajemen dan Teknik di Universitas Stanford.

Chris sudah secara teratur diundang untuk berbicara di beberapa konferensi teknologi dan e-commerceyang terkenal di Jakarta, termasuk Indonesia E – Commerce Summit dan Expo ( IESE ) dan Tech in Asia Jakarta tahun 2016. Dalam konferensi Tech in Asia Jakarta 2016 baru – baru ini, Chris dipercaya untuk berbicara dengan tema “ E – Commerce yang Berkembang di Indonesia ”, dimana beliau  menjelaskan pandangannya mengenai perkembangan industri e-commerce di Indonesia. Menurut beliau, pasar e – commerce di negara ini masih terus berkembang serta juga  belum mencapai titik jenuh. Pengguna semakin pintar, karena mereka menjelajahi opsi belanja online baru untuk menyesuaikan kebiasaan mereka, yang serba cepat, komunikatif, dan juga dipenuhi dengan DNA sosial yang kuat.

Pasar e – commerce di Indonesia kini  semakin marak dengan terus bermunculannya marketplace. Tidak heran apabila market place asal Singapura, Shopee tidak ingin ketinggalan merebut pasar di Indonesia. Bagi seorang  CEO Shopee, Chris Feng, Indonesia adalah pasar potensial dengan penduduk yang mencapai 250 juta. Disamping itu, penetrasi internet di Tanah Air semakin tinggi dengan lebih dari 80 juta pengguna internet. Tentu saja hal ini merupakan pasar yang menggiurkan bagi Shopee yang telah diluncurkan sejak tahun lalu.

Chris Feng berfikir bahwa Indonesia adalah pasar yang besar dan berkembang, khususnya di kalangan anak muda. Oleh sebab itu beliau fokus pada segmen anak muda. Apalagi pertumbuhan kelas menengah di Indonesia juga cukup menjanjikan. Saat  ini juga merupakan waktu yang tepat bagi e – commerce untuk bermain di pasar yang besar ini. Terlebih lagi saat ini banyak anak muda yang menggunakan perangkat mobile dibandingkan  desktop. Mereka dapat  melakukan jual beli melalui perangkat yang ada. Kedepannya beliau akan memperbaiki aplikasi serta menghadirkan tools yang memudahkan penjual  untuk mengelola barang. Satu hal yang perlu di ingat, kontribusi Indonesia mencapai 20 – 30% dari total market Shopee.

Baca Juga :

Categories
ENTERPRENEUR PENGUSAHA

Profil Gibran Rakabuming Raka –  Pengusaha , Entrepeneur Inspiratif

Profil Gibran Rakabuming Raka –  Pengusaha , Entrepeneur Inspiratif

Nama : Gibran Rakabuming Raka
Tempat , tanggal lahir : Solo , 1 Oktober 1987
Orangtua : Joko Widodo dan Iriana
Saudara :
  • Kahiyang Ayu ( Adik )
  • Kaesang Pangarep ( Adik )
Istri : Selvi Ananda Putri
Pendidikan :
  • Orchid Park SecondarySchool, Singapura ( 2002)
  • Management Development InstituteofSingapore (MDIS) (2007)
  • Universityof Technology Insearch, Sydney, Australia ( 2010 )
Karier :
  • Ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Boga Indonesia (APJBI ) Kota Solo
  • Pemilik Katering Chilli Pari
  • Pemilik Kafe Markobar
  • Pemilik Pastel (Pasta Buntel )
  • Pemilik Icolor

Hidup mandiri ia jalani di luar negeri. Kembali ke Indonesia, ia menjadi entrepreneur dengan membuka lapangan kerja.

Gibran Rakabuming lahir di Solo, pada tanggal 1 Oktober 1987 dari pasangan Joko Widodo dan Iriana. Ia adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Kedua adiknya yaitu Kahiyang Ayu dan KaesangPangarep.

Setahun kelahirannya, namanya dijadikan sebagai nama perusahaan ayahnya yang bernama CV Rakabu yang bergerak dalam usaha mebel.

Gibran Rakabuming menghabiskan masa kecilnya di kota kelahirannya. Akan tetapi ,  sesudah  lulus SMP, Gibran kemudian  melanjutkan sekolah di Orchid Park SecondarySchool, Singapura. Kemudian ia , meneruskan studinya ke Management Development InstituteofSingapore (MDIS) dan Universityof Technology Insearch, Sydney, Australia yang tamat pada tahun 2010.

Gibran tinggal di luar negeri hampir selama 8 tahun dalam menyelesaikan sekolahnya. Ia tumbuh mandiri jauh dari kedua orangtuanya. Saat ia hidup berada  jauh dari keluarga, ayahnya di Indonesia menjadi orang penting.

Ketika itu, pada tahun 2005, ayahnya  Joko Widodo alias Jokowi menjadi walikota Solo untuk periode 2005-2010. Sekembalinya ke Indonesia, ayahnya mengalami kenaikan jabatan. Mulai dari walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta, hingga Presiden RI ke7, untuk periode 2014-2019.

Akan tetapi , bagi Gibran tidak menghalangi dirinya untuk berkarya serta bekerja dengan kemampuannya sendiri. Ia tidak mau memanfaatkan posisi orang tuanya. Ia justru mulai merintis dari bawah.

Sekembalinya ke tanah air, Gibran merintis bisnis cateringChilli Pari pada Desember 2010. Berkat usahanya tersebut, ia pun dipercaya sebagai ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Boga Indonesia (APJBI )  Kota Solo. Ia juga mendirikan House ofKnowledge yang berfungsi untuk melatih karyawan-karyawan lepas cateringChilli Pari terutama dalam berbahasa Inggris.

Bersama adiknya, yaitu KaesangPangarep, Gibran membuka bisnis Kafe Markobar yang pada awalnya hanya berdomisili di Solo. Kafe yang menjual aneka Martabak tersebut  sempat viral di media sosial.

Selang beberapa lama sesudah itu, Gibranpun menjajal bisnis baru di bidang reparasi produk kenamaan Apple dengan nama Icolor. Konsep yang ditawarkan juga menarik, karena customer hanya  tinggal menunggu di rumah, nanti tukang reparasi akan datang ke lokasi.

Pria yang mempunyai  jiwa wirausahainipun kembali bekerja sama dengan adik bungsunya untuk meramaikan bisnis e – commerce dengan berjualan jas hujan yang bertuliskan “Tugas Negara Bos! “  yang hanya dibandrol dengan harga  150ribuan.

Dalam hal asmara, pada bulan Juni 2015 Gibran pun menikah dengan Putri Solo Selvi Ananda Putri. Mereka telah di karuniai dua orang anak.

Ia pun mengarungi bahtera rumah tangga barunya dengan kehadiran sang bayi. Meskipun menjadi anak presiden, Gibran Rakabuming tetap menjalani kehidupannya seperti biasa dengan terus berinovasi untuk membuka lapangan kerja baru.

Baca Juga :

Categories
ENTERPRENEUR KISAH INSPIRATIF PENGUSAHA

Profil Niluh Djelantik – Designer Sepatu Sukses Asal Indonesia

Profil Niluh Djelantik – Designer Sepatu Sukses Asal Indonesia

Nama Lengkap : Niluh Putu Ary Pertami Djelantik
Tempat Lahir : Bangli , Indonesia
Tanggal Lahir : 15 Juni 1975
Profesi : Pengusaha , Perancang Sepatu

Riwayat Masa Kecil

Niluh Putu Ary Pertami Djelantik, atau yang lebih dikenal dengan nama Niluh Djelantik,  merupakan  seorang pengusaha dan juga sekaligus perancang sepatu Handmade kulit asal Bali dengan merk Niluh Djelantik.  Ia dilahirkan di Bangli, pada tanggal 15 Juni 1975.

Berasal dari keluarga yang sederhana, ia tinggal bersama dengan beberapa anggota keluarga lain seperti sepupu, paman, bibi, kakek, dan juga nenek di sebuah kamar kontrakan yang berada di Denpasar.  Keluarganya menghidupi diri dengan  berjualan di sebuah pasar yang berada  di daerah Denpasar yang tidak jauh dari kamar kontrakan tempat tinggalnya.

Meskipun masih belia, ia sudah bekerja sambilan di Toko Buku Abadi, membantu pemilik toko tersebut untuk menjaga toko.  Sebagai imbalan, ia diperbolehkan membaca buku – buku yang berada disana, dan juga  diperbolehkan untuk membawa pulang buku serta majalah yang tidak terjual.

Tidak hanya itu saja. Ia juga kerap kali membantu anggota keluarganya untuk berjualan di pasar sepulang sekolah.  Terkadang ia juga membantu tetangganya yang juga berjualan di pasar dan mempunyai  lapak yang tidak jauh dari milik keluarganya dengan imbalan diberikan pakaian gratis dari barang dagangan.

Awal Karir

Hingga pada tahun 1994, ia untuk pertama kalinya hijrah ke Jakarta dan menimba ilmu di Universitas Gunadarma jurusan manajemen keuangan.  Angan-angannya untuk mempunyai  sepatu yang pas di kaki masih membara lantaran sejak kecil ibunya tidak mempunyai  cukup uang untuk membelikannya sepatu yang pas.

Ibunya selalu membelikan sepatu sekolah dengan ukuran yang lebih besar dari ukuran kakinya, sehingga sepatu tersebut baru terasa pas di kaki disaat sudah rusak.

Sambil  berkuliah, ia menghidupi dirinya sendiri dengan bekerja sampingan di sebuah perusahaan tekstil asal Swiss sebagai operator telepon. Gaji pertamanya pada saat  bekerja sampingan di Jakarta ia gunakan untuk membeli sepasang sepatu di Blok M.

Ia berhasil memperoleh  sepatu yang pas dan sesuai dengan ukuran kakinya, akan tetapi  ternyata bahan sepatu tersebut tidak nyaman untuk digunakan. Seiring dengan kerja kerasnya dan membaiknya kondisi keuangannya, ia akhirnya berhasil memperoleh  sepatu yang pas dan nyaman di kakinya.

Kehidupannya yang aman dan tentram di Jakarta mulai terusik di saat hiruk pikuk krisis moneter menyergap ibu kota.  Niluh mulai merasakan ketidak nyamanan hingga sang ibu menyarankannya untuk kembali ke kampung halaman pada tahun 2001.

Sekembalinya ia ke Bali, ia memperoleh  tawaran pekerjaan di sebuah perusahaan fesyen milik Amerika Serikat, Paul Ropp. Ia dipercaya untuk memegang jabatan direktur pemasaran serta perusahaan tersebut terbilang sukses karena penjualan meningkat sebesar 330% dan juga butik berhasil dibuka di sepuluh tempat pada tahun pertama di tahun 2002.

Sang ibu sempat menawarkan dirinya untuk membeli sebuah pabrik kecil milik teman ibunya yang akan bangkrut.  Akan tetapi rencana tersebut tertunda karena ia ingin konsentrasi pada karirnya di Paul Ropp.  Pada tahun 2003, Niluh jatuh sakit pada saat sedang melakukan perjalanan bisnis ke New York.

Dokter menyarankannya untuk tidak melakukan perjalanan jauh dalam kurun waktu enam bulan, padahal banyak pekerjaan yang menuntutnya untuk melakukan perjalanan bisnis jarak jauh.  Seketika ia dilema untuk memilih tetap tinggal di New York atau kembali ke Bali.

Hingga pada akhirnya, ia harus meletakkan jabatannya sebagai Direktur Pemasaran di New York dan pulang untuk menetap di Bali.

Lahirnya Nilou

Pada saat memutuskan untuk kembali dan menetap di Bali, Niluh terbayang – bayang oleh obsesi masa lalunya akan sepatu. Dibandingkan item fesyenyang lain seperti tas, pakaian, aksesoris, ia lebih terobsesi untuk mengkoleksi alas kaki, akunya.

Ia menginginkan sepatu yanvbertumit setinggi 8-12 cm yang nyaman untuk digunakan hingga berjam- jam, yang akhirnya melahirkan merk dagang sepatu Nilou, pelafalan slang  Niluh di lidah bule.

Pada awal pendiriannya, Nilou hanya dapat menghasilkan satu desain sepatu dalam waktu dua bulan.  Berdiskusi dengan para  pengrajin adalah waktu yang paling lama di habiskan untuk membuat sepasang desain.  Penggemar sepatu Christian Louboutin dan Manolo Blahnik biasanya menunjukkan salah satu sepatu mahal koleksinya kepada para  pengrajin untuk dibuatkan yang lebih bagus.

Sejak awal mendirikan bisnis sepatu tersebut , ia berfokus pada sepatu berbahan kulit yang dikerjakan dengan tangan untuk menjaga kualitasnya. Hal tersebut yang menyebabkan ia sangat peduli terhadap  proses pembuatan, sehingga satu pengrajin dibebankan tanggung jawab untuk menyelesaikan sepasang sepatu, mulai dari memotong bahan, menjahit, hingga sampai membentuk hak sepatu.

Oleh karena  itu, ia dapat membedakan secara kasat mata setiap gaya pengrajin sepatunya pada desain-desain sepatu yang sudah dibuatnya.

Target pasarnya pun sejak awal sudah membidik kaum kalangan menengah keatas karena harga yang dibanderol untuk sepasang sepatu tidaklah murah, hingga mencapai 4 juta rupiah untuk sepasang sepatu.  Untuk pemasaran ia dibantu oleh sang suami yang berkewarganegaraan asing, akan tetapi  mempunyai  bisnis distribusi produk Indonesia ke Eropa.

Koleksi pertama Nilou tidak disangka-sangka laris manis di Perancis. Ia kebanjiran pesanan sebanyak 4.000 pasang sepatu.  Pada tahun 2004, ia meneken kontrak kerjasama outsourcedari jaringan ritel Topshop yang berpusat di Inggris.  Pintu perdagangan Nilou ke Eropa semakin terbuka lebar.

Di tahun yang sama, seorang yang bernama Sally Power yang  berasal dari negeri kangguru terpikat dengan sepatu rancangan Niluh dan menawarkan diri untuk memasarkan di Australia.  Disamping itu, di saat yang sama, seorang desainer internasional yang berproduksi atau mencari inspirasi di Bali ikut menggunakan  produknya.

Dari situ Niluh bisa berhubungan secara profesional dengan berbagai desainer internasional ternama seperti Nicola Finetti, Jessie Hill, Shakuhachi, dan Tristan Blair.

Sejumlah selebriti Hollywood papan atas pun menambah jejeran penggemar sepatu Nilou seperti Uma Thurman, Paris Hilton, GiseleBundchen, Tara Reid, dan RobynGibson.

Sepatu tersebut dengan cepat melebarkan sayap dan berhasil menempatkan diri di ratusan etalase di 20 negara di dunia, selain di kantor pusatnya di Bali.  Untuk memenuhi permintaan tersebut, ia dibantu oleh  22 pengrajin yang sudah menjadi karyawan tetap dan 3 asisten kepercayaan.

Pada tahun 2007 ditengah kejayaan merk Nilou, ia memperoleh  tawaran yaang menggiurkan dari agen Perancis dan Australia untuk memperluas jangkauan pasarnya, asalkan Nilou diproduksi secara massal di China dengan iming-iming sejumlah besar saham.

Dengan tegas ia menolak tawaran tersebut, karena tidak ingin sepatu yang dihasilkannya dari kerja kerasnya selama empat tahun di gudang kerja oleh buatan tangan tergantikan oleh mesin. Akan tetapi  keputusan tersebut ternyata menjadi bumerang sendiri bagi bisnisnya.

Diam-diam rekanan kerjanya tersebut sudah mempatenkan merk dagang Nilou, hingga kongsi bisnis tersebut akhirnya pecah.

Kebangkitan Niluh Djelantik

Nilou yang sudah  tumbuh bersamanya selama empat tahun harus di bunuh karena luput untuk di patenkan.  Tidak mau berlarut dalam kesulitan, ia kembali fokus mendesain sepatu untuk desainer asing.

Kali ini ia tidak ingin kehilangan merk dagangnya.  Ia meminta izin untuk menggunakan  nama marga keluarga sebagai merk dagangnya, yaitu “ Niluh Djelantik” seperti yang sudah  kita kenal sekarang.  Merk tersebut langsung dipatenkannya pada tahun 2008.

Setahun kemudian, pada  tahun 2009, sepatu hak tinggi rancangannya kembali melanglang buana ke mancanegara. Bahkan produknya kembali memikat salah satu aktris Hollywood ternama yaitu Julia Roberts, yang berkesempatan untuk bertandang ke Bali dalam rangka syuting film Eat, Pray, Love.

Pada tahun 2011, Niluh Djelantik mampu menembus retailer Eropa terkemuka, Globus Switzerland, serta bekerja sama dengan retailer di Rusia untuk memasarkan produknya di negeri Vladimir Putin tersebut.

Ia memperoleh  penghargaan Best Fashion Brand &Designer The Yak Awards pada tahun 2010 atas konsistensi dan juga  kerja kerasnya di industri fesyen sepatu.  Ia juga pernah di nominasikan oleh Ernst & Young dalam ajang Ernst & Young Entrepreneurial WinningWomen 2012 Awards.

Sejak tahun 2012 hingga kini, ia memutuskan untuk  mundur dari merk internasional untuk fokus melayani pelanggan individual dan menaikkan pamor citra merk Niluh Djelantik.  Untuk menyukseskan hal tersebut, maka ia memfokuskan diri untuk melakukan pemasaran di dalam negeri dengan membuka toko di Denpasar dan juga Jakarta.

Awal tahun 2018 silam, Niluh mengumumkan diri kepada pers akan bergabung ke salah satu partai di Indonesia dan bersiap untuk mencalonkan diri di bursa legislatif pada tahun 2019 mendatang. Ia terinspirasi dari Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk terjun ke dalam dunia politik demi memajukan Indonesia.

Baca Juga :

Categories
ENTERPRENEUR PEBISNIS SUKSES PENDIRI PERUSAHAAN PENGUSAHA

Biografi Ciputra – Pengusaha  Sukses Indonesia

Biografi Ciputra – Pengusaha  Sukses Indonesia

Ciputra – Beliau  dikenal sebagai salah satu contoh entrepreneur atau pengusaha  tersukses di Indonesia.  Beliau  dikenal sebagai konglomerat dan juga  pengusaha sukses di Indonesia. Ciputra  dikenal juga  sebagai raja properti di Indonesia. Beliau  adalah  pemilik Grup Ciputra yang mengelola perumahan elit Citraland. Kesuksesan yang dipdapatnya  tidak diraih secara instan. Beliau  bahkan terlahir bukan dari keluarga yang  kaya. Semuanya berkat kerja keras dan juga  kegigighannya dalam membangun bisnisnya sejak usia sangat muda.

Biodata Ciputra

Nama : Ir. Ciputra
Tempat, tanggal lahir : Parigi, Sulawesi Tengah , 24 Agustus 1931
Orangtua : Tjie Siem Poe ( Ayah ), Lie Eng Nio ( Ibu )
Istri : Dian Sumeler
Anak : Ciputra Sastrawinata, Junita Ciputra, Cakra Ciputra, Candra Ciputra
Dikenal : Pengusaha Pendiri Ciputra Group, Filantropi
Kekayaan : 20.4 Trilun Rupiah ( Globe Asia, 2018 )

Beliau mempunyai nama lengkap Dr. Ir. Ciputra. Beliau lahir di kota kecil Parigi, Sulawesi Tengah pada tanggal 24 Agustus 1931 dengan nama Tjie Tjin Hoan.  Beliau adalah  anak ke 3 dari pasangan Tjie Sim Poe dan Lie Eng Nio yang juga berlatar belakang  dari keluarga sederhana.

Masa Kecil

Pada saat  berusia 12 tahun beliau  kehilangan ayahnya yang meninggal  dunia di tahanan tentara pendudukan Jepang karena tuduhan palsu yang  di anggap  sebagai mata – mata Belanda. Kepahitan masa kecil sudah  menimbulkan tekad serta  keputusan penting yaitu mempunyai  cita – cita bersekolah di Pulau Jawa demi masa  depan yang lebih baik, bebas dari kemiskinan dan juga  kemelaratan.

Terlambat Bersekolah

Akhirnya Dr. Ir. Ciputra kecil kembali ke bangku sekolah meskipun  terlambat.  Beliau  terlambat karena negara kita ketika itu  masih  berada dalam suasana peperangan dengan tentara Belanda maupun Jepang.  Beliau  masuk kelas 3 SD di desa Bumbulan meskipun  usianya sudah 12 tahun atau terlambat hampir 4 tahun. Diketahui  bahwa pada saat  usianya 16 tahun  beliau lulus dari SD dan  kemudian melanjutkan SMP di Gorontalo dan jenjang SMA di Manado sesudah  itu memasuki ITB jurusan arsitektur di Bandung.

Keseluruhan pendidikan masa remaja Dr. Ir. Ciputra memang merupakan gabungan dari pendidikan yang akademis serta  juga non akademis, didalam kelas dan juga di luar kelas. Inilah hal  yang dapat disebut sebagai sekolah kehidupan yang membuat seseorang tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan juga  utuh. Oleh  sebab  itu tidak heran jika  saat ini beliau  berpendapat bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang membangun manusia dengan  seutuhnya dan beberapa cirinya adalah membangun moral, mendorong kreativitas serta  mendidik karakter – karakter mandiri siswa – siswinya.

Merintis Kerajaan Bisnis

Perjalanan bisnis Ciputra dirintis sejak  beliau masih menjadi mahasiswa arsitektur  di Institut Teknologi Bandung. Bersama Ismail Sofyan dan Budi Brasali, teman kuliahnya, sekitar pada  tahun 1957 Ciputra mendirikan PT Daya Cipta. Biro arsitek milik ketiga mahasiswa tersebut, sudah mendapatkan  kontrak pekerjaan yang  lumayan untuk masa itu, di bandingkan perusahaan sejenis yang  lainnya. Proyek yang mereka tangani antara lain gedung bertingkat sebuah bank di Banda Aceh.

Pada tahun 1960 Ciputra lulus dari ITB. Beliau  kemudian pindah ke Jakarta. Keputusan ini menjadi tonggak sejarah yang menentukan jalan hidup Ciputra serta  kedua rekannya tersebut . Dengan bendera PT Perentjaja Djaja IPD, proyek bergengsi yang ditembak  oleh Ciputra adalah pembangunan pusat berbelanjaan di kawasan senen.  Dengan berbagai cara, Ciputra  berusaha menemui Gubernur Jakarta ketika itu, Dr. R. Soemarno, untuk menawarkan proposalnya.

Gayung bersambut. Pertemuan dengan Soemarno selanjutnya  ditindak lanjuti dengan mendirikan PT. Pembangunan Jaya, setelah terlebih dahulu di rapatkan dengan Presiden Soekarno. Sesudah  pusat perbelanjaan Senen, proyek monumental Ciputra di Jaya selanjutnya adalah Taman Impian Jaya Ancol dan Bintaro Jaya. Dengan melalui perusahaan yang  40 % sahamnya dimiliki oleh  Pemda DKI inilah Ciputra menunjukkan  bahwa kelasnya sebagai entrepreuneur sekaligus seorang  profesional.

Pebisnis yang Handal

 Beliau  sangat handal dalam menghimpun sumber daya yang ada dengan menjadi kekuatan bisnis raksasa. Grup Jaya yang di dirikan pada tahun 1961 dengan modal Rp. 10 juta, saat ini  mempunyai  total aset sekitar Rp. 5 trilyun. Dengan didukung kemampuan lobinya, Ciputra secara bertahap juga mengembangkan jaringan perusahaannya di luar Jaya, yaitu  Grup Metropolitan, Grup Pondok Indah, Grup Bumi Serpong Damai, dan yang terakhir adalah Grup Ciputra.

Dalam Biografi Ciputra diketahui bahwa jumlah seluruh anak usaha dari Kelima grup  tersebut  tentu di atas seratus, karena anak usaha Grup Jaya saja 47 dan anak usaha Grup Metropolitan mencapai 54. Mengenai hal ini, secara berkelakar Ciputra mengatakan bahwa : jika  anak kita sepuluh, kita masih bisa mengingat namanya masing – masing. Akan tetapi  kalau lebih dari itu, bahkan jumlahnya pun susah untuk  di ingat lagi.

Karya – karya besar Ciputra begitu beragam, karena hampir semua subsektor properti di jamahnya.  Beliau  kini mengendalikan 5 kelompok usaha Jaya, Metropolitan, Pondok Indah, Bumi Serpong Damai, dan Ciputra Development yang masing – masing mempunyai  bisnis inti di sektor properti.

Membangun Berbagai Proyek Besar

Proyek kota barunya kini berjumlah 11 buah yang tersebar di Jabotabek, Surabaya, dan di Vietnam dengan luas lahan mencakup 20.000 hektar lebih. Ke- 11 kota baru tersebut  adalah Bumi Serpong Damai, Pantai Indah Kapuk, Puri Jaya, Citraraya Kota Nuansa Seni, Kota Taman Bintaro Jaya, Pondok Indah, Citra Indah, Kota Taman Metropolitan,  dan CitraRaya Surabaya.

Disamping  itu ada juga di Kota Baru Sidoarjo, dan Citra Westlake City di Hanoi, Vietnam. Proyek – proyek properti komersialnya, juga sangat berkelas serta menjadi trend setter di bidangnya. Lebih dari itu, proyek – proyeknya juga menjadi magnet bagi pertumbuhan wilayah di sekitarnya.

Fasilitas adalah  unsur ketiga dari 10 faktor yang menentukan kepuasan pelanggan. Konsumen harus di puaskan dengan pengadaan fasilitas umum dan  juga fasilitas sosial selengkapnya. Namun  fasilitas tersebut  tidak harus dibangun sekaligus pada tahap awal pengembangan.

apabila  fasilitas selengkapnya langsung di bangun, maka harga jual akan langsung tinggi. Hal ini tidak akan memberikan keuntungan kepada para pembeli pertama, selain juga merupakan resiko besar bagi pengembang. Ciputra mempunyai  saham di lima kelompok usaha ( Grup Jaya, Grup Metropolitan, Grup Pondok Indah, Grup Bumi Serpong Damai, dan Grup Ciputra ).

Dari Kelima kelompok usaha tersebut , Ciputra tidak menutupi bahwa sebenarnya beliau  meletakkan loyalitasnya yang pertama kepada Jaya. Pertama, karena  beliau  hampir identik dengan Jaya. Dari sinilah jaringan bisnis propertinya di mulai. Sejak perusahaan tersebut  di bentuk  pada tahun 1961, Ciputra duduk dalam jajaran di reksinya selama 35 tahun.

Dimana 3 tahun pertama sebagai di rektur dan 32 tahun sebagai direktur utama, hingga beliau  mengundurkan diri pada tahun 1996 lalu dan menjadi komisaris aktif. Kedua, adalah kenyataan bahwa sesudah  Pemda DKI, Ciputra merupakan pemegang saham terbesar di Jaya. PT Metropolitan Development merupakan  perusahaannya yang  beliau  bentuk pada tahun 1970 bersama Ismail Sofyan, Budi Brasali, dan beberapa mitra yang  lainnya. Kelompok usaha Ciputra ketiga adalah Grup Pondok Indah ( PT Metropolitan Kencana ) yang merupakan usaha patungan antara PT Metropolitan Development dan PT Waringin Kencana milik Sudwikatmono dan juga  Sudono Salim.

Grup ini antara lain mengembangkan Perumahan Pondok Indah serta Pantai Indah Kapuk. Kelompok usaha yang ke empat yaitu  PT Bumi Serpong Damai, yang didirikan pada awal tahun 1980 -an. Perusahaan ini adalah  konsorsium 10 pengusaha terkemuka antara lain Sudono Salim, Eka Tjipta Widjaya, Sudwikatmono, Ciputra dan Grup Jaya  yang mengembangkan proyek Kota Mandiri Bumi Serpong Damai seluas 6.000 hektar, proyek jalan tol BSD  Bintaro Pondok Indah, dan lapangan golf Damai Indah Golf.

Grup Ciputra

Grup Ciputra merupakan  kelompok usahanya yang Kelima. Grup usaha ini berawal dari PT Citra Habitat Indonesia, yang pada awal tahun 1990 di akui sisi seluruh sahamnya dan  juga namanya diubah menjadi Ciputra Development ( CD ). Ciputra menjadi dirutnya dan ke-enam jajaran direksinya di isi oleh anak serta  menantu Ciputra. Pertumbuhan Ciputra Development belakangan terasa menonjol dibandingkan  dengan ke-empat kelompok usaha Ciputra  yang lainnya.

Dengan usia yang paling muda, CD justru yang pertama go public di pasar modal pada bulan Maret 1994. Baru beberapa bulan kemudian Jaya Real properti menyusul. Total aktiva CD pada bulan Desember 1996 lalu berkisar Rp. 2,85 triliun, dengan laba pada tahun yang sama mencapai Rp. 131,44 miliar.

CD kini mempunyai  4 proyek skala luas yaitu  Perumahan Citra 455 Ha, Citraraya Kota Nuansa Seni di Tangerang seluas 1.000 Ha, Citraraya Surabaya 1.000 Ha, serta  Citra Indah Jonggol. 1.000 Ha. Belum lagi proyek – proyek hotel dan  juga mal yang di kembangkannya, seperti Hotel dan Mal Ciputra, dan juga  super blok seluas 14,5 hektar di kawasan Kuningan Jakarta. Grup Ciputra juga mengembangkan Citra Westlake City  dengan luas 400 hektar di Ho Chi Minh City, Vietnam. Pembangunan nya di proyeksikan selama 30 tahun dengan total investasi sebesar  US$2,5 miliar.

Disamoing itu, CD juga menerjuni bisnis keuangan melalui Bank Ciputra, serta  bisnis broker melalui waralaba Century 21. Sejak beberapa tahun lalu, Ciputra menyatakan  bahwa Kelima grup usahanya , terutama untuk proyek – proyek propertinya  ke dalam sebuah aliansi pemasaran.

Aliansi tersebut  semula diberi nama Sang Pelopor, namun  telah diubah menjadi si Pengembang.

Keluarga Ciputra

Diketahui bahwa  beliau menikah dengan Dian Sumeler. Dari pernikahannya tersebut, Ciputra memiliki  empat orang anak yang  bernama Rina Ciputra Sastrawinata, Junita Ciputra, Cakra Ciputra,  dan Candra Ciputra.

Kekayaan Ciputra

Ciputra dikenal sebagai seorang pelopor pembangunan kota berskala besar. Ciputra menekankan pentingnya menyebarkan semangat kewirausahaan. Ciputra merupakan  seorang pengusaha yang sangat menyukai seni.  Beliau  juga adalah  salah satu filantropis terbesar di Indonesia.

Menurut data yang diambil dari majalah Globe Asia  pada tahun 2018, PT Ciputra Development Tbk berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp1,3 triliun pada kuartal pertama 2018. Total kekayaan Ciputra menurut data dari majalah Globe Asia pada  tahun 2018 sejumlah 20.4 Trilun Rupiah.  Beliau  menempati posisi 31 dalam daftar orang terkaya di Indonesia.

 

Wafat

Pengusaha sukses ini meninggal dunia dalam usia 88 tahun,Ir Ciputra meninggal dunia di Singapura pada hari  Rabu 27 November 2019, pada  pukul 01.05 waktu setempat singapore .

Baca Juga :

Categories
ENTERPRENEUR KISAH INSPIRATIF

Profil Angkie Yudistia – Penyandang Disabilitas Yang Menjadi Staf Khusus Presiden Jokowi

Profil Angkie Yudistia – Penyandang Disabilitas Yang Menjadi Staf Khusus Presiden Jokowi

Angkie adalah satu – satunya staf khusus presiden yang menyandang disabilitas . Wanita berumur 32 Tahun ini kehilangan pendengarannya sejak usia 10 tahun.

Ia adalah lulusan SMAN 2 Bogor . Kemudian ia melanjutkan sekolahnya di London School of Publik Relations Jakarta , dan mendapatkan gelar master di bidang ilmu komunkiasi di perguruan tinggi yang sama .

Meskipun demikian , ia adalah sosok yang berprestasi . Pada tahun 2008 , ia pernah di dapuk sebagai salah satu finalis Abang None Jakarta . Masih pada tahun yang sama , ia juga di dapuk sebagai “ The Most Fearless Female Cosmopolitan 2007 “ .

Bersama dengan teman-temanya ia mendirikan Thisable Enterprise untuk membantu memberdayakan mereka yang mempunyai keterbatasan .

Ia juga bekerjasama dengan Gojek dalam mempekerjakan orang disabilitas di Go-Auto dan Go-Glam.

Baca Juga : 

Categories
ENTERPRENEUR KISAH INSPIRATIF

Profil Aminuddin Ma’ruf – Nahdliyin Muda Yang Menjadi Stafsus Presiden Jokowi

Profil Aminuddin Ma’ruf – Nahdliyin Muda Yang Menjadi Stafsus Presiden Jokowi

Aminuddin Ma’ruf ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo  sebagai staf khusus  atau  stafsus. Aminuddin sebagai seorang relawan Jokowi dari kalangan anak muda Nahdlatul Ulama ( NU ).

Aminuddin Ma’ruf adalah Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia ( PMII ) periode 2014 – 2016. Amminudin ini lahir pada tanggal  27 Juli 1986. PMII sendiri dikenal sebagai organisasi kepemudaan yang dekat dengan Nahdlatul Ulama ( NU ).

Dilansir situs NU Online, Aminuddin adalah  seorang sarjana dari  Universitas Negeri Jakarta ( UNJ ) dan melanjutkan S2 di Universitas Trisakti, Jakarta.

Aminuddin terpilih menjadi Ketum PB PMII periode  tahun 2014 – 2016 lewat Kongres Jambi yang berlangsung pada  tanggal 30 Mei – 10 Juni 2014. Sebelumnya, dia menjabat Ketua Biro Pemberdayaan Ekonomi.

Usai tidak menjadi Ketum PB PMII, Aminuddin Ma’ruf kemudian selanjutnya  menjadi Sekretaris Jenderal Solidaritas Ulama Muda Jokowi ( Samawi ), relawan pendukung Jokowi – Ma’ruf pada Pilpres 2019.

Saat ini  Aminuddin Ma’ruf sudah  resmi ditunjuk oleh Presiden Jokowi sebagai stafsus. Aminuddin ditugasi oleh Jokowi untuk berkeliling ke pondok pesantren untuk menebarkan gagasan inovasi baru.

Baca Juga :

Categories
ENTERPRENEUR KISAH INSPIRATIF WANITA

Profil Ayu Kartika Dewi –  Staf Khusus Presiden  Jokowi

Profil Ayu Kartika Dewi –  Staf Khusus Presiden  Jokowi

Tujuh staf khusus ( stafsus ) dari kalangan milenial telah dipilih oleh  Presiden Joko Widodo atau Jokowi di Istana Merdeka. Salah satunya adalah Ayu Kartika Dewi . Ayu Kartika Dewi,  merupakan penggagas dan salah satu pendiri Sabang Merauke sebagai salah satu wanita inspiratif pilihan Wardah Inspiring Movement.

Ayu Kartika Dewi  adalah salah satu anak muda yang mempunyai  misi mulia untuk merekatkan persatuan di tengah kebhinekaan, menjadi pendiri serta  mentor lembaga Sabang Merauke 1000 Anak Bangsa Merantau untuk Kembali.

Ayu adalah lulusan pascasarjana Duke University Fuqua School of Business, Amerika. Dia berhasil sekolah dan lulus dari universitas tersebut dengan beasiswa Keller Scholarship dan Fulbright Scholarship.   Di usia 27 tahun kariernya terbilang cemerlang. Perempuan berjhijab ini juga memegang jabatan sebagai  Manajer Consumer Knowledge Procter and Gamble ( P & G ) cabang Singapura. Dia sekaligus sebagai Initiator dan Co – Founder dari organisasi SabangMerauke. Organisasi tersebut menyelenggarakan program pertukaran pelajar antar daerah di Indonesia.

Ayu mendirikan organisasi tersebut  sekitar 2010 – 2011 di ilhami dengan pengalamannya pada saat  menjadi guru SD di pelosok Maluku Utara. Saat ini Ayu menjabat sebagai mentor pada Board of Directors SabangMerauke.

Perempuan berkulit sawo matang ini juga mempunyai  hobi berpetualang dan senang memainkan piano, gitar, dan  juga biola. Akan tetapi , mengajar adalah hal yang paling diminati.

Ayu Kartika Dewi juga merupakan Direktur Pelaksana Indika Foundation. Indika Foundation berfokus pada  dalam menciptakan dampak dalam pendidikan perdamaian serta  pembangunan karakter. Enam tahun lalu, Ayu ikut mendirikan organisasi perdamaian pemenang penghargaan yang bernama SabangMerauke. Dia pun pernah menjadi staf di Unit Kerja Presiden ( UKP4 ).

Dia pun pernah bekerja sebagai Consumer Insight Manager di Procter dan Gamble Asia ( kantor Singapura dan Jakarta ) selama 5 tahun dan  pernah bergabung dengan McKinsey & Co.

Baca Juga :

Categories
ENTERPRENEUR KISAH INSPIRATIF

Gracia Billy Mambrasar – Anak Penjual Kue Yang Menjadi Stafsus Presiden

Gracia Billy Mambrasar – Anak Penjual Kue Yang Menjadi Stafsus Presiden

Gracia Billy Mambrasar ditunjuk menjadi staf khusus  atau stafsus Presiden Joko Widodo. Billy dikenal sebagai pendiri yayasan Kitong Bisa, yang bergerak pada  bidang pendidikan untuk anak Papua yang  kurang mampu.

Pemuda berusia  30 tahun asal Serui, Kepulauan Yapen, Papua, ini menempuh pendidikan hingga Oxford Inggris. Dia yang kini menjadi wirausahawan sosial ( sosiopreuner ) juga pernah ikut kontes bernyanyi, Indonesian Idol pada tahun  2006.

Gracia Billy Yosaphat Y Mambrasar berasal dari keluarga  yang kurang mampu. Ayahnya merupakan  guru honorer  yang bergaji tidak menentu. Ibunya berjualan kue di pasar.  Akan tetapi  pendidikan Billy terbantu karena sejak SMA dia memperoleh  beasiswa dari Pemerintah Provinsi Papua.

Billy kemudian melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB. Biaya kuliah ditanggung oleh beasiswa afirmasi serta  otonomi khusus dari pemerintah. Selama kuliah, dia berjualan kue, aktivitas lama sempat di tinggalkannya. Dia juga kerap bernyanyi di kafe untuk menambah uang sakunya.

Lulus kuliah, dia sempat bekerja dengan gaji tinggi di sebuahbperusahaan minyak asal Inggris. akan tetapi  perkerjaan  tersebut  ia tinggalkan karena ingin berkiprah untuk Indonesia. Pada tahun  2009, dia mendirikan yayasan Kitong Bisa untuk membantu pendidikan anak – anak Papua yang kurang mampu. Kini Kitong Bisa mempunyai  9 pusat belajar, 158 relawan, dan 1.100 anak. Sebanyak 20 anak didiknya menempuh pendidikan tinggi di kampus ternama di dunia. Billy juga menyabet gelar Master of Business Administration ( MBA ) dari The Australian National University ( 2013 – 2014 ). Dia juga menyabet gelar Master of Science ( MSc ) dengan tesis keberlanjutan sosial dalam proyek LNG.

Billy juga merupakan Direktur PT Papua Muda Inspiratif. Dia juga menjadi Duta Pembangunan Berkelanjutan Indonesia. Pada saat  Presiden Jokowi meresmikan Papuan Youth Creative Hub, di Jayapura, 11 September lalu, Billy mempresentasikan rencana strategis dari Pusat Pengembangan di Papua tersebut.

Sat ini , Billy telah ditunjuk oleh Presiden Jokowi sebagai stafsus. Billy mengajak Jokowi untuk membangun Indonesia dari Papua. Billy mempunyai  pengalaman melatih anak muda Papua menjadi pengusaha. Pengalaman inilah yang akan ia bawa untuk membantu pemerintahan Jokowi.

Baca Juga :

Categories
ENTERPRENEUR KISAH INSPIRATIF

Andi Taufan Garuda Putra – CEO Amartha Yang Menjadi  Stafsus Jokowi

Andi Taufan Garuda Putra – CEO Amartha Yang Menjadi  Stafsus Jokowi

 Andi Taufan Garuda Putra  terpilih sebagai staf khusus Presiden Joko Widodo atau Jokowi  pada hari kamis 21 November 2019 . Presiden Joko Widodo atau Jokowi baru saja mengumumkan tujuh staf khusus atau stafsus yang akan  mendampinginya bekerja di periode kedua. Para staf khusus ini sebagian besar berasal dari kalangan muda alias kalangan  milenial.

Andi Taufan Garuda Putra adalah  pendiri dan Chief Executive Officer ( CEO ) perusahaan teknologi finansial peer – to – peer landing bernama PT Amartha Mikro Fintek. Lulus dari Institut Teknologi Bandung jurusan Manajemen Bisnis, pria berusia 32 tahun ini  melanjutkan pendidikan di Harvard University dan meraih gelar Master of Public Administration pada  tahun 2016.

Sebelum memperoleh gelar master, ia sempat bekerja sebagai konsultan untuk IBM Global Business Services. Dari sini ia melihat banyak masyarakat yang kesulitan  dalam memperoleh  akses finansial. Taufan kemudian  keluar dari pekerjaan rutinnya  tersebut  pada tahun  2009 dan mendirikan perusahaan rintisan atau startup Amartha setahun kemudian. Keinginannya pada saat  itu adalah memberikan akses keuangan kepada masyarakat desa, terutama yang terlilit hutang rentenir. Pola pembiayaan yang ia gunakan pada  awalnya menggunakan  pembiayaan kelompok. Sistemnya mirip dengan Grameen Bank yang dibuat oleh peraih Nobel perdamaian, Muhammad Yunus, di Bangladesh.

Taufan selanjutnya  datang ke desa – desa untuk melakukan sosialisasi tentang  keuangan mikro kepada ibu rumah tangga yang ingin memulai usaha. Dengan modal awal Rp 10 juta, ia membuat kelompok – kelompok pembiayaan tersebut.  Selesai dari  studi di Harvard, Taufan kemudian  mengubah Amartha dari lembaga keuangan mikro konvensional menjadi peer – to – peer lending. Cara ini membuatnya berhasil  dalam menghubungkan investor dengan pengusaha mikro di pedesaan yang memerlukan  pendanaan. Amartha juga menerapkan pendekatan syariah atau bagi hasil.

Bersama dengan  timnya, Taufan mengembangkan proprietary risk algorithm berdasarkan  pada data perilaku dan transaksi sehingga teknologinya  dapat  memberi penilaian terhadap profil risiko calon peminjam.

Keberhasilan ini membuat Amartha meraih penghargaan Anugerah Syariah Republika 2019 . Perusahaan di anggap sukses  dalam memberikan pembiayaan usaha mikro untuk kategori fintech syariah. Taufan juga telah menerima beragam penghargaan, termasuk  “ Entrepreneur of the Year Finalist dari Ernest & Young “ , “  Satu Indonesia Award dari Astra Internasional “ ,  “ Ashoka Young Change Makers Awards “ , “ Global Shaper dari World Economic Forum “ ,  “ Indonesia’s Inspiring Youth and Women dari Indosat “ , “ Laureate Global Fellow “ ,  “ Ganesha Innovation Championship, dan UN Capital Development Fund “  kategori startup keuangan inovatif.

Baca Juga :

Categories
ENTERPRENEUR KISAH INSPIRATIF PENDIRI PERUSAHAAN

Profil Adamas Belva Syah Devara – CEO Ruang Guru Yang Menjadi Staf Khusus Presiden

Profil Adamas Belva Syah Devara – CEO Ruang Guru Yang Menjadi Staf Khusus Presiden

Adamas Belva Syah Devara adalah  salah satu staf khusus Presiden Joko Widodo yang di perkenalkan pada  hari Kamis 21 November 2019 di Istana Negara, Jakarta.  Belva, berusia 29 tahun, lulusan Massachusetts Institute of Technology, Stanford University, dan Harvard university, secara berturut – turut. Menurut Belva, stafsus presiden dari kalangan milenial memiliki  rasa dan juga  kemasan  yang berbeda dibandingkan  stafsus yang  lainnya

Adamas Belva Syah Devara adalah pengusaha muda yang di kenal sebagai Pendiri sekaligus  Direktur Utama ( CEO ) dari perusahaan startup di bidang pendidikan dan teknologi terbesar di Indonesia, Ruangguru. Pada tahun 2017, ia terpilih sebagai salah satu dari 30 pengusaha muda paling berpengaruh di Asia oleh Forbes Magazine.

Pada tahun 2013, Belva menjadi orang Indonesia pertama yang di terima di program gelar ganda di Harvard University, Cambridge, Massachusetts dan Stanford University, Palo Alto, California serta  sekaligus, dua universitas paling bergengsi di dunia.

Di Harvard University ia mengambil jurusan Master of Public Administration  ( Kebijakan Publik ). Sedangkan di Stanford University, ia mengambil jurusan Master of Business Administration ( Bisnis Manajemen ).

Baca Juga :