Biografi Haile Selassie – Kaisar Etopia

Posted on

Biografi Haile Selassie – Kaisar Etopia

Haile Selassie adalah Kaisar Etiopia yang memerintah sejak  2 April 1930 hingga 12 September 1974.  Beliau  dikenal sebagai kaisar yang melakukan modernisasi terhadap Etiopia baik di sektor sosial, ekonomi, maupun pendidikan. Di bawah kepemimpinan Selassie, Etiopia menjadi kekuatan politik  yang berpengaruh di Afrika pasca Perang Dunia II.

Dia membawa Etiopia masuk ke Liga Bangsa – bangsa sebelum kemudian menjadi PBB, dan Organisasi Persatuan Afrika ( kini Uni Afrika ). Pengaruh Selassie sampai hingga  di Jamaika di mana sang kaisar diyakini sebagai juru selamat, dan memunculkan pergerakan yang  bernama Rastafari.

Masa Kecil

Lij Tafari Makonnen lahir pada  tanggal 23 Juli 1892 di desa Ejersa Goro, Provinsi Harar.  Beliau adalah  anak dari Ras ( Pangeran ) Makonnen Woldemikael Gudessa.  Beliau  berasal dari Dinasti Solomon yang diyakini merupakan keturunan  dari tokoh Alkitab, Raja Solomon ( Salomo ) dari Israel, dan Ratu Sheba. Bersama dengan sepupunya Imru Haile Selassie, Tafari memperoleh pendidikan di bawah bimbingan misionaris Perancis. Di usia muda, Tafari menunjukkan keunggulan intelektual sehingga mendapat jabatan sebagai gubernur di Sidamo pada tahun  1907. Kematian saudaranya, Yelma, membuat jabatan gubernur di Harar kosong sementara ayah mereka meninggal setahun sebelumnya. Jabatan tersebut sempat diisi oleh jenderal kepercayaan dari Kaisar Menelek II,  yaitu Dejazmach Balcha Safo. Akan tetapi, pemerintahannya yang tidak efektif membuat Safo dicopot, sehingga Tafari menggantikannya pada  tahun 1911.

Mendapat Jabatan sebagai Wali Raja

 Ketika Menelek II meninggal  dunia pada tahun  1913, cucunya Lij Iyasu naik menggantikannya. Akan tetapi , dia disorot karena dianggap tidak cakap dan terlalu dekat dengan salah satu kalangan. Tafari selanjutnya  bergabung dengan pergerakan yang berhasil menggulingkan Iyasu di  tahun 1916 yang kemudian dipenjara seumur hidup.

Baca Juga :   Biografi Dan Kisah Umar Bin Khattab

Putri Menelek II, Zewditu, kemudian naik menjadi kaisar pada  tahun 1917 di mana Tafari menjadi wali sekaligus putra mahkota. Pada saat pemerintahan Zewditu terkesan konservatif, Tafari menjadi idola kaum muda Etiopia karena sangat progresif. Antara lain pada  tahun 1923, di mana Tafari sukses mendaftarkan Etiopia sebagai anggota dari Liga Bangsa – bangsa. Di tahun yang sama juga ,  beliau  menjadi salah satu penguasa Etiopia pertama yang berkunjung ke luar negeri seperti Roma, Paris, dan London.

Dinobatkan sebagai Kaisar

Tafari mulai mendapat tangan pada saat  Balcha Safo datang ke Addis Ababa dengan sejumlah besar pasukan. Ketika  datang, Safo memberi hormat kepada Kaisar Zewditu sehingga si kaisar mencoba menjatuhkan Tafari dengan tuduhan pengkhianatan. Puncaknya adalah pada September 1928, terjadi percobaan untuk menggulingkan Tafari sebagai Putra Mahkota yang sah.

Percobaan tersebut  gagal di mana pemimpin serangan malah bersembunyi di mausoleum Menelek II karena dikelilingi pengikut Tafari. Kaisar Zewditu mengalah. Pada  tanggal 7 Oktober 1928, beliau  menggelar penobatan kepada Tafari dengan gelar Negus ( Raja ).pada tanggal  2 April 1930, Zewditu meninggal dunia  karena mengalami demam dan komplikasi dari penyakit diabetes yang dideritanya. Akan tetapi , rumor yang  merebak dia meninggal setelah mendengar suaminya, Ras Gugsa Welle, terbunuh dalam Perang Anchem melawan pasukan Tafari. Dengan mangkatnya Zewditu, Tafari kemudian di nobatkan sebagai Kaisar Etiopia dengan nama Haile Selassie pada  tanggal 2 November 1930.

 Penobatan tersebut  dihadiri sejumlah penguasa maupun pejabat dunia antara lain Duke of Gloucester Inggris, dan Pangeran Udine yang  mewakili Kerajaan Italia. Pada  tanggal 16 Juli 1931, Haile Selassie memperkenalkan konstitusi modern pertama Etiopia yang membatasi kekuasaan parlemen. Selama masa pemerintahannya,  beliau memperkuat polisi, mengenalkan sekolah provinsi, dan melarang pajak feodal.

Baca Juga :   Biografi Mark Zuckerberg - Kisah Sang Pendiri Facebook

Konflik dengan Italia dan Diasingkan

Etiopia menjadi target dari rezim Fasis Italia di bawah pimpinan Benito Mussolini yang bangkit pada dekade 1930 -an. Italia bermaksud  untuk membalas dendam atas kekalahan mereka dalam Perang Italo – Abyssinian I yang berlangsung  pada tahun 1895 – 1896 dan Perang Adwa. Perang Italo – Abyssinian II dimulai pada tanggal  3 Oktober 1935 pada saat  Italia melakukan invasi di Walwal, Provinsi Ogeden. 5 Mei 1936, Italia mengklaim memenangkan perang pada saat tentara pimpinan Marsekal Pietro Badoglio memasuki Adis Ababa. Mussolini selanjutnya mendeklarasikan Etiopia sebagai bagian dari provinsi Italia dengan mengangkat Victor Emanuel III sebagai Kaisar Etiopia. Selassie dilengserkan dari tahta dan di asingkan ke Bath, Inggris. Sebelum di asingkan, beliau  mengangkat sepupunya, Ras Imru Haile Selassie sebagai Wali Kuasa. Beliau  kemudian meminta bantuan Liga Bangsa – bangsa melalui pidato yang menyentuh di Jenewa, Swiss, pada tanggal  30 Juni 1936. Ketika Perang Dunia II berkecamuk, beliau  meminta bantuan kepada  Inggris untuk membentuk pasukan berisi orang Etiopia yang di asingkan di Sudan. Pada tanggal  18 Januari 1941 pada saat  perang di Front Afrika Timur, Selassie menyeberangi perbatasan Sudan – Etiopia menuju desa Um Iddla.  Beliau  kemudian memasuki Addis Ababa pada  tanggal 5 Mei 1941 setelah Italia kalah dari pasukan gabungan Inggris, Persemakmuran, Perancis, Belgia, dan Etiopia.

Periode Kedua Kekuasaan Setelah Kembali Bertahta

Selassie kemudian melakukan serangkaian pergerakan untuk memodernisasi Etiopia. Pada tanggal  27 Agustus 1942, beliau  mengumumkan adanya hukum awal soal penghapusan dan memberi hukuman mati bagi pelaku perdagangan manusia. beliau  juga memperkenalkan skema pajak progresif. Akan tetapi, rencananya mendapat tantangan dari kaum bangsawan sehingga beliau  terpaksa mengadopsi skema datar.

Baca Juga :   Biografi Leonardo Da Vinci – Seniman  Yang Jenius

Ketika  merayakan 25 tahun beliau  berkuasa, Selassie memperkenalkan konstitusi baru pada November 1955. Konstitusi tersebut memperluas partisipasi publik untuk berpolitik dengan membentuk majelis rendah di parlemen. Disamping  itu, melalui konstitusi tersebut, semua orang sama di mata hukum. Akan tetapi  di sisi lain, konstitusi  tersebut juga mengukuhkan tahtanya.  Beliau  memainkan peranan penting dalam kancah politik Afrika dengan mendirikan Organisasi Persatuan Afrika pada tahun  1963.

Akhir Kekuasaan Kedua

Di masa akhir periode kedua tahtanya, penegakkan hak asasi manusia di Etiopia dilaporkan sangatlah buruk. Pelanggaran HAM yang paling sering di catat pemenjaraan dan penyiksaan terhadap lawan politik,  dan juga  kondisi penjara yang memprihatinkan. Pada awal  tahun 1970 -an, rezim Selassie digoyang dengan adanya kelaparan Wollo, kawasan timur laut Etiopia, dan menewaskan 80.000 orang Etiopia. Kelaparan, pengangguran, dan  juga ketidakcakapan Adis Ababa dalam merespon permasalahan negara membuat revolusi merebak di  tahun 1974.

Kalangan militer kemudian melakukan kudeta yang menggulingkan tahta Selassie pada tanggal  12 September 1974. Militer selanjutnya  mendirikan pemerintahan dengan mengangkat Jenderal Aman Mikael Andom sebagai kepala negara. Selassie kemudian di tempatkan sebagai tahanan rumah di Divisi Militer Keempat di Addis Ababa, sedangkan dua lainnya di kediaman mendiang Duke of Harar.

 

Wafat

Pada  tanggal 27 Agustus 1975, Selassie dilaporkan meninggal dunia karena  mengalami kegagalan pernapasan dan  komplikasi penyakit prostat. Akan tetapi , beredar rumor bahwa sang kaisar di bunuh, di mana jenazahnya ditemukan di bawah toilet kawasan istana di  tahun 1992. Kemudian November 2000, jenazah Selassie memperoleh  pemakaman yang layak dengan dibaringkan di Katedral Trinity Addis Ababa.

Baca Juga :